Telah lama disembunyikan, jurnal pribadi ini akhirnya resmi diterbitkan sebagai artikel di Deep Web.
Ketika manusia tidak lagi sekadar ingin menjadi baik, melainkan ingin menjadi lebih baik daripada orang lain, moralitas akan berubah menjadi superioritas. Pada titik ini, mereka akan menyerang iman atau ibadahmu sebagai bentuk rasa takut terhadap caramu berpikir, sebagaimana manusia yang selalu merasa terancam oleh kekuatan di luar jangkauan mereka.
“Manusia jarang puas hanya dengan merasa dirinya benar. Ia ingin melihat seseorang berdiri di sisi yang salah agar kebenarannya memperoleh ketinggian.”
Jika hasrat manusia bergeser, bukan lagi untuk menjadi baik, melainkan untuk merasa lebih suci dari sesamanya, moralitas membusuk menjadi sebuah superioritas. Pada titik itulah iman dan ibadahmu dipertanyakan; bukan karena mereka membenci keyakinanmu, melainkan karena mereka gencet dan terancam oleh kedalaman caramu berpikir. Pada hakikatnya, mereka hanyalah jiwa-jiwa kerdil yang senantiasa dibayangi ketakutan akan kekuatan yang tak sanggup mereka jangkau.
1. Keinginan untuk Berada di Atas
Di balik banyak hubungan sosial terdapat sebuah dorongan yang jarang diakui secara jujur:
keinginan untuk berada di atas.
Tidak selalu di atas secara ekonomi.
Tidak selalu melalui jabatan.
Tidak selalu melalui kekayaan.
Kadang cukup melalui moralitas.
“Aku lebih baik.”
“Aku lebih suci.”
“Aku lebih berpendidikan.”
“Aku lebih sadar.”
“Aku lebih rasional.”
“Aku lebih sederhana.”
“Aku lebih religius.”
“Aku lebih bebas.”
“Aku tidak seperti mereka.”
Kalimat terakhir mungkin merupakan salah satu bentuk ego yang paling tua dari sifat manusia.
Aku tidak seperti mereka.
Ia tampak seperti penolakan terhadap kelompok lain.
Tetapi sebenarnya ia adalah cara membangun identitas.
Diri membutuhkan kontras.
Untuk merasa tinggi, ia membutuhkan sesuatu yang berada lebih rendah.
Untuk merasa suci, ia membutuhkan sesuatu yang dapat disebut najis.
Untuk merasa cerdas, ia membutuhkan seseorang yang dapat disebut bodoh.
Untuk merasa bermoral, ia membutuhkan seseorang yang dapat dianggap tidak bermoral.
Superioritas hampir selalu membutuhkan hierarki.
Dan hierarki membutuhkan perbandingan.
2. Manusia dan Cermin Sosial
Manusia belajar mengenali dirinya melalui orang lain.
Seorang anak mengetahui bahwa dirinya berbeda karena melihat orang lain.
Ia mengetahui bahwa dirinya tinggi karena ada yang lebih pendek.
Ia mengetahui bahwa dirinya cepat karena ada yang lebih lambat.
Dalam kehidupan sosial, proses perbandingan ini menjadi jauh lebih kompleks.
Manusia membandingkan wajah.
Pendidikan.
Pendapatan.
Pekerjaan.
Pasangan.
Anak.
Rumah.
Kendaraan.
Pengetahuan.
Pengaruh.
Kesalehan.
Bahkan penderitaan.
Ya.
Bahkan penderitaan dapat menjadi modal simbolik.
“Aku telah mengalami lebih banyak.”
“Aku lebih kuat.”
“Aku lebih menderita.”
Dan karena itu, bahkan luka dapat berubah menjadi sumber superioritas.
Manusia tidak sekadar mengalami kehidupan.
Ia mengubah sebagian pengalaman hidupnya menjadi bahan untuk menentukan posisi relatifnya terhadap manusia lain.
3. Validasi Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Di sinilah kita kembali kepada tema awal.
Validasi sosial bukan sekadar kebutuhan untuk disukai.
Ia sering mengandung struktur perbandingan.
Seseorang tidak hanya ingin dikatakan cantik.
Ia ingin merasa lebih cantik.
Tidak hanya ingin kaya.
Ia ingin lebih kaya.
Tidak hanya ingin pintar.
Ia ingin lebih pintar.
Tidak hanya ingin dihormati.
