You are currently viewing Hierarki Yang Menyamar Sebagai Kesetaraan

Hierarki Yang Menyamar Sebagai Kesetaraan

Bagikan bila kamu menyukainya

Ada sebuah kebohongan yang sangat indah dalam peradaban kita saat ini:

bahwa manusia telah menjadi setara.

Ketika manusia berkata “semua setara”, tetapi tetap sibuk mencari siapa yang berada di atas.

Tidak ada lagi raja yang memiliki darah lebih suci.

Tidak ada lagi kasta yang secara terang-terangan menentukan bahwa seseorang dilahirkan untuk menjadi tuan dan seseorang lainnya dilahirkan untuk menjadi pelayan.

Tidak ada lagi hukum yang secara terbuka mengatakan bahwa manusia tertentu memiliki nilai lebih tinggi karena garis keturunannya.

Secara formal, manusia modern telah dibebaskan.

Ia memiliki hak.

Ia memiliki suara.

Ia memiliki kesempatan.

Ia boleh bermimpi.

Ia boleh memilih pekerjaan.

Ia boleh berpindah kelas sosial.

Ia bahkan boleh mengatakan kepada dunia:

“Aku adalah siapa yang kupilih untuk menjadi.”

Tetapi kemudian datang sebuah pertanyaan yang lebih mengerikan:

Jika semua orang benar-benar setara, mengapa manusia masih menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membuktikan bahwa dirinya lebih tinggi daripada manusia lain?

Mengapa rumah harus lebih besar?

Mengapa kendaraan harus lebih mahal?

Mengapa pekerjaan tertentu dianggap lebih terhormat?

Mengapa sekolah tertentu menghasilkan prestise?

Mengapa wajah tertentu memperoleh lebih banyak perhatian?

Mengapa tubuh tertentu dianggap lebih layak dipandang?

Mengapa jumlah pengikut menjadi ukuran keberadaan?

Mengapa jabatan menjadi simbol nilai?

Mengapa kekayaan sering diterjemahkan menjadi kecerdasan?

Mengapa kemiskinan sering diterjemahkan menjadi kegagalan moral?

Mengapa manusia bahkan menjadikan “kesadaran” sebagai tangga baru untuk berdiri di atas manusia lainnya?

Kita mungkin telah membongkar istana.

Tetapi kita belum membongkar keinginan untuk memiliki takhta.

Dan di situlah arkeologi kekuasaan harus dimulai kembali.

“Hierarki yang paling sempurna bukanlah hierarki yang memaksa manusia berlutut. Ia adalah hierarki yang membuat manusia berlomba-lomba untuk berlutut lebih dekat kepada takhta.”

Kematian Kasta Tidak Berarti Kematian Hierarki

Hierarki lama memiliki bentuk yang mudah dikenali.

Ia mempunyai seragam.

Ia mempunyai gelar.

Ia mempunyai istana.

Ia mempunyai silsilah.

Ia mempunyai aturan yang mengatakan:

“Engkau lebih rendah karena engkau dilahirkan lebih rendah.”

Hierarki modern jauh lebih cerdas.

Ia tidak selalu mengatakan:

“Engkau lebih rendah.”

Ia mengatakan:

“Engkau mendapatkan posisi ini karena prestasimu.”

Perhatikan perubahan bahasa tersebut.

Yang pertama adalah bahasa aristokrasi.

Yang kedua adalah bahasa meritokrasi.

Yang pertama mengatakan bahwa posisi ditentukan oleh kelahiran.

Yang kedua mengatakan bahwa posisi ditentukan oleh kemampuan.

Tetapi keduanya memiliki satu kesamaan:

keduanya menghasilkan manusia yang berada di atas dan manusia yang berada di bawah.

Perbedaannya hanya pada cara hierarki itu memperoleh legitimasi.

Dalam sistem lama, seseorang dapat berkata:

“Aku berada di atas karena leluhurku berada di atas.”

Dalam sistem modern, seseorang berkata:

“Aku berada di atas karena aku pantas berada di atas.”

Yang satu mewarisi darah.

Yang lainnya dapat mewarisi modal, pendidikan, jaringan, keamanan ekonomi, budaya keluarga, kesehatan, kesempatan, dan lingkungan—lalu menyebut hasil akhirnya sebagai merit pribadi.

Ini tidak berarti setiap keberhasilan adalah penipuan.

Tidak.

Manusia memang memiliki kemampuan berbeda.

Kerja keras memang ada.

Bakat memang ada.

Disiplin memang ada.

Keberanian memang ada.

Tetapi persoalan arkeologisnya bukan:

“Apakah usaha pribadi tidak penting?”

Pertanyaannya jauh lebih mengganggu:

“Berapa banyak dari apa yang kita sebut sebagai prestasi pribadi sebenarnya dibentuk oleh kondisi yang tidak pernah kita pilih?”

Anak yang lahir dalam keluarga kaya tidak otomatis menjadi pintar.

Tetapi ia mungkin lahir dalam rumah yang menyediakan buku.

Ia mungkin mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Ia mungkin tidak perlu bekerja ketika teman sebayanya harus membantu keluarga.

Ia mungkin memiliki ruang untuk gagal.

Ia mungkin mempunyai orang tua yang memahami sistem.

Ia mungkin memiliki jaringan sosial yang membuka pintu.

Dan yang paling penting:

ia memiliki hak istimewa untuk melakukan kesalahan tanpa langsung dihancurkan oleh kesalahan itu.

Sementara seseorang yang lahir dalam kondisi miskin mungkin tidak kurang berbakat.

Ia hanya tidak memiliki kemewahan untuk gagal.

Maka ketika dua orang akhirnya berdiri di puncak yang berbeda, masyarakat modern sering kali melihat perbedaan tersebut sebagai bukti sederhana:

yang satu lebih layak.

Di sinilah hierarki memperoleh wajah barunya.


Ketika Hierarki Menjadi Moral

Meritokrasi terdengar adil.

Bahkan sangat adil.

Bukankah seharusnya orang yang bekerja keras mendapatkan lebih banyak?

Bukankah orang yang memiliki kemampuan lebih besar layak mendapatkan penghargaan lebih besar?

Bukankah masyarakat akan kacau jika prestasi tidak dihargai?

Masalahnya bukan pada prinsip menghargai kemampuan.

Masalahnya muncul ketika masyarakat mengubah perbedaan hasil menjadi perbedaan nilai manusia.

Di sinilah sesuatu yang berbahaya terjadi.

Seseorang tidak lagi hanya berkata:

“Aku memperoleh lebih banyak.”

Ia mulai berkata:

“Aku memperoleh lebih banyak karena aku lebih baik.”

Dan dari sana lahirlah dosa lama manusia:

mengubah keberuntungan menjadi kebajikan.

Orang kaya tidak hanya menjadi kaya.

Ia dianggap berhasil.

Orang miskin tidak hanya menjadi miskin.

Ia dianggap gagal.

Orang berpendidikan tinggi tidak hanya memiliki pengetahuan lebih banyak.

Ia dianggap lebih beradab.

Orang yang tidak memiliki pendidikan formal tinggi tidak hanya memiliki akses pendidikan lebih sedikit.

Ia sering dianggap kurang mampu.

Orang yang memiliki tubuh ideal tidak hanya memiliki bentuk tubuh tertentu.

Ia dianggap lebih disiplin.

Orang yang populer tidak hanya memiliki perhatian lebih banyak.

Ia dianggap lebih menarik, lebih relevan, lebih bernilai.

Hierarki ekonomi berubah menjadi hierarki moral.

Yang berada di atas dianggap pantas berada di atas.

Dan yang lebih kejam:

yang berada di bawah mulai percaya bahwa mereka pantas berada di bawah.

Inilah saat kekuasaan tidak lagi membutuhkan cambuk.

Ia cukup memberikan manusia sebuah cermin.

Kemudian manusia akan menghukum dirinya sendiri.


Kekayaan sebagai Bentuk Baru Darah Bangsawan

Dahulu manusia bertanya:

“Dari keluarga mana engkau berasal?”

Hari ini pertanyaannya bisa berubah menjadi:

“Apa pekerjaanmu?”

“Di mana kau tinggal?”

“Sekolah di mana?”

“Mobil apa?”

“Berapa penghasilanmu?”

“Punya rumah sendiri?”

Bahasa berubah.

Fungsi sosialnya kadang tetap.

Kita masih mencari tanda-tanda untuk mengetahui:

siapa yang pantas dihormati.

Kekayaan adalah salah satu tanda paling kuat.

Tetapi kekayaan tidak pernah hanya berbicara tentang uang.

Ia berbicara tentang akses.

