Orang datang ke kantor hukum bukan karena ingin. Ia datang karena sudah tidak punya pilihan. Anaknya ditahan, tanahnya diklaim orang, usahanya digugat, atau namanya tiba-tiba tercantum dalam berkas yang tidak ia pahami. Ia membawa map lusuh berisi surat-surat yang tidak bisa ia baca dan ketakutan yang bisa ia rasakan di perut. Pada saat itu ia sedang berada pada titik terlemahnya, dan ia menyerahkan titik itu kepada orang yang ia sebut “Bapak” atau “Pak Pengacara”.
Di sinilah mafia hukum bekerja. Mereka tidak mencuri apa pun. Orang itu sendiri yang menyerahkan segalanya: dokumen, uang muka, rahasia, dan yang paling berharga, kepercayaan. Pencuri biasa harus membobol pintu. Mafia hukum cukup duduk di balik meja jati dan menunggu pintu dibukakan dari dalam.
Mereka tidak menjual keadilan. Keadilan tidak bisa dijual karena ia bukan barang. Yang mereka jual adalah akses terhadap sesuatu yang sengaja dibuat gelap dan rumit. Hukum yang dibuat dalam bahasa yang hanya dimengerti segelintir orang itulah modal dagangnya. Kerumitan itu bukan kecelakaan. Ia dirawat dan dipertahankan, sebab setiap kerumitan adalah jam kerja yang bisa ditagih, dan setiap kebingungan adalah kebutuhan akan perantara.
Saya ingin menulis tentang mereka tanpa nada khotbah. Khotbah terlalu murah untuk persoalan ini, dan para korban sudah kenyang oleh orang yang prihatin tapi tidak berbuat apa-apa. Saya ingin menulis seperti orang yang mengintip dari balik tirai ke ruangan tempat kesepakatan dibuat, sambil bertanya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala orang-orang itu, dan mengapa kita membiarkannya, sampai saya menulispun pernah menjadi korban betapa biadapnya mereka.
Ujian yang Tak Pernah Diumumkan
Ada tahap yang jarang dibicarakan dalam kerja mafia hukum: tahap menimbang korban. Pertemuan pertama tampak seperti konsultasi biasa, tetapi sebenarnya ujian. Pertanyaan yang tampak ramah dilempar satu per satu. Sudah pernah berurusan dengan hukum? Tahu prosesnya? Ada keluarga yang paham? Sudah ke pengacara lain? Setiap jawaban dicatat bukan di buku, melainkan di kepala, dan dari catatan itu ia menyusun peta: seberapa tebal dompet orang ini, seberapa dalam ketakutannya, dan seberapa jauh ia bisa dibawa.
Orang yang gugup dan polos adalah tambang emas. Orang yang bertanya tajam, minta rincian biaya tertulis, dan menyebut nama pengacara lain adalah ancaman, dan ia akan diperlakukan dengan sopan sambil dijauhkan. Dari sini kita paham bahwa kecerdasan korban bukan sekadar bahan pengamatan. Ia adalah variabel harga. Makin sedikit yang diketahui klien, makin mahal “jasa” yang bisa dijual.
Saya pernah senyum tipis dan tidak terkejut dengan pengalaman ini. Tetapi pelajarannya bisa dipakai siapa pun yang haus akan kuasa: kenali manusia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana seharusnya. Manusia, katanya, pada umumnya tidak tahu terima kasih, mudah berubah, dan menghindari bahaya. Mafia hukum membaca kalimat itu bukan sebagai peringatan moral melainkan sebagai manual. Mereka tahu orang yang ketakutan akan membayar apa saja untuk merasa aman, dan akan berterima kasih kepada orang yang memerasnya selama ia merasa sedang ditolong.
Bahwa lebih aman ditakuti daripada dicintai jika harus memilih salah satu. Mafia hukum memilih keduanya dengan kecerdikan yang menjijikkan. Mereka membuat korban takut pada hukum, lalu membuat korban bergantung dan bersyukur kepada mereka. Ketakutan itu dipompa pelan-pelan: “Kasus kamu ini berat, lho.” “Hakimnya ini agak sulit.” “Kita harus hati-hati, jangan sampai salah langkah.” Setiap kalimat adalah tetesan racun yang manis, dan korban meminumnya sambil mengucapkan terima kasih.
Seni Menggantung
Lalu muncul keterampilan paling khas dari mafia hukum, yaitu seni menggantung perkara. Kasus tidak dimenangkan dan tidak pula dikalahkan. Ia dibiarkan mengambang, seperti orang yang digantung dengan tali yang sengaja dipanjangkan agar kakinya hampir menyentuh tanah tetapi tidak pernah sampai.
Penundaan adalah mata uangnya. Sidang diundur karena “berkas belum lengkap”. Saksi “belum bisa hadir”. Ada “pergantian majelis”. Ada “eksepsi yang perlu dipelajari”. Setiap alasan mungkin sah secara prosedur, dan itulah kejeniusan kejahatan ini: ia berlindung di balik prosedur yang sah. Tidak ada satu pun tindakan yang bisa dijerat. Yang ada hanyalah akumulasi tindakan yang, bila dilihat dari jauh, membentuk pola pemerasan yang rapi.
Mengapa menggantung lebih menguntungkan daripada menyelesaikan? Perkara yang selesai berarti tagihan berhenti. Perkara yang menggantung adalah keran yang terus menetes. Setiap penundaan membawa “biaya tambahan”, mulai dari “uang pengurusan” dan “biaya transport” sampai “pendekatan ke pihak sana”. Klien yang sudah terlanjur mengeluarkan banyak uang juga sulit mundur, karena mundur berarti mengakui bahwa semua uang itu hilang percuma. Para ekonom menyebutnya sunk cost fallacy. Mafia hukum menyebutnya “klien setia”.
Di sini mulai terasa kekejaman yang lebih halus. Nasib orang digantung bukan hanya soal uang. Ada ibu yang tidak bisa tidur karena anaknya terkatung-katung di tahanan. Ada petani yang tanahnya tidak bisa digarap karena sengketa yang tak kunjung putus. Ada pengusaha kecil yang bangkrut pelan-pelan karena rekeningnya diblokir menunggu putusan. Waktu, yang bagi pengacara hanyalah satuan tagihan, bagi korban adalah hidup yang tertahan. Mereka mencuri musim, bukan hanya uang. Tidak ada pasal yang menghitung berapa banyak bulan dalam hidup seseorang yang dirampas oleh sebuah perkara yang sengaja dilambatkan.
Dendam yang Disamarkan sebagai Jasa
Dengan melihat sesuatu yang lebih gelap di balik hitungan untung-rugi ini, kita dapat memahaminya dengan menggunakan metode Genealogi Moral, hal ini berbicara tentang konsep ressentiment, dendam yang tidak punya keberanian untuk bertindak terang-terangan sehingga menyamar sebagai kebajikan. Dan tampaknya mafia hukum adalah wajah lain dari hal itu: kehendak untuk berkuasa yang dibungkus jubah profesi.
Pikirkan baik-baik. Seorang pengacara atau calo perkara yang ulung adalah orang yang menguasai bahasa hukum dan tahu jalur-jalur gelap birokrasi. Pada tempat hunian jauh dari keramaian sebagai markas yang sunyi dengan ruangan ber-AC itu ia kuat. Tetapi ia tahu kekuatannya bergantung sepenuhnya pada ketidaktahuan orang lain. Seandainya semua orang paham hukum, ia tak punya apa-apa. Maka ada kepentingan terselubung, hampir naluriah, untuk menjaga agar orang tetap bodoh. Bukan karena ia membenci mereka, melainkan karena kebodohan mereka adalah fondasi singgasananya.
Kita adalah orang awam yang lama bertarung dengan monster harus waspada agar tidak menjadi monster. Kalimat ini bisa dibaca terbalik: orang yang lama hidup dari ketakutan orang lain perlahan lupa bahwa ketakutan itu milik manusia. Pada awalnya mungkin ia hanya mengambil sedikit lebih banyak dari yang pantas, dengan alasan “semua orang juga begitu”. Lama-lama pemerasan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi gaya hidup, dan gaya hidup menjadi identitas. Pada titik itu ia tak lagi merasa memeras. Ia merasa sedang bekerja, bahkan sedang berjasa.
Ada pula kesombongan halus yang bisa kita sebut kehendak berkuasa yang paling rendah: kenikmatan melihat orang lain bergantung. Seorang klien yang menelepon berkali-kali dengan suara memohon, yang menunggu kabar seperti menunggu vonis dari Tuhan, memberi sesuatu yang tidak bisa dibayar uang. Ia memberi rasa penting. Dan banyak mafia hukum, saya curiga, kecanduan rasa itu sama seperti mereka kecanduan uangnya.