Ia ingin lebih dihormati.
Kebahagiaan kemudian berubah menjadi perlombaan.
Dan perlombaan membutuhkan garis finish.
Masalahnya:
garis finish tersebut terus bergerak.
Selalu ada seseorang yang lebih tinggi.
Lebih kaya.
Lebih terkenal.
Lebih berpengaruh.
Lebih religius.
Lebih intelektual.
Lebih menarik.
Maka validasi sosial memiliki sifat yang hampir tidak pernah selesai.
Ia bukan kebutuhan yang ingin dipenuhi.
Ia adalah kebutuhan yang dapat diproduksi ulang tanpa batas.
4. Superioritas Moral
Namun superioritas yang paling berbahaya bukan selalu superioritas materi.
Kekayaan dapat terlihat sebagai kesombongan.
Kekuasaan dapat dikenali sebagai dominasi.
Tetapi superioritas moral memiliki perlindungan yang jauh lebih kuat.
Karena seseorang dapat menyombongkan diri sambil mengatakan bahwa ia sedang membela kebaikan.
Ia dapat merendahkan orang lain sambil merasa sedang mempertahankan moralitas.
Ia dapat mengucilkan seseorang sambil mengatakan bahwa ia sedang menjaga kesucian.
Ia dapat membenci sambil menyebut kebenciannya sebagai keberanian moral.
Inilah paradoks yang mengerikan:
manusia dapat menggunakan moralitas untuk memuaskan ego sambil meyakini bahwa ia sedang membunuh ego.
5. Kesucian Membutuhkan Kenajisan
Secara sosial, konsep kesucian menjadi semakin kuat ketika terdapat sesuatu yang dapat ditempatkan sebagai lawannya.
Suci dan najis.
Baik dan buruk.
Beriman dan tidak beriman.
Murni dan tercemar.
Layak dan tidak layak.
Terhormat dan memalukan.
Normal dan menyimpang.
Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa semua pembedaan tersebut salah.
Masyarakat membutuhkan kategori untuk memahami dunia.
Namun secara arkeologis, setiap kategori menghasilkan batas.
Dan batas menghasilkan posisi.
Ketika seseorang ditempatkan di dalam kategori “suci”, seseorang yang lain dapat ditempatkan di luar.
Dengan demikian, identitas moral seseorang dapat memperoleh kekuatan bukan hanya dari apa yang ia lakukan.
Tetapi dari siapa yang ia anggap tidak seperti dirinya.
6. Orang Suci dan Orang Berdosa
Bayangkan dua manusia.
Yang satu percaya dirinya suci.
Yang lain dianggap berdosa.
Apa yang terjadi ketika posisi tersebut menjadi identitas permanen?
Yang “suci” mulai membutuhkan keberadaan “pendosa”.
Tanpa pendosa, kesuciannya kehilangan kontras.
Yang “bermoral” membutuhkan yang “tidak bermoral”.
Yang “taat” membutuhkan yang “sesat”.
Yang “murni” membutuhkan yang “tercemar”.
Maka kategori moral dapat memiliki fungsi sosial yang paradoks.
Ia membangun identitas melalui eksklusi.
Manusia berkata:
“Aku adalah ini karena aku bukan itu.”
Dan ketika “itu” dipandang rendah, identitas diri memperoleh rasa ketinggian.
7. Moralitas sebagai superioritas iman
Di sinilah kritik yang sebenarnya terhadap terhadap moralitas menjadi sangat mengganggu.
Ia tidak hanya bertanya:
“Apakah nilai ini baik?”
Ia bertanya:
“Dari jenis kehidupan seperti apa nilai ini muncul?”
Siapa yang menciptakannya?
Dalam kondisi apa?
Dengan dorongan apa?
Terhadap siapa?
Untuk mengatasi kelemahan atau untuk menegaskan kehidupan?
Pertanyaan tersebut mengubah moralitas menjadi objek penyelidikan sejarah.
Moralitas tidak lagi berdiri sebagai langit yang turun kepada manusia.
Ia menjadi sesuatu yang memiliki proses pembentukan.
Ia memiliki konflik.
Memiliki sejarah.
Memiliki psikologi.
Memiliki hubungan dengan kekuasaan.
Dan ketika moralitas memiliki sejarah, manusia dapat mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tersembunyi:
nilai dapat menjadi medan pertarungan.
8. Ketika Kebajikan Menjadi Senjata Orang Lemah
Dalam pembacaan tertentu terhadap konsep kedengkian hati menjadi konsep penting.
Seseorang merasa tidak mampu memperoleh sesuatu secara langsung.
Ia tidak dapat memenangkan pertarungan tertentu.
Ia tidak memiliki kekuatan tertentu.
Kemudian ia membalik nilai.
Apa yang sebelumnya dianggap kuat menjadi buruk.
Apa yang sebelumnya dianggap lemah menjadi baik.
Dengan demikian, kelemahan memperoleh kemuliaan moral.
Sekali lagi, ini tidak berarti semua moralitas kasih sayang atau kerendahan hati hanyalah hasil kelemahan.
Itu akan menjadi penyederhanaan kasar terhadap persoalan.
Yang lebih menarik adalah pertanyaannya:
Apakah sebuah nilai terkadang lahir dari ketidakmampuan untuk mendapatkan sesuatu secara langsung, lalu mengubah kekurangan menjadi keunggulan moral?
Jika ya, maka moralitas dapat menjadi arena kompensasi psikologis.
Seseorang yang tidak mampu menguasai dunia dapat mencoba menguasai definisi tentang apa yang disebut “baik”.
9. Ketika Yang Kalah Menjadi Hakim
Ini membawa kita kepada sebuah paradoks tentang kehidupan sosial.
Seseorang dapat kalah secara materi tetapi menang secara moral.
Ia tidak memiliki kekayaan.
Namun ia mengatakan bahwa kekayaan adalah keserakahan.
Ia tidak memiliki kekuasaan.
Namun ia mengatakan bahwa kekuasaan adalah korupsi.
Ia tidak memiliki status.
Namun ia mengatakan bahwa status adalah kesombongan.
Sekali lagi, tidak berarti kritik tersebut salah.
Kekayaan memang dapat disalahgunakan.
Kekuasaan memang dapat korup.
Status memang dapat melahirkan kesombongan.
Tetapi secara psikologis, kita harus tetap mempertanyakan:
apakah kritik tersebut lahir dari prinsip, atau dari luka yang mencari bahasa moral?
Mungkin terkadang keduanya bercampur.
Manusia jarang sesederhana motif tunggal.
10. Yang Menarik Bukan Siapa yang Benar
Pemahaman tentang arkeologi kekuasaan moral tidak terutama bertugas menentukan siapa yang paling suci.
Ia ingin mengetahui bagaimana kesucian diproduksi.
Bukan:
“Siapa orang baik?”
Melainkan:
“Bagaimana masyarakat menghasilkan kategori orang baik?”
Bukan:
“Siapa orang jahat?”
Melainkan:
“Bagaimana seseorang memperoleh status sebagai orang jahat?”
Siapa yang memiliki kewenangan untuk menetapkan?
Siapa yang menerima manfaat?
Siapa yang disingkirkan?
Siapa yang menjadi teladan?
Siapa yang menjadi contoh buruk?
Dengan pertanyaan seperti itu, moralitas berubah menjadi medan sejarah.
Dan medan sejarah selalu memiliki konflik.
11. Kekuasaan Tidak Selalu Memaksa
Ini perlu ditegaskan.
Jika orang kaya memukul orang miskin, kita mengenali kekuasaan.
Jika hakim memenjarakan seseorang, kita mengenali kekuasaan.
Tetapi jika masyarakat membuat seseorang merasa malu karena tidak memenuhi standar moral, kita sering tidak menyebutnya kekuasaan.
Padahal efek sosialnya bisa nyata.
Manusia menyesuaikan perilaku.
Menahan ucapan.
Mengubah pakaian.
Menyembunyikan keinginan.
Menghindari kelompok tertentu.
Menyensor dirinya sendiri.
Dan semua itu terjadi karena ia telah memperkirakan penilaian sosial.
Tidak ada polisi.
Tidak ada senjata.
Tidak ada perintah tertulis.
Namun kekuasaan bekerja.
12. Tatapan yang Menjadi Penjara
Pada titik tertentu, pengawasan eksternal tidak lagi diperlukan.
Manusia membayangkan tatapan orang lain bahkan ketika tidak ada orang lain.
Ia bertanya:
“Bagaimana mereka akan melihatku?”
“Bagaimana keluargaku akan menilainya?”
“Apa kata masyarakat?”
“Apa kata komunitasku?”
“Apa kata Tuhan?”
“Apa kata pengikutku?”
Dan pertanyaan terakhir ini adalah salah satu bentuk modernitas yang paling menarik.
Dahulu seseorang mungkin takut terhadap pandangan tetangga.
Sekarang seseorang dapat takut terhadap ribuan orang asing.
Satu unggahan dapat dinilai.
Satu kesalahan dapat disebarkan.
Satu pendapat dapat menjadi bahan penghakiman.
Masyarakat menjadi semakin luas.
Namun pengadilan sosial juga menjadi semakin besar.
13. Algoritma dan Superioritas
Media sosial tidak menciptakan kebutuhan manusia akan status.
Tetapi ia membuat status jauh lebih terukur.
Dahulu seseorang terkenal di lingkungannya.
Sekarang popularitas memiliki angka.
Pengikut.
Tayangan.
Suka.
Komentar.
Bagikan.
Angka memberikan ilusi objektivitas.
Manusia dapat melihat:
“Dia lebih populer.”
“Dia lebih berpengaruh.”
“Dia lebih berhasil.”
Perbandingan yang dahulu samar kini menjadi statistik.
Dan apa yang dapat diukur lebih mudah dipertandingkan.
Manusia akhirnya tidak hanya ingin memiliki kehidupan.
Ia ingin memiliki metrik kehidupan yang lebih tinggi daripada orang lain.
14. Moralitas dalam Bentuk Statistik
Bahkan moralitas dapat memasuki dunia pengukuran.
Berapa banyak yang kita donasikan?
Berapa banyak kegiatan sosial yang kita lakukan?
Berapa banyak orang yang kita bantu?
Berapa banyak pesan positif yang kita unggah?
Angka dapat membantu organisasi melakukan evaluasi.
Tetapi ketika moralitas berubah menjadi performa publik, muncul persoalan lain:
Apakah tindakan itu dilakukan karena kebaikan?
Atau karena citra sebagai orang baik?
Perbedaan antara keduanya tidak selalu dapat diketahui.
Dan manusia sendiri mungkin tidak selalu mengetahuinya.
Seseorang dapat membantu orang lain dengan tulus dan sekaligus menikmati penghargaan yang datang setelahnya.
Motif manusia sering berlapis.
Itulah yang membuat pembacaan psikologis terhadap moralitas begitu sulit.
15. Kembalinya Tuhan dalam Bentuk Manusia
Sekarang kita sampai pada judul artikel ini.
mereka bernyanyi orang kaya mati, orang miskin mati, raja-raja mati, sebagaimana superioritas ego manusia untuk dapat mendominasi atas nama moralitas atau sebagai bentuk ketidaktahuan diri yang melahirkan kedengkian hati mengatasnamakan moralitas.
“Kembalinya Tuhan dalam bentuk manusia.”
Maksudnya bukan bahwa Tuhan benar-benar menjadi manusia.
Ini adalah metafora mengenai kecenderungan manusia mengambil posisi absolut.
Manusia berkata:
“Aku tahu apa yang benar.”
“Aku tahu apa yang salah.”
“Aku tahu siapa yang pantas.”
“Aku tahu siapa yang tidak pantas.”
“Aku tahu apa yang Tuhan inginkan.”
“Aku tahu bagaimana semua orang seharusnya hidup.”
Di titik tersebut, manusia tidak lagi sekadar memiliki keyakinan.
Ia mulai berbicara dari posisi seolah-olah dirinya berada di luar keterbatasan manusia.
Ia menjadi hakim absolut.
Ia mengubah interpretasinya menjadi hukum.
Ia menjadikan dirinya pusat moral.
Dan di sinilah ego memperoleh bentuk metafisik.
16. Bahaya Mengklaim Absolut
Manusia yang berkata:
“Menurutku ini benar”
masih berada dalam ruang dialog.
Tetapi manusia yang berkata:
“Ini benar secara absolut dan siapa pun yang menolaknya adalah jahat atau kafir”
telah mengubah keyakinan menjadi senjata.
Tidak ada lagi ruang untuk koreksi.
Karena kritik terhadap dirinya dianggap sebagai kritik terhadap kebenaran itu sendiri.
Inilah mekanisme yang dapat ditemukan dalam berbagai bentuk fundamentalisme, baik religius maupun sekuler.
Sebuah gagasan menjadi terlalu suci untuk diperiksa.
Dan ketika sebuah gagasan menjadi tidak dapat diperiksa, siapa pun yang menguasai gagasan tersebut memperoleh kekuatan luar biasa.
17. Tuhan sebagai Tameng Ego
Ini adalah kemungkinan yang sangat gelap.
Bukan bahwa Tuhan menjadi alat.
Melainkan bahwa manusia dapat menggunakan klaim tentang Tuhan sebagai perlindungan bagi egonya sendiri.
“Aku tidak memaksakan kehendakku.”
“Aku hanya menjalankan kehendak Tuhan.”
Kalimat tersebut dapat menjadi tameng sempurna.
Jika keputusan itu berasal dari manusia, ia dapat dipertanyakan.
Jika keputusan itu diklaim berasal dari Tuhan, kritik terhadapnya menjadi jauh lebih sulit.
Maka secara arkeologis, kita harus memperhatikan siapa yang berbicara ketika seseorang berkata:
“Tuhan menghendaki ini.”
Apakah itu suara transendensi?
Atau interpretasi manusia yang telah memperoleh pakaian transendensi?
Pertanyaan ini tidak menyelesaikan persoalan teologis.
Tetapi ia membuka persoalan kekuasaan.
18. Moralitas sebagai Tangga
Moralitas seharusnya menjadi jalan untuk mengatur hubungan manusia dengan kebaikan.
Tetapi dalam kehidupan sosial, moralitas dapat berubah menjadi tangga.
Manusia menaikinya.
Kemudian melihat ke bawah.
“Aku lebih saleh.”
“Aku lebih berintegritas.”
“Aku lebih berpendidikan.”
“Aku lebih sadar.”
“Aku lebih progresif.”
“Aku lebih tradisional.”
“Aku lebih rasional.”
“Aku lebih spiritual.”
Dan akhirnya moralitas tidak lagi menjadi pertanyaan tentang:
“Bagaimana aku hidup dengan baik?”
Ia menjadi:
“Bagaimana aku memastikan bahwa aku berada di atas?”
Inilah saat moralitas kehilangan sebagian fungsi pembebasannya.
Ia menjadi sistem klasifikasi manusia.
19. Kesombongan yang Menyamar sebagai Kerendahan Hati
Bahkan kerendahan hati dapat menjadi sumber superioritas.
“Aku tidak mengejar kekayaan.”
“Aku tidak membutuhkan popularitas.”
“Aku tidak seperti mereka.”
Kalimat tersebut dapat benar-benar lahir dari kesederhanaan.
Tetapi dapat pula berubah menjadi bentuk kesombongan yang lebih halus.
Seseorang tidak lagi berkata:
“Aku lebih kaya.”
Ia berkata:
“Aku lebih sederhana daripada kalian.”
Secara struktural, perbedaannya tipis.
Yang berubah hanyalah objek kebanggaan.
Ego sangat fleksibel.
Jika ia tidak dapat memperoleh status melalui kekayaan, ia dapat memperoleh status melalui kemiskinan.
Jika tidak dapat melalui kecantikan, melalui kealamian.
Jika tidak melalui pendidikan, melalui anti-intelektualisme.
Jika tidak melalui kesalehan, melalui sekularisme.
Ego tidak membutuhkan objek tertentu.
Ia hanya membutuhkan hierarki.
20. Bahkan keimanan Dapat Menjadi Status
Ini bagian yang paling ironis.
Manusia dapat menggunakan keimanan untuk menjadi superior.
“Aku sudah menyadari bahwa semua ini tidak berarti.”
“Aku tidak seperti orang-orang yang masih percaya.”
“Aku melihat kepalsuan dunia.”
“Aku sudah berada di luar moralitas mereka.”
Keimanan kemudian berubah menjadi identitas elit.
Bukan lagi alat pembongkaran.
Ia menjadi lencana atas penghakiman.
Seseorang membangun superioritas dengan mengklaim bahwa ia telah melihat apa yang tidak mampu dilihat orang lain.
Ini adalah jebakan yang harus dihindari.
Karena Keimanan yang berubah menjadi status telah mengkhianati fungsi awalnya.
Ia tidak lagi menghancurkan ego.
Ia memberinya kostum baru.
21. Ketika Kesadaran Menjadi Kesombongan
Bahkan kesadaran dapat menjadi sumber kesombongan.
“Aku sadar.”
Mungkin.
Tetapi sadar terhadap apa?
Seseorang dapat mengetahui bahwa masyarakat membentuk dirinya, tetapi tetap tidak mampu melihat bagaimana egonya sendiri bekerja.
Ia dapat mengkritik kapitalisme sambil menginginkan status.
Mengkritik agama sambil menciptakan dogma baru.
Mengkritik kekuasaan sambil ingin berkuasa.
Mengkritik superioritas sambil merasa lebih superior karena mampu mengenali superioritas orang lain.
Manusia adalah makhluk yang mampu menggunakan cermin untuk melihat wajah orang lain sambil gagal melihat wajah sendiri.
22. Musuh Terakhir Bukan Orang Lain
Karena itu, proyek arkeologi kekuasaan tidak boleh berhenti pada pembongkaran institusi.
Kita harus membawanya pulang.
Ke dalam diri.
Ketika kita mengatakan:
“Mereka haus kekuasaan.”
Apakah kita tidak memiliki keinginan untuk mengendalikan?
Ketika kita berkata:
“Mereka mencari validasi.”
Apakah kita tidak mencari pengakuan?
Ketika kita berkata:
“Mereka merasa superior.”
Apakah kritik kita sendiri tidak memberi kita rasa superior?
Ketika kita berkata:
“Mereka menggunakan moralitas untuk menghakimi.”
Apakah kita tidak melakukan hal yang sama terhadap mereka?
Pertanyaan ini membuat kritik menjadi jauh lebih sulit.
Karena objek kritik tidak lagi berada di luar.
Ia berada di dalam.
23. Manusia sebagai Situs Kekuasaan
Pada akhirnya manusia bukan hanya korban kekuasaan.
Ia juga merupakan tempat kekuasaan diproduksi ulang.
Ia menerima kategori.
Menggunakannya.
Mewariskannya.
Mengajarkannya kepada anak.
Memakainya untuk menilai tetangga.
Kemudian generasi berikutnya melakukan hal yang sama.
Kekuasaan bertahan bukan hanya karena ada penguasa.
Ia bertahan karena orang biasa ikut mereproduksinya.
Seorang ibu mengajarkan anaknya rasa malu.
Seorang ayah mengajarkan definisi keberhasilan.
Guru mengajarkan standar.
Teman sebaya mengajarkan normalitas.
Komunitas mengajarkan kesucian.
Pasar mengajarkan status.
Dan setiap manusia menjadi mata rantai dalam reproduksi nilai.
24. Superioritas sebagai Reproduksi Kekuasaan
Sekarang kita dapat melihat bagaimana tema-tema sebelumnya terhubung.
Agama memberikan bahasa kesucian.
Moralitas memberikan kategori baik dan buruk.
Institusi memberikan legitimasi.
Pendidikan mewariskan kategori.
Keluarga mereproduksinya.
Masyarakat memberi penghargaan.
Rasa malu menjaga batas.
Rasa bersalah menjaga individu dari dalam.
Validasi membuat manusia berlomba.
Ego mengubah perlombaan menjadi hierarki.
Dan hierarki menghasilkan superioritas.
Superioritas kemudian membutuhkan pembenaran.
Pembenaran kembali mencari moralitas.
Lingkaran selesai.
Dengan demikian, kekuasaan tidak selalu bergerak dari atas ke bawah.
Ia bergerak melingkar.
Dari institusi ke manusia.
Dari manusia ke manusia.
Dari manusia kembali ke institusi.
25. Apakah Lingkaran Itu Bisa Diputus?
Pertanyaannya sekarang menjadi lebih sulit.
Bisakah manusia keluar dari kebutuhan untuk berada di atas?
Mungkin tidak sepenuhnya.
Dorongan membandingkan diri mungkin sangat tua dari sejarah revolusi kita sebagai manusia.
Tetapi manusia dapat mengenali mekanismenya.
Ia dapat melihat kapan dirinya mencari pengakuan.
Kapan moralitasnya menjadi alat merendahkan.
Kapan keyakinannya berubah menjadi dogma.
Kapan kritiknya terhadap kekuasaan berubah menjadi keinginan menguasai.
Kapan kesederhanaannya berubah menjadi kesombongan.
Kapan keimanan berubah menjadi identitas untuk dapat menghakimi.
Kesadaran tidak menjamin kebebasan.
Tetapi tanpa kesadaran, kebebasan hampir tidak memiliki tempat untuk dimulai.
26. Setelah Membongkar Superioritas
Maka mungkin pertanyaan terakhir bukan:
“Bagaimana menjadi manusia paling baik?”
Melainkan:
“Bagaimana hidup tanpa kebutuhan untuk menjadi manusia yang lebih tinggi daripada orang lain?”
Ini jauh lebih sulit.
Sebab masyarakat hampir selalu menyediakan tangga.
Jika bukan uang, moralitas.
Jika bukan moralitas, kecerdasan.
Jika bukan kecerdasan, spiritualitas.
Jika bukan spiritualitas, kesadaran.
Jika bukan kesadaran, bahkan penderitaan.
Selalu ada kemungkinan untuk berkata:
“Aku lebih tinggi.”
Dan mungkin itulah salah satu kebutuhan ego yang paling sulit dibunuh.
Akhir kata
Manusia tidak hanya ingin hidup.
Ia ingin hidupnya berarti.
Kemudian ia ingin orang lain mengakui bahwa hidupnya berarti.
Kemudian ia ingin pengakuan tersebut lebih besar daripada pengakuan yang diterima orang lain.
Di titik itu, makna berubah menjadi kompetisi.
Kebaikan berubah menjadi status.
Kesucian berubah menjadi hierarki.
Pengetahuan berubah menjadi otoritas.
Keyakinan berubah menjadi legitimasi.
Dan manusia yang pada awalnya mencari sesuatu yang lebih tinggi akhirnya menempatkan dirinya sendiri di tempat yang lebih tinggi.
Ia telah menghancurkan singgasana lama.
Tetapi ia membangun singgasana baru.
Di atas singgasana itu bukan lagi tentang tahta.
Melainkan dirinya sendiri.
Ia menyebutnya:
kebenaran,
kesadaran,
moralitas,
rasionalitas,
kebebasan,
kemajuan,
agama,
atau bahkan keimanan.
Nama tidak terlalu penting.
Strukturnya sama.
Aku melihat.
Aku tahu.
Aku benar.
Karena itu, engkau harus mengikuti.
Dan ketika kalimat itu muncul, cahaya ilahi tidak perlu turun dari langit.
Manusia telah mengambil tempat-Nya.
Bukan karena ia menjadi mahakuasa.
Tetapi karena ia mulai memperlakukan keterbatasan interpretasinya seolah-olah tidak memiliki batas.
Mungkin inilah salah satu bentuk kesombongan paling tua dari yang kita ketahui dari sejarah kita sebagai manusia:
bukan mengatakan “aku adalah Tuhan”, tetapi berbicara seolah-olah kesalahan tidak mungkin terjadi padaku.
Namun ada satu pertanyaan yang belum kita jawab.
Jika manusia terus-menerus membangun hierarki untuk memperoleh superioritas, lalu apakah masyarakat modern benar-benar telah meninggalkan struktur feodal, aristokratis, dan religius masa lalu?
Ataukah kita hanya mengganti pakaian hierarki?
Dulu darah menentukan siapa yang berada di atas.
Kemudian agama.
Kemudian gelar.
Kemudian kepemilikan.
Kemudian pendidikan.
Kini angka.
Pengikut.
Kekayaan.
Popularitas.
Produktivitas.
Brand.
Algoritma.
Dan jika demikian, mungkin manusia modern bukan manusia yang telah bebas dari hierarki.
Ia hanya menjadi lebih kreatif dalam menyembunyikan hierarki di balik bahasa kesetaraan.
Ketika Manusia Mengatakan “Semua Setara” Sambil Tetap Mencari Siapa yang Berada di Atas
Superioritas moral menuju hierarki sosial modern.
Kita akan membongkar bagaimana manusia dapat berbicara tentang kesetaraan sambil tetap menciptakan status sosial berdasarkan:
- kekayaan,
- pendidikan,
- pekerjaan,
- kecantikan,
- popularitas,
- akses,
- jaringan sosial,
- kecerdasan,
- moralitas,
- bahkan tingkat “kesadaran”.
Dan di sana kita akan sampai pada pertanyaan yang lebih gelap lagi:
Jika manusia memang membutuhkan hierarki untuk mengukur dirinya, apakah masyarakat yang mengaku egaliter benar-benar menghapus hierarki, atau hanya membuatnya lebih sulit terlihat?
Karena mungkin kekuasaan tidak lagi berkata:
“Aku lebih tinggi karena aku dilahirkan lebih tinggi.”
Ia berkata:
“Kita semua setara, tetapi lihatlah betapa jauh lebih tinggi aku telah berhasil naik.”