Akses terhadap pendidikan.

Akses terhadap kesehatan.

Akses terhadap waktu.

Akses terhadap informasi.

Akses terhadap koneksi.

Akses terhadap ruang aman.

Akses terhadap kesempatan.

Karena itu, kekayaan memiliki kemampuan aneh:

ia dapat membeli waktu untuk menjadi lebih baik.

Orang yang tidak perlu memikirkan bagaimana membayar kebutuhan dasar memiliki ruang mental yang berbeda dengan orang yang setiap bulan hidup dalam ketakutan terhadap pengeluaran.

Seseorang dapat mengambil kursus.

Seseorang dapat membaca.

Seseorang dapat membangun bisnis.

Seseorang dapat bepergian.

Seseorang dapat mencoba dan gagal.

Sementara orang lain mungkin hanya memiliki satu pilihan:

bertahan hidup.

Namun setelah semuanya selesai, masyarakat sering melihat hasil akhirnya saja.

Ia melihat orang yang berhasil.

Ia tidak melihat seluruh struktur yang memungkinkan keberhasilan itu.

Maka lahirlah mitos:

“Kalau aku bisa, semua orang juga bisa.”

Kalimat tersebut terdengar seperti motivasi.

Tetapi kadang ia merupakan bentuk kebutaan sosial yang sangat halus.

Karena kemampuan untuk berkata “aku bisa” sendiri sering kali merupakan hasil dari kondisi yang tidak dimiliki semua orang.


Pendidikan dan Produksi Manusia yang “Layak”

Jika kekayaan adalah salah satu mata uang hierarki, pendidikan adalah mata uang lainnya.

Sekolah dan universitas tidak hanya menghasilkan pengetahuan.

Mereka juga menghasilkan legitimasi sosial.

Gelar menjadi simbol.

Institusi menjadi simbol.

Nama universitas menjadi simbol.

Cara berbicara menjadi simbol.

Kosakata menjadi simbol.

Bahkan cara seseorang menulis pesan dapat menjadi tanda kelas.

Masyarakat tidak hanya bertanya:

“Apa yang kau ketahui?”

Ia juga bertanya:

“Dari mana kau belajar?”

Ini penting.

Karena pengetahuan dan prestise tidak selalu identik.

Seseorang bisa sangat cerdas tanpa memperoleh gelar tinggi.

Seseorang bisa memiliki gelar tinggi tanpa memiliki kebijaksanaan.

Tetapi masyarakat membutuhkan simbol yang sederhana.

Ia tidak memiliki waktu untuk membaca keseluruhan manusia.

Maka ia menggunakan tanda.

Gelar.

Jabatan.

Institusi.

Pakaian.

Bahasa.

Alamat.

Dan dari tanda-tanda itu, manusia menebak nilai manusia lainnya.

Hierarki kemudian tidak perlu menjelaskan dirinya.

Ia cukup menampilkan simbol.


Tubuh sebagai Kapital Sosial

Kemudian datang tubuh.

Tubuh yang dahulu hanya dianggap sebagai bagian biologis manusia kini menjadi semacam proyek sosial.

Tubuh harus dirawat.

Dibentuk.

Dipamerkan.

Dikoreksi.

Diabadikan.

Dibandingkan.

Dijual.

Dan pada akhirnya:

dinilai.

Kecantikan menjadi kapital.

Kekuatan fisik menjadi kapital.

Keremajaan menjadi kapital.

Penampilan menjadi kapital.

Bahkan kemampuan mempertahankan penampilan tertentu membutuhkan kapital ekonomi.

Gym membutuhkan uang.

Produk perawatan membutuhkan uang.

Waktu untuk merawat diri membutuhkan waktu luang.

Makanan tertentu membutuhkan akses.

Perawatan kesehatan tertentu membutuhkan biaya.

Tetapi setelah tubuh berhasil memenuhi standar sosial, hasilnya sering dibaca sebagai:

“Ia disiplin.”

Mungkin.

Tetapi arkeologi kekuasaan kembali bertanya:

“Siapa yang menentukan bentuk tubuh yang dianggap ideal?”

Mengapa tubuh tertentu dipuji?

Mengapa tubuh lain dipermalukan?

Mengapa seseorang merasa bersalah karena tidak memenuhi standar estetika?

Dan mengapa manusia akhirnya mengawasi tubuhnya sendiri bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang mengawasinya?

Karena kekuasaan yang paling efektif adalah kekuasaan yang telah berpindah:

dari luar tubuh menuju kesadaran tubuh.

Tidak perlu ada polisi kecantikan.

Manusia telah menjadi polisi bagi dirinya sendiri.


Popularitas: Demokratisasi Takhta

Media sosial membawa sesuatu yang tampak seperti revolusi.

Dahulu hanya sedikit orang yang memiliki panggung.

Sekarang hampir semua orang bisa berbicara.

Dahulu hanya bangsawan yang memiliki potret.

Sekarang setiap orang dapat membuat ribuan gambar dirinya sendiri.

Dahulu ketenaran adalah monopoli istana, media, atau industri.

Sekarang siapa pun bisa menjadi terkenal.

Ini tampak egaliter.

Tetapi kemudian muncul algoritma.

Dan algoritma melakukan sesuatu yang sangat tua:

mengurutkan manusia.

Siapa yang muncul lebih dahulu?

Siapa yang mendapatkan perhatian?

Siapa yang direkomendasikan?

Siapa yang diabaikan?

Siapa yang memperoleh jutaan mata?

Siapa yang hanya memperoleh beberapa puluh?

Platform modern mungkin tidak mempunyai istana.

Tetapi ia mempunyai ranking.

Ia tidak berkata:

“Orang ini bangsawan.”

Ia berkata:

“Konten ini lebih relevan.”

Tetapi hasilnya tetap berupa hierarki perhatian.

Manusia kemudian menginternalisasi angka.

Jumlah pengikut.

Jumlah suka.

Jumlah komentar.

Jumlah tayangan.

Jumlah pelanggan.

Jumlah penghasilan.

Angka-angka tersebut menjadi semacam wahyu sekuler.

Jika angka tinggi, manusia merasa dirinya nyata.

Jika angka rendah, ia mulai bertanya:

“Apa yang salah denganku?”

Ini adalah salah satu bentuk kekuasaan paling halus dalam zaman modern:

manusia mengukur dirinya menggunakan alat ukur yang tidak pernah ia ciptakan.


Produktivitas sebagai Agama Baru

Dunia modern memiliki satu moralitas yang sangat kuat:

jadilah produktif.

Bangun lebih pagi.

Kerja lebih keras.

Pelajari keterampilan baru.

Optimalkan hidup.

Bangun personal branding.

Monetisasi hobi.

Bangun jaringan.

Tingkatkan performa.

Jangan buang waktu.

Istirahat pun sering harus dijadikan produktif:

“self-improvement.”

Manusia akhirnya tidak lagi hanya bekerja.

Ia bekerja untuk menjadi manusia yang lebih bernilai.

Di sini produktivitas berubah menjadi moral.

Orang yang sibuk dianggap penting.

Orang yang menghasilkan uang dianggap berhasil.

Orang yang tidak produktif dianggap membuang hidup.

Tetapi pertanyaan nihilistik harus diajukan:

Mengapa manusia harus selalu membuktikan bahwa keberadaannya berguna?

Siapa yang menetapkan bahwa hidup harus menghasilkan sesuatu agar layak?

Mengapa diam dianggap malas?

Mengapa istirahat dianggap kelemahan?

Mengapa waktu yang tidak menghasilkan uang dianggap waktu yang terbuang?

Bukankah di sini manusia telah memasukkan logika pasar ke dalam jiwanya?

Ia tidak lagi membutuhkan majikan untuk mengatakan:

“Bekerjalah.”

Ia mengatakannya sendiri.

Ia bangun sendiri.

Ia memaksa dirinya sendiri.

Ia merasa bersalah ketika tidak produktif.

Ia membandingkan dirinya dengan manusia lain.

Dan ketika gagal memenuhi standar itu, ia berkata:

“Aku kurang disiplin.”

Kekuasaan telah mencapai bentuk yang hampir sempurna:

korban menjadi pengawasnya sendiri.


“Pilihan Pribadi” sebagai Tirai

Salah satu kata paling sakral dalam masyarakat modern adalah:

pilihan.

“Kau memilih hidupmu sendiri.”

“Kau memilih pekerjaanmu.”

“Kau memilih pasanganmu.”

“Kau memilih menjadi kaya.”

“Kau memilih untuk belajar.”

“Kau memilih untuk berubah.”

Sebagian benar.

Manusia memang memiliki kapasitas memilih.

Tetapi pilihan tidak pernah berlangsung dalam ruang kosong.

Manusia memilih dari antara kemungkinan yang tersedia.

Dan kemungkinan itu ditentukan oleh kondisi sosial, ekonomi, budaya, keluarga, kesehatan, pendidikan, lingkungan, hukum, teknologi, serta sejarah.

Maka kebebasan tidak selalu berarti:

semua orang memiliki pilihan yang sama.

Kebebasan bisa berarti:

semua orang memiliki hak memilih, tetapi tidak semua orang memiliki jumlah pilihan yang sama.

Dua manusia dapat berdiri di depan pintu.

Keduanya secara formal bebas untuk masuk.

Tetapi salah satunya mengetahui bahwa di dalam ruangan terdapat makanan, keamanan, dan peluang.

Yang lainnya mengetahui bahwa di dalam ruangan ada risiko kehilangan seluruh hidupnya.

Secara hukum:

keduanya bebas.

Secara eksistensial:

mereka tidak berada di tempat yang sama.

Inilah mengapa bahasa kesetaraan dapat menjadi sangat menipu.

Ia berbicara tentang hak yang sama sambil mengabaikan kapasitas yang berbeda untuk menggunakan hak tersebut.


Hierarki yang Tidak Lagi Memerlukan Penguasa

Di sinilah arkeologi kekuasaan menjadi lebih menarik.

Kita sering membayangkan kekuasaan sebagai seseorang yang memerintah seseorang lainnya.

Raja memerintah rakyat.

Atasan memerintah bawahan.

Polisi memerintah warga.

Orang tua memerintah anak.

Tetapi bentuk kekuasaan yang lebih modern tidak selalu membutuhkan pusat.

Ia dapat tersebar.

Ia hadir dalam kebiasaan.

Dalam standar.

Dalam prosedur.

Dalam angka.

Dalam penilaian.

Dalam norma.

Dalam algoritma.

Dalam bahasa.

Dalam cara kita memandang diri sendiri.

Kita tidak selalu tahu siapa yang memerintah.

Dan justru karena itu:

kita sulit memberontak.

Kepada siapa kita harus marah ketika merasa tidak cukup cantik?

Kepada siapa kita harus menggugat ketika pengikut kita sedikit?

Kepada siapa kita harus memberontak ketika gaji kita rendah?

Kepada siapa kita harus menuntut ketika hidup kita dianggap gagal?

Tidak ada raja.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada mahkota.

Yang ada hanyalah sistem penilaian yang tersebar di mana-mana.

Dan manusia bergerak mengikuti penilaian itu.


Kesetaraan yang Menjadi Pertunjukan

Ada bentuk kesetaraan yang sangat menarik:

kesetaraan sebagai pertunjukan.

Manusia ingin terlihat egaliter.

Ia berkata:

“Semua orang sama.”

Tetapi kemudian ia menunjukkan bahwa dirinya berbeda.

Ia ingin mengatakan bahwa status tidak penting.

Namun ia menggunakan simbol status.

Ia mengatakan uang bukan segalanya.

Tetapi ia memilih lingkungan berdasarkan kemampuan ekonomi.

Ia mengatakan semua pekerjaan terhormat.

Namun ia diam-diam menganggap beberapa pekerjaan lebih rendah.

Ia mengatakan penampilan tidak penting.

Tetapi algoritma, pasar, dan perhatian sosial terus memberi hadiah kepada penampilan tertentu.

Manusia modern akhirnya hidup dalam kontradiksi.

Ia secara moral memuji kesetaraan.

Tetapi secara psikologis ia tetap lapar terhadap hierarki.

Ia ingin menjadi unik.

Ia ingin menjadi lebih baik.

Ia ingin berbeda.

Ia ingin diakui.

Ia ingin memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Dengan kata lain:

manusia ingin dunia setara selama dirinya tetap memiliki alasan untuk merasa istimewa.


Superioritas Moral: Tangga yang Tidak Pernah Mati

Ketika uang tidak cukup, manusia mencari superioritas lain.

Jika tidak bisa lebih kaya, ia ingin lebih bermoral.

Jika tidak bisa lebih terkenal, ia ingin lebih sadar.

Jika tidak bisa lebih berpendidikan, ia ingin lebih “otentik.”

Jika tidak bisa lebih sukses, ia ingin lebih sederhana.