Anda membaca artikel ini sebagai Para korban atau sebagai penonton, akan memahami ini sebagai moralitas budak, kebiasaan menerima nasib sambil menggerutu, menyebut penderitaan sebagai takdir, dan menyerahkan hidup kepada “orang pintar” karena malas atau takut belajar. Pedas, memang, tapi ada kebenaran yang tidak enak di dalamnya. Selama kita menganggap hukum sebagai sui generis yang hanya boleh disentuh para avokat berpakaian formal, selalu ada peran mafia hukum yang siap menarik uang dari dompet klien nya.
Di Balik Meja Jati
Kini kita menuruni lapisan yang lebih dalam, ke ruang tempat kita bernalar, yaitu kepala si pelaku. Pertanyaan yang tak sanggup dijawab dan hanya setengah dapat dijawab adalah: apa yang terjadi dalam batin orang yang memeras orang lemah sambil tersenyum?
Kita tidak percaya pada penjahat yang tidur nyenyak. Dalam Kejahatan dan Hukuman membunuh orang lain dengan keyakinan filosofis bahwa orang luar biasa berhak melangkahi aturan demi tujuan yang lebih besar, dan bahwa membunuh koruptor itu hanyalah parasit yang menghisap darah orang lain. Teorinya rapi dan meyakinkan. Lalu setelah perbuatan itu, teori tersebut mulai membusuk dari dalam. Demam, mimpi buruk, kecurigaan pada setiap tatapan, dan kebutuhan aneh untuk mengaku menggerogotinya.
Mafia hukum jarang membunuh, tetapi mesin pembenarannya sama. Hanya bahasanya yang lebih sopan. “Saya kan juga butuh makan.” “Klien itu sebenarnya bersalah juga.” “Kalau bukan saya, orang lain yang ambil.” “Ini sudah sistemnya.” Setiap kalimat adalah batu bata dalam tembok yang memisahkan dirinya dari wajah korban. ia mungkin merasa terpilih, merasa lebih paham dunia daripada orang-orang polos yang datang mengiba.
Tetapi bayangkan malam hari. ada orang bermasalah pulang ke rumah yang dibeli dari uang seorang ibu yang menjual aset atau perhiasan terakhirnya. Ia duduk di meja makan bersama anak-anaknya dan, pada satu detik yang tak terjaga, teringat tatapan klien yang menggenggam tangannya sambil berkata, “Saya percaya sama Bapak.” Apa yang terjadi pada detik itu? Apakah anda akan merasa yakin sesuatu terjadi. Hati nurani, katanya, tidak mati. Ia hanya dibungkam, dan yang dibungkam akan mencari jalan keluar lewat sela-sela yang aneh: lewat amarah yang tak beralasan pada keluarga, lewat kegemaran pada kemewahan yang makin berlebihan untuk menutupi kekosongan, lewat sikap defensif yang makin keras terhadap siapa pun yang bertanya.
Saya tidak mengatakan ini untuk menghibur korban dengan fantasi bahwa para pemeras itu menderita. Banyak mafia yang tampaknya sungguh-sungguh tidur nyenyak, dan saya sendiri tahu ada tipe manusia yang hati nuraninya telah berubah jadi batu. Tetapi ia akan bilang bahwa batu pun adalah bentuk penderitaan: penderitaan orang yang tidak lagi mampu merasakan apa-apa. Itu bukan kemenangan, melainkan kematian yang berjalan, sebagaimana mafia hukum itu berada.
Korban yang Ikut Menyalakan Lilin
Sekarang bagian yang tidak nyaman, bagian yang menurut saya diperlukan agar tulisan ini jujur. Mafia hukum tidak tumbuh di tanah tandus. Mereka tumbuh di tanah yang kita siram sendiri.
Kita punya budaya yang menganggap urusan hukum sebagai aib dan kerepotan. Begitu ada masalah, jalan pintas yang paling dicari adalah “kenal orang dalam”. Bukan “apa hak saya”, melainkan “siapa yang bisa dihubungi”. Mentalitas itu adalah pupuk. Ketika seorang calo menawarkan jalur cepat dan kita menerimanya dengan lega, kita sedang ikut membangun jalan tol bagi para pemeras. Kita mengeluh tentang mafia hukum di warung kopi, lalu mencari kenalan polisi, jaksa, atau hakim saat anak sendiri tersangkut perkara.
Pada akhirnya sayapun memiliki cermin yang kejam untuk ini. Dalam Catatan pribadi saya yang ditulis pada jurnal, tokoh narator menunjukkan bahwa manusia sering memilih menderita dalam ketidakberdayaan yang nyaman daripada menanggung beban kebebasan dan tanggung jawab. Banyak orang lebih suka diperas oleh “ahli” daripada belajar sendiri, sebab belajar berarti bertanggung jawab dan menyerahkan perkara kepada orang lain berarti bisa menyalahkan mereka kalau gagal. Ketidaktahuan itu nyaman. Ia memberi alasan.
Tentu ini tidak berarti korban harus disalahkan. Orang yang sedang dilanda krisis tidak bisa disuruh kuliah hukum dulu. Ada ketimpangan nyata antara yang tahu dan yang tidak, antara yang punya akses dan yang tidak, dan menyalahkan korban atas ketimpangan itu adalah kekejaman tersendiri. Tetapi ada perbedaan antara menyalahkan dan menyadari. Kesadaran bahwa budaya “cari orang dalam” memberi makan sistem yang sama yang menelan kita adalah awal dari keluar dari lingkaran itu. Kebebasan yang sesungguhnya dimulai dari keberanian bertanya: “Berapa biayanya, tertulis? Apa tahapan berikutnya? Apa yang terjadi kalau saya menolak?” Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi di ruang konsultasi yang penuh wibawa palsu, mereka adalah tindakan perlawanan.
Sistem yang Memelihara Predator
Kalau semua ini hanya soal individu bejat, persoalannya mudah: pecat mereka dari Perhimpunan Advokat (PERADI) atau penjarakan mereka. Tetapi mafia hukum bukan kumpulan individu. Ia ekosistem, dan ekosistem punya logikanya sendiri.
Bahwa korupsi sebuah republik bukan terutama soal orang jahat, melainkan soal institusi yang tidak lagi sanggup menahan ambisi pribadi. Ketika aturan lemah, pengawasan formalitas, dan hukuman bisa dinegosiasikan, ambisi pribadi mengalir seperti air ke tempat rendah. Orang baik pun lama-lama terseret, karena menolak berarti rugi sementara yang lain untung.
Itu sebabnya mafia hukum begitu sulit diberantas. Panitera yang menunda salinan putusan, oknum penyidik yang membocorkan berkas, pengacara yang menjadi perantara, dan kadang pejabat yang menutup mata semuanya tersambung dalam rantai kepentingan yang saling mengunci. Satu mata rantai yang berniat lurus akan segera terisolasi, dicurigai, dipindahkan, atau dibuat tidak betah. Sistem punya mekanisme imun terhadap kejujuran.
Ada juga persoalan struktural yang lebih dingin: opasitas. Selama proses hukum berjalan dalam kegelapan, dengan jadwal yang tak transparan, biaya yang tak baku, dan informasi yang hanya dipegang segelintir orang, selalu ada ruang bagi spekulasi dan pemerasan. Ketertutupan adalah sekutu terbaik para predator. Setiap kali sebuah pengadilan membuka datanya, setiap kali jadwal sidang bisa dilacak publik, setiap kali biaya resmi diumumkan terang-terangan, satu celah tertutup. Reformasi yang sungguh-sungguh sering tidak glamor. Ia tampak seperti sistem pelacakan perkara yang berfungsi, tarif yang jelas, dan batas waktu yang ditegakkan. Hal-hal membosankan itulah yang paling ditakuti para pemeras.
Tetapi pengalaman pribadi saya ini sebagai pembelajaran akan mengingatkan agar kita tidak naif. Mereka yang diuntungkan oleh kegelapan tidak akan rela menyalakan lampu. Perubahan yang nyata hanya datang bila tekanan dari luar cukup kuat: wartawan yang tak bisa dibungkam, masyarakat yang mulai berani menolak jalan pintas, dan orang-orang di dalam sistem yang cukup berani mengambil risiko. Tidak ada yang datang sebagai hadiah.
Menggenggam Lilin di Ruang Gelap
Lalu apa yang bisa dilakukan seorang manusia biasa yang tiba-tiba tersungkur ke dalam kerumitan ini? Tentu saja ini semacam labirin, saya tidak ingin menutup dengan nasihat manis, tetapi ada beberapa kenyataan sederhana yang menurut saya perlu dipegang.
Pertama, ketidaktahuan bisa dikurangi, dan tidak harus sampai menjadi ahli. Cukup tahu tiga hal: apa tahapan perkaramu, berapa biaya resminya, dan kira-kira berapa lama tiap tahap. Seorang pengacara yang jujur tidak akan terganggu ditanya demikian. Seorang yang terganggu sudah memberi tahu banyak tentang dirinya. Kemarahan dan sikap defensif terhadap pertanyaan wajar adalah alarm paling jujur yang bisa kita dapat.
Kedua, minta semuanya tertulis. Kesepakatan biaya, ruang lingkup jasa, perkembangan perkara. Mafia hukum hidup dari kabut, dan tulisan adalah angin yang menyingkirkannya. Ketiga, jangan malu mencari pendapat kedua, dan jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa bahwa bertanya kepada orang lain adalah pengkhianatan. Ada bantuan hukum cuma-cuma bagi yang tidak mampu, dan ada lembaga yang menerima pengaduan terhadap advokat yang melanggar etika. Tidak sempurna, tetapi lebih baik daripada menanggung sendirian.
Dan terakhir, hal yang paling sulit: tahan godaan jalan pintas. Saat seseorang berbisik bahwa “ada jalur” dan “bisa diatur”, rasa lega yang muncul itu nyata dan manusiawi. Tetapi di situlah jebakannya. Orang yang menawarkan jalan pintas hampir selalu orang yang akan memintamu membayar mahal untuk pemandangan yang sebenarnya gratis.
Saya sebagai pengamat pergi ke ruangan itu, ke seorang klien dengan map lusuh dan tangan yang gemetar, dan ke orang di balik meja yang menimbang berapa lama ia bisa diperas. Dua manusia, satu hubungan. Satu di antaranya memegang cahaya dan memilih menyembunyikannya, dan satu lagi diam-diam berharap ada orang yang mau menyalakan lampu. Kita tidak bisa menjamin bahwa semua orang akan memilih menyalakannya. Ternyata entitas kegelapan itu benar (my intuition) bahwa manusia tidak bisa dipercaya begitu saja. ia pasti selalu benar, bahwa kekuasaan menggoda dan kelemahan menggoda dengan cara lain. Dan ia berkata benar bahwa di bawah semua perhitungan itu masih ada sesuatu yang tidak bisa dibungkam selamanya.
Yang bisa kita lakukan adalah membuat ruangan itu lebih terang, satu pertanyaan, satu dokumen tertulis, satu penolakan terhadap jalan pintas pada satu waktu. Itu tidak heroik, tetapi di negeri tempat ketidaktahuan dijadikan ladang, memilih untuk tahu sudah merupakan bentuk keberanian.
Pelajaran untuk diriku sendiri
Ternyata hidup itu keras bagi orang yang Good-looking, yang dimana, orang buruk seram lebih berguna dalam kehidupan itu sendiri, dari pada orang yang terlihat good-looking, sebagaimana orang yang good-looking akan selalu berada dalam masalah terutama menjadi korban dari niat kejahatan itu sendiri, tanpa rasa takut timbullah rasa untuk sewenang-wenang karena dengan adanya rasa takut mereka tidak akan berani berbuat demikian halnya sebagaimana rasa segan mereka dengan memperhitungkan sesamanya dari bentuk paras maupun fisik yang dapat mereka makan sebagai awal lahirnya niat jahat dalam menguji keberuntungan mereka untuk penipu dan memanfaatkan ketidaktahuan atau keluguan (kenaifan) sebagaimana kebaikan hati mu itu yang disebut cahaya merupakan wujud dari kebodohan itu sendiri. “Becoming devil within oneself.“
Pada akhirnya saya menyimpan kebenciannya yang paling dingin bukan untuk tiran, melainkan untuk mafia hukum. Bahwa mereka tidak berguna dan berbahaya. Mereka gagah di masa damai dan pengecut di medan perang, sebab satu-satunya hal yang mengikat mereka pada sebuah perkara adalah jasanya, dan honor tidaklah cukup besar untuk membuat seseorang mau rugi karena berbaik hati. Pengacara bayaran yang menjual jasanya kepada siapa pun dan mengulur pertempuran selama mungkin, karena perang yang cepat selesai berarti kontrak yang cepat habis.