You are currently viewing Moralitas sebagai Alat Kekuasaan dan Instrumen Politik

Moralitas sebagai Alat Kekuasaan dan Instrumen Politik

Bagikan bila kamu menyukainya

ketika moralitas menjadi bahasa kekuasaan maka disaat itulah manusia sibuk mengurus kehidupan orang lain sebagaimana moralitas itu sendiri membuat manusia tersebut merasa memiliki kuasa atas kehendak ilahi untuk dapat mendominasi kehidupan manusia lainnya sehingga lahirlah suatu kebencian yang dimana manusia itu akan saling menjatuhkan dengan mengatasnamakan kesusilaan yang berasal dari kedengkian hati manusia itu sendiri untuk dapat mendominasi sebagaimana ia memiliki kehendak untuk berkuasa atas nama moralitas jika ia tidak dapat mengatur hidupmu terutama untuk masuk ke dalam hidupmu untuk dapat memanfaatkan apa berharga dari dirimu untuk memperoleh apa yang mereka ingin darimu sebagaimana sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang bermanfaat.

Ketika moralitas dapat menjadi instrumen politik untuk dapat mengeksploitasi orang lain sebagaimana sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang bermanfaat sebagaimana awal dari lahirnya kebencian itu sendiri.

Hiburan Kita

Terkadang kebodohan kita sebagai manusia itu sendiri merasa takut untuk dianggap sebagai orang jahat, dan merasa takut untuk dibenci, karena lebih baik dibenci dari pada ditakuti, sebab tidak ada yang senang melihatmu berhasil, oleh sebab itu hiduplah sesukamu karena itu akan menentukan seberapa hancurnya mereka yang lahir dari ketidaksukaan mereka melihatmu yang dapat hidup lebih dari mereka sebagaimana manusia itu sendiri penuh dengan kehendak bebas sebagai hasrat untuk dapat lebih dari apapun, karena sifat manusia itu sendiri suka membandingkan hingga lahirnya manusia penjilat kehormatan sebagaimana manusia itu penuh dengan kedengkian hati untuk tidak dapat melihat orang lain lebih dari apapun dari merela sebagaimana ia tidak senang melihat orang lain lebih berhasil atau hidup lebih bahagia dibandingkan diri mereka dengan cara menggunakan moralitas sebagai instrumen politik sebagaimana ia merasa dapat berkuasa dari/menggunakan moralitas.

ketika moralitas menjadi bahasa kekuasaan maka banyak orang yang akan menuduhmu adalah orang jahat agar mereka merasa besar dengan merasa lebih baik bahkan lebih suci sebagaimana moralitas tidak lebih sekedar instrumen politik untuk dapat mendominasi yang pada akhirnya manusia itu hidup untuk saling menjatuhkan mengatasnamakan kepentingan yang lahir dari kedengkian hati dan pencitraan diri.

Hiburan Kita

Ketika moralitas sebagai komoditas maka akan banyak orang hidup untuk berlomba-lomba menjadi pengejar pencitraan yang dimana banyak dari mereka ingin hidup secara etis yang pada akhirnya menjadi superioritas moral yang menentukan siapa yang benar-benar layak menjadi manusia sesungguhnya sehingga terbentuklah polisi moral yang sibuk menilai dan mengawasi hidup orang lain dengan mengamati siapa saja yang dapat pantas dianggap manusia sebagaimana moralitas dapat menjadi sebuah komoditas selayaknya moralitas dapat menjadi lahan basah yang terbentuk dari pencitraan sehingga lahirlah bisnis disebut personal branding sehingga terbentuklah arena politik mengatasnamakan moralitas.

Ketika moralitas berubah menjadi bahasa kekuasaan, ia berhenti menjadi kebaikan dan mulai memangsa martabat individu. Jika etika, akhlak, dan kebajikan hanya senjata dari ambisi untuk mendominasi, maka ia lahir dari rahim yang sama dengan kedengkian: ketidaksukaan melihat orang lain maju; bertumbuh dan berkembang. Di titik inilah moralitas diproduksi bukan untuk memuliakan, melainkan untuk mendominasi.

Hiburan Kita

Saat moralitas dijadikan bahasa superioritas, di situlah ia bekerja melucuti martabat manusia. Ketika etika, akhlak, dan kebajikan cuma dipersenjatai oleh kehendak untuk berkuasa, sama seperti dengki yang lahir karena tak sudi melihatmu berhasil, maka moralitas tak lebih dari sekadar alat penundukan.

Pada akhirnya orang-orang yang menutupi kedengkian hati menggunakan moralitas tersebut akan menganggapmu jahat ketika dirimu tidak dapat diperlakukan semauannya mereka, sebagaimana kehendak bebas manusia itu sendiri untuk dapat selalu bahagia sebagai dasar kehendak bebas mansuia itu sendiri untuk dapat menang untuk mengalahkanmu sebagaimana sebaik baiknya manusia ialah manusia yang bermanfaat ketika mereka mencoba memutar balikan keadaan dengan berlindung dibalik moralitas sebagaimana moralitas tidak lebih dari sekedar senjata pamungkas bagi orang dapat hidup dari rasa takut (fear factor) untuk dapat menghormatimu sebagaimana penjilat kehormatan itu hidup untuk dapat terlihat baik kepadamu selagi dirimu masih dapat dikatakan bermanfaat bagi kebutuhan dan ego mereka sebagaimana penjilat kehormatan itu hidup dari rasa kagum mereka terhadapmu sebagai awal dari lahirnya kebencian itu sendiri, oleh sebab itulah lebih baik dibenci dari pada ditakuti karena tidak ada orang yang merasa senang melihatmu berhasil atau lebih bahagia hidupnya dibandingkan diri mereka sebagaimana mereka merasa terganggu dengan keberhasilanmu karena mereka membencimu karena tidak dapat seperti dirimu yang membuat mereka terlalu munafik untuk dapat membenci karena tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dapat melakukan apa yang mereka anggap jahat, seperti halnya seperti diri mu yang membuat mereka membencimu dengan ungkapan sombong atau jahat sebagaimana penjilat kehormatan itu menggunakan moralitas bahkan agama untuk menutupi kebusukan hati mereka sebagaimana sebaik baiknya manusia yang beremanfaat karena penjilat kehormatan menginginkan akses kesumber daya dari dirimu sebagaimana mereka membencimu jika dirimu lemah atau miskin “kecek nyo, nyo kayo”.

orang lemah yang paling terlihat keras adalah orang bodoh yang hidup dari delusi sebagai bentuk superioritas ego mereka dengan mengira diri mereka kuat” sebagaimana seni dalam menjilat untuk dapat menjadi orang jahat, ialah ketika seorang penjahat (orang berhati busuk) melaporkan dirimu ke polisi jika mereka tidak dapat mengalahkan dirimu sebagaimana kehendak bebas manusia itu sendiri untuk dapat selalu memang yang lahir dari kehendak bebas manusia itu sendiri untuk dapat selalu bahagia. Oleh sebab itu keadilan dan hukum hanyalah berlaku untuk orang lemah sebagaimana mereka menuntut hukum dan keadilan jika segala sesuatu tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan sebagaimana ketidaktahuan diri membentuk moralitas komunal.

penjilat pada dasarnya hidup dari rasa takut sebagaimana sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang bermanfaat yang membuatnya menjadi penjilat kehormatan yang lahir dari kedengkian.

Hiburan Kita

Dan seburu-buruknya manusia adalah manusia yang menggunakan moralitas dan agama untuk dapat menghancurkan orang lain sebagaimana jalan politik itu sendiri, sebab manusia itu makhluk yang unik, manusia akan akan selalu mengharapkan suatu kemenangan dalam urusan hidup, terutama persolan politik dalam mengeliminasi atau mengalahkan orang lain terutama menghadapi dirimu, karena jika dirimu dianggap tak terkalahkan mereka menganggapmu sebagai orang jahat atau sebutan buruk lainnya sebagaimana moralitas dan agama adalah produk politik dalam memutarbalikan keadaan sebagaimana manusia itu sendiri akan selalu mengharapkan kemenangan terutama kehendak bebas untuk dapat selalu bahagia dengan dapat dengan mudahnya mengalahkanmu.

Banyak orang mencintai cahaya bukan karena ia benar melainkan karena fanatisme terhadap cahaya tersebut sebagaimana kegelapan adalah wujud dari cahaya membentuk fanatisme yang menimbulkan kebahagiaan dari apa yang mereka kagumi. Musuh manusia saat ini adalah fanatisme atau apa yang membuat mereka merasa bahagia dari fanatisme.

Ketika manusia yang memiliki hati yang dengki sebagaimana ungkapan “Jahat teriak jahat” begitulah kemunafikan manusia ketika kebusukan hatinya yang berlindung dibalik moralitas. Oleh sebab itu, hiduplah sesukamu karena tidak ada orang senang melihatmu berhasil karena manusia menganggapmu jahat hanya ketika mereka tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dapat melakukan hal sama seperti dirimu yang membuat dirimu dianggap sebagai orang jahat ketika kedengkian hati manusia itu sendiri berlindung dibalik moralitas sebagaimana moralitas hanyalah instrumen politik itu sendiri.

Hiburan Kita

Penyebab kebencian orang lain tidak hanya timbul dari seberapa bodohnya dirimu melainkan juga seberapa besar ego mereka yang dapat terbakar akibat seberapa cerdas dirimu. Sama halnya ketika dirimu miskin, mereka membencimu karena dirimu dianggap lemah untuk dapat mereka hormati (penjilat). Sebagaimana cara mereka memandang hina dirimu dengan menyepelekannya karena kemiskinanmu membuatmu dianggap pantas diperlakukan seperti itu oleh mereka, tetapi jika dirimu terlihat lebih kaya dibandingkan mereka, maka mereka menyebutmu “mentang-mentang” sebagaimana mereka pada akhirnya menyebut dirimu sebagai orang jahat dan sombong. Seperti itulah memang sifat dasar manusia, yang memang seharusnya saling menghancurkan dengan saling mendominasi yang di akibatkan oleh ego manusia itu sendiri sebagai kehendak bebas untuk dapat selalu bahagia sebagaimana sifat dari “PANSOS” ketika ia tidak senang melihat orang lain lebih baik atau bahagia hidupnya dibandingkan diri mereka sendiri. Sama halnya dalam dunia media sosial yang dimana hujatan atau cacian adalah cara membuat orang merasa dapat bahagia dengan menghancurkan martabat orang lain sebagaimana orang yang telah dewasa berdasarkan umurnya tetapi bermental anak-anak; polos dan lugu (Bodoh) yang tidak lain sifat dasar dari keegoisan itu sendiri (Naif).

Jika dirimu tidak dapat diperhitungkan itu artinya dirimu telah gagal menjadi orang “tidak jadi orang” (gagal menjadi manusia) sebagaimana moralitas itu sendiri hadir untuk dapat menundukkan dirimu agar mereka merasa lebih dari apapun dari dirimu sebagaimana superioritas ego manusia itu sendiri didasari moralitas yang lahir sebagai penjilat kehormatan yang hidup dari rasa takut terhadap kekuatan yang berada diluar jangkauan mereka yang pada akhirnya terciptalah mentalitas komunal.: “Justice applies to the vulnerable, who shape the communal mindset.”

Hiburan Kita

Moralitas adalah tempatnya orang munafik menyembunyikan identitasnya sebagaimana pencitraan itu sendiri dapat dilakukan agar ia tampak lebih baik dibandingkan yang lain, yang pada akhirnya manusia itu sendiri akan saling menghancurkan atau menjatuhkan atas nama moralitas itu sendiri dengan sebagaimana yang buruk menuduhmu lebih buruk dibandingkan mereka sebagai bentuk superioritas ego dan harga diri mereka untuk dapat lebih baik dibandingkan dirimu yang pada dasarnya tergantung seberapa dapat dirimu diperhitungkan oleh mereka berupa seberapa kuat, lemah, kaya atau miskin dirimu yang membuat mereka menggunakan moralitas sebagai instrumen politik oleh mereka sebagaimana kemunafikan manusia itu sendiri hidup dibayang-bayang kemunafikan disebut moralitas yang ketika moralitas hadir senjata utama atas ketidakberdayaan mereka menghadapimu sebagaimana mentalitas komunal itu lahir.

Akhir Kata:

Indah atau tidaknya dunia atas kehidupan itu sendiri pada dasarnya bukan tergantung sebarapa baik dirimu, melainkan seberapa banyak uangmu yang akan menentukan seberapa indah dunia yang kau lihat sebagaimana manusia akan memperlakukanmu tergantung dari seberapa banyak uang atau hartamu bukan sebaik apa dirimu, karena sejatinya keharmonisan itu adalah ilusi tipu daya manusia dalam menjaga kadamaian yang dimana manusia akan memperhitungkanmu bukan sebaik apa dirimu melainkan seberapa banyak materi yang kau miliki sebab percuma saja dirimu menjadi orang baik jika dirimu lemah sebagaimana lebih baik dibenci dari pada ditakuti dan lebih baik ditakuti dari pada dicintai ketika uang dan dan materi menentukan sebuah realitas sesungguhnya yang tidak lain merupakan ilusi itu sendiri ketika dirimu tidak berharta maka dirimu akan melihat dunia itu sebenar-benarnya yang tidak lain hanya memperhitungkan antar sesamanya, maka jadilah kaya bermateri jika dirimu dianggap miskin, maka manusia akan membencimu jika dirimu kaya sebagaimana kehendak bebas manusia itu sendiri untuk bahagia melalui kedengkian hati manusia itu sendiri yang berlindung dibalik moralitas agar mereka merasa lebih superior dari dirimu dengan tidak merasa kalah dari dirimu.

Alangkah lucunya manusia mengaku beradab, tetapi ia tidak berilmu. Pada akhirnya, lebih baik menjadi orang berilmu tetapi bejat, sebagaimana moralitas tidak lebih sekedar permaianan kehidupan itu sendiri yang disepakati bersama sebagaimana mentalitas komunal itu lahir.

Hiburan Kita

Ketika moralitas menjadi sumber kekuatan akan superioritas maka ia akan dapat melahirkan ketidaktahuan diri atas kelemahan dan kebodohannya sendiri, ibaratkan anak-anak dan remaja yang yang suka bertindak seenaknya yang seringkali bersikap bersewenang-wenang dengan berlindung dibalik moralitas, atau bahkan yang mengira dirinya mereka lebih bijak dan bermoral (Pansos) yang menjadikannya orang yang tidak tahu diri yang hidup dari mentalitas komunal yang mengira diri mereka orbit dari kebenaran dan keadilan itu sendiri ibaratkan mentalitas NPD yang mengira lebih hebat dari apapun sehingga moralitas adalah bentuk ketidaktahuan diri orang-orang yang lemah yang tidak tahu diri sebagaimana mentalitas korban dengan menuntut keadilan sebagai bentuk dari kebodohan mereka yang seringkali bersikap victim mentality sebagaimana orang lemah yang menuntut keadilan atas ketidakberdayaannya sehingga keadilan hanya berlaku untuk orang lemah yang tidak tahu diri yang berlindung dibalik moralitas hingga membentuk mentalitas komunal.

.

Sebagian paragraf disembunyikan..!!!

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest
trackback
11 days ago

[…] Bangun personal branding. […]