Jika tidak bisa memiliki status, ia dapat membangun identitas sebagai orang yang menolak status.

Ironisnya:

penolakan terhadap hierarki dapat berubah menjadi hierarki baru.

Manusia berkata:

“Aku tidak seperti mereka.”

Kalimat tersebut sering menjadi fondasi identitas.

“Aku lebih sadar.”

“Aku lebih kritis.”

“Aku lebih spiritual.”

“Aku lebih sederhana.”

“Aku lebih intelektual.”

“Aku lebih manusiawi.”

Dan tiba-tiba:

kesadaran menjadi kasta.

Nihilisme sendiri dapat menjadi pakaian kebanggaan.

Seseorang berkata bahwa ia tidak percaya pada apa pun.

Tetapi diam-diam ia bangga karena merasa lebih sadar daripada manusia yang masih percaya.

Ia menghancurkan satu altar lalu membangun altar baru dari puing-puing altar tersebut.

Manusia ternyata sangat sulit hidup tanpa sesuatu yang dapat membuatnya berkata:

“Aku lebih tinggi.”


Hierarki yang Telah Masuk ke Dalam Diri

Inilah bagian paling gelap.

Kekuasaan tidak lagi hanya berada di luar manusia.

Ia telah masuk ke dalam cara manusia menilai dirinya sendiri.

Seseorang bangun pagi.

Ia membuka ponsel.

Melihat kehidupan orang lain.

Seseorang mendapatkan pekerjaan.

Ia membandingkan gajinya dengan orang lain.

Seseorang menikah.

Ia membandingkan pasangannya dengan pasangan orang lain.

Seseorang membeli rumah.

Ia melihat rumah yang lebih besar.

Seseorang memiliki anak.

Ia melihat anak orang lain lebih berprestasi.

Seseorang menjadi tua.

Ia melihat manusia yang tampak lebih muda.

Tidak pernah selesai.

Selalu ada satu tingkat di atas.

Dan karena selalu ada tingkat di atas, manusia selalu dapat merasa kurang.

Kekurangan menjadi mesin.

Mesin konsumsi.

Mesin kerja.

Mesin ambisi.

Mesin kecemasan.

Mesin pembuktian.

Manusia tidak perlu lagi dipaksa mengejar.

Ia akan mengejar karena takut tertinggal.

Dan ketakutan tertinggal adalah salah satu bentuk kekuasaan paling produktif.


Neraka Bukan Lagi Tempat

Mungkin neraka modern bukan tempat setelah kematian.

Neraka modern adalah:

kesadaran bahwa selalu ada seseorang yang lebih tinggi darimu.

Lebih kaya.

Lebih cantik.

Lebih pintar.

Lebih populer.

Lebih muda.

Lebih sukses.

Lebih berpengaruh.

Lebih religius.

Lebih bermoral.

Lebih bahagia.

Lebih produktif.

Lebih sadar.

Bahkan seseorang yang sudah memiliki semuanya masih dapat menemukan satu manusia yang berada di atasnya.

Dan selama manusia membangun harga dirinya secara vertikal, ia akan selalu memiliki alasan untuk menderita.

Karena harga dirinya membutuhkan perbandingan.

Jika tidak ada orang yang lebih rendah, ia tidak tahu bagaimana merasa tinggi.

Jika tidak ada orang yang lebih tinggi, ia tidak tahu bagaimana merasa kurang.

Maka masyarakat menciptakan sebuah permainan yang tidak pernah selesai.

Naik.

Lalu naik lagi.

Lalu naik lagi.

Sampai manusia mati.

Dan setelah mati, orang lain mengambil tempatnya.


Kehidupan manusia tidak memiliki makna dan tujuan.

Di sinilah peran pemikiran suram diperlukan.

“Tidak ada makna.”

Ia dapat menjadi pertanyaan terhadap seluruh sistem nilai yang kita anggap alami.

Mengapa kesuksesan harus berarti kekayaan?

Mengapa kekayaan harus berarti keunggulan?

Mengapa keunggulan harus berarti kelayakan?

Mengapa manusia harus lebih tinggi daripada manusia lainnya agar merasa bernilai?

Mengapa hidup harus menjadi perlombaan?

Mengapa keberadaan harus menghasilkan ranking?

Mengapa seseorang harus menang agar hidupnya dianggap berarti?

Dan pertanyaan paling mengerikan:

siapa yang akan kita jadikan diri kita jika tidak ada lagi tangga sosial untuk dinaiki?

Pertanyaan ini membuat banyak manusia ketakutan.

Karena mungkin selama ini yang mereka sebut sebagai ambisi bukanlah cinta terhadap kehidupan.

Mungkin ia hanyalah:

ketakutan menjadi tidak penting.

Mungkin mereka tidak benar-benar ingin menjadi kaya.

Mereka hanya tidak ingin dianggap miskin.

Mereka tidak benar-benar ingin terkenal.

Mereka hanya takut dilupakan.

Mereka tidak benar-benar ingin berkuasa.

Mereka hanya takut tidak memiliki kendali.

Mereka tidak benar-benar ingin menjadi lebih baik.

Mereka hanya takut menjadi lebih rendah.

Dan jika demikian, sebagian besar kehidupan manusia dapat dibaca sebagai pelarian dari satu kata:

inferior.


Kajian Kekuasaan: Siapa yang Membuat Tangga?

Maka tugas kita bukan sekadar menghancurkan orang yang berada di atas.

Itu terlalu sederhana.

Arkeologi kekuasaan menuntut sesuatu yang lebih sulit:

membongkar bagaimana tangga itu dibuat.

Siapa yang menentukan bahwa pekerjaan tertentu terhormat?

Siapa yang menentukan bahwa bentuk tubuh tertentu indah?

Siapa yang menentukan bahwa sekolah tertentu lebih bergengsi?

Siapa yang menentukan bahwa bahasa tertentu lebih beradab?

Siapa yang menentukan bahwa orang kaya lebih berhasil?

Siapa yang menentukan bahwa orang miskin kurang berusaha?

Siapa yang menentukan bahwa manusia harus produktif?

Siapa yang menentukan apa yang disebut sukses?

Siapa yang menentukan apa yang disebut gagal?

Dan yang paling penting:

mengapa kita mempercayainya?

Karena kekuasaan yang paling tua tidak selalu mengatakan:

“Percayalah kepadaku.”

Ia berkata:

“Percayalah bahwa beginilah dunia bekerja.”

Ketika manusia menerima suatu aturan sebagai kenyataan alamiah, kekuasaan tidak lagi terlihat.

Ia berubah menjadi “akal sehat.”

Dan sesuatu yang disebut akal sehat sering kali merupakan makam bagi pertanyaan-pertanyaan yang pernah dianggap berbahaya.


Mereka yang Berada di Bawah Ikut Menjaga Tangga

Ada paradoks yang lebih gelap lagi.

Hierarki dapat bertahan bukan hanya karena orang-orang di atas mempertahankannya.

Tetapi karena orang-orang di bawah juga dapat mempertahankannya.

Mengapa?

Karena manusia tidak hanya ingin naik.

Ia juga ingin memiliki seseorang untuk dilampaui.

Seorang pekerja yang dieksploitasi dapat tetap merasa superior terhadap orang lain yang dianggap lebih rendah.

Orang miskin dapat membenci orang miskin lainnya karena alasan moral.

Orang yang tidak memiliki pendidikan dapat merendahkan orang lain berdasarkan pekerjaan.

Orang yang tidak memiliki kekuasaan dapat memperoleh sedikit kekuasaan dengan mempermalukan seseorang yang lebih lemah.

Inilah cara hierarki mereproduksi dirinya.

Ia membagi rasa sakit menjadi tingkatan.

Setiap orang memperoleh kesempatan menjadi penindas bagi seseorang yang lebih rendah.

Maka tidak semua manusia ingin menghancurkan tangga.

Sebagian hanya ingin:

mendapatkan anak tangga yang lebih tinggi.


Persamaan Formal, Ketimpangan Eksistensial

Kita kemudian sampai pada paradoks modern masa kini.

Secara hukum:

manusia setara.

Secara simbolik:

manusia berbeda.

Secara ekonomi:

manusia sangat tidak setara.

Secara psikologis:

manusia terus membandingkan diri.

Secara budaya:

manusia terus menciptakan kategori tinggi dan rendah.

Maka mungkin proyek kesetaraan belum gagal.

Mungkin ia bahkan belum selesai.

Tetapi kita harus mengakui satu hal:

menghapus aristokrasi tidak otomatis menghapus aristokratisme dari jiwa manusia.

Kita dapat menghancurkan takhta.

Tetapi manusia dapat menciptakan takhta baru dari uang.

Dari gelar.

Dari popularitas.

Dari kecantikan.

Dari moralitas.

Dari kecerdasan.

Dari kesadaran.

Dari spiritualitas.

Dari ideologi.

Bahkan dari penderitaan.

Seseorang dapat berkata:

“Aku telah menderita lebih banyak, maka penderitaanku memberiku otoritas.”

Dan sekali lagi:

manusia berdiri di atas manusia lain.


Kesetaraan sebagai Ancaman bagi Ego

Mengapa hierarki begitu sulit mati?

Karena hierarki memberikan struktur bagi ego.

Ia memberi manusia jawaban terhadap pertanyaan:

“Siapa aku?”

Aku adalah direktur.

Aku adalah pemilik.

Aku adalah akademisi.

Aku adalah influencer.

Aku adalah orang kaya.

Aku adalah orang saleh.

Aku adalah orang pintar.

Aku adalah orang yang paling sadar.

Aku adalah orang yang berbeda.

Identitas tersebut tidak selalu buruk.

Tetapi ketika identitas membutuhkan posisi relatif terhadap manusia lain, ego mulai membutuhkan hierarki.

Aku bukan hanya pintar.

Aku harus lebih pintar.

Aku bukan hanya sukses.

Aku harus lebih sukses.

Aku bukan hanya baik.

Aku harus lebih baik.

Karena itu:

kesetaraan radikal dapat terasa seperti kematian ego.

Jika tidak ada siapa pun yang lebih rendah, kepada siapa aku akan membandingkan keunggulanku?

Jika tidak ada siapa pun yang lebih tinggi, kepada siapa aku akan mengarahkan rasa rendah diriku?

Mungkin manusia takut pada kesetaraan bukan karena kesetaraan tidak adil.

Mungkin sebagian manusia takut karena kesetaraan membuat mereka kehilangan panggung.


Manusia Tanpa Tangga

Bayangkan sebuah dunia di mana manusia tidak lagi ditentukan oleh ranking.

Tidak ada pekerjaan yang secara otomatis membuat manusia lebih bernilai.

Tidak ada kekayaan yang otomatis berarti superioritas.

Tidak ada kemiskinan yang otomatis berarti kegagalan.

Tidak ada popularitas yang otomatis berarti relevansi.

Tidak ada ketidakterkenalan yang otomatis berarti ketidakberartian.

Tidak ada gelar yang otomatis membuat seseorang lebih manusia.

Tidak ada kegagalan yang otomatis membuat seseorang lebih rendah.

Dunia seperti itu mungkin terdengar membebaskan.

Tetapi ia juga menakutkan.

Karena manusia kehilangan satu hal:

ukuran eksternal untuk menentukan harga dirinya.

Ia harus menghadapi dirinya sendiri.

Dan di sana nihilisme berdiri seperti cermin yang dingin.

Tidak ada Tuhan sosial yang berkata:

“Engkau berharga karena engkau berada di sini.”

Tidak ada algoritma yang berkata:

“Engkau penting karena jutaan orang melihatmu.”

Tidak ada gelar yang berkata:

“Engkau cerdas.”

Tidak ada uang yang berkata:

“Engkau berhasil.”

Tidak ada status yang berkata:

“Engkau lebih tinggi.”

Yang tersisa hanya manusia.

Telanjang dari simbol.

Tanpa mahkota.

Tanpa ranking.

Tanpa penonton.

Dan mungkin itulah yang paling ditakuti manusia:

bukan kematian, tetapi kemungkinan bahwa dirinya harus hidup tanpa saksi yang mengonfirmasi bahwa ia penting.


Kekuasaan yang Paling Sempurna adalah Kekuasaan yang Tidak Terlihat

Pada akhirnya, hierarki modern tidak selalu berdiri seperti piramida.

Ia lebih menyerupai kabut.

Ia masuk ke bahasa.

Ke pendidikan.

Ke pasar.

Ke keluarga.

Ke tubuh.

Ke pekerjaan.

Ke agama.

Ke moralitas.

Ke media.

Ke algoritma.

Ke cara kita berbicara kepada diri sendiri.

Ia tidak selalu memaksa kita.

Ia membentuk apa yang kita inginkan.

Dan di sinilah perbedaan antara kekuasaan kasar dan kekuasaan yang matang.

Kekuasