You are currently viewing MORALITAS DAN KESUCIAN SEBAGAI ALAT SUPERIORITAS

MORALITAS DAN KESUCIAN SEBAGAI ALAT SUPERIORITAS

Bagikan bila kamu menyukainya

Barangkali tidak ada topeng yang lebih indah sekaligus lebih mengerikan daripada kesucian.

Karena manusia tidak selalu mencari kekuasaan melalui politik, uang, dan jabatan. Sebagian manusia menemukan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada semua itu, yaitu kekuatan moral.

Ketika seseorang memiliki kekayaan, ia mungkin hanya mampu menguasai tubuh orang lain.

Tetapi ketika seseorang dipercaya sebagai sosok yang paling benar, ia dapat menguasai hati, pikiran, dan bahkan rasa bersalah manusia lainnya.

Maka kesucian pun berubah menjadi mata uang.

Manusia berlomba-lomba terlihat paling saleh.

Paling bermoral.

Paling suci.

Paling dekat dengan Tuhan.

Bukan selalu karena mereka mencintai kebenaran, tetapi karena kebenaran memberikan posisi yang lebih tinggi daripada manusia lainnya.

Karena orang yang dianggap benar memiliki hak untuk menghakimi.

Dan hak untuk menghakimi adalah salah satu bentuk kekuasaan yang paling memabukkan.

Betapa banyak peperangan yang lahir atas nama kebaikan.

Betapa banyak kebencian yang dibungkus dengan nama kasih.

Dan betapa banyak ego yang memakai nama Tuhan untuk meninggikan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, manusia bahkan mampu mengubah surga menjadi alat untuk memperoleh dominasi.

Karena sejak dahulu, sebagian manusia tidak hanya ingin disembah oleh sesamanya.

Mereka ingin memperoleh legitimasi dari langit agar kesombongan mereka terlihat suci.

Dan mungkin, iblis yang paling berbahaya bukanlah mereka yang terang-terangan jahat.

Melainkan mereka yang merasa dirinya terlalu benar untuk mempertanyakan dirinya sendiri.

CINTA DAN KELUARGA SEBAGAI PERPANJANGAN EGO

Manusia berkata bahwa cinta adalah sesuatu yang murni.

Namun mungkin cinta hanyalah bentuk ego yang paling indah.

Karena manusia tidak selalu mencintai seseorang apa adanya.

Sering kali mereka mencintai bagaimana orang itu membuat dirinya merasa berharga.

Mereka mencintai perhatian.

Mencintai rasa dimiliki.

Mencintai kebanggaan memiliki seseorang.

Dan ketika rasa itu hilang, mereka menyebutnya kehilangan cinta.

Padahal yang hilang mungkin hanyalah kenyamanan ego.

Begitu pula keluarga.

Banyak orang tua tidak sadar bahwa mereka sedang melanjutkan ambisi yang gagal melalui anak-anak mereka.

Anak dijadikan alat untuk mewariskan nama.

Mewariskan kehormatan.

Mewariskan kebanggaan.

Mewariskan ego yang tidak sempat terpenuhi.

Lalu semuanya disebut cinta.

Padahal sebagian cinta adalah bentuk kepemilikan yang dilembutkan oleh kasih sayang.

Karena manusia sering kali tidak ingin dicintai.

Mereka ingin dimiliki oleh cinta.

Dan mereka ingin memiliki sesuatu untuk mengusir rasa hampa dalam dirinya sendiri.

MEDIA SOSIAL ADALAH TUHAN BARU PENYEMBAHAN VALIDASI

Dahulu manusia membangun monumen.

Hari ini mereka membangun citra.

Media sosial telah mengubah seluruh umat manusia menjadi aktor.

Semua orang menjadi pemasar bagi dirinya sendiri.

Semua orang berlomba-lomba menjual kehidupannya.

Bukan karena mereka bahagia.

Tetapi karena mereka takut menjadi tidak terlihat.

Mereka mengunggah senyuman.

Memamerkan keberhasilan.

Mempertontonkan penderitaan.

Membagikan kesedihan.

Dan bahkan memperlihatkan kebaikan mereka.

Semuanya agar dunia berkata:

“Aku melihatmu.”

Karena ketakutan terbesar manusia modern bukan lagi kematian.

Melainkan kehilangan perhatian.

Dan perhatian telah berubah menjadi mata uang baru.

Jumlah pengikut menentukan harga diri.

Jumlah pujian menentukan kebahagiaan.

Jumlah orang yang melihat menentukan nilai kehidupan.

Dan manusia yang tidak terlihat mulai merasa dirinya tidak ada.

Padahal sejak awal, mereka hanya sedang berdiri di depan cermin yang sangat besar dan memohon kepada manusia lain agar mengatakan bahwa mereka masih layak untuk ada dengan merasa diri mereka penting dan berarti.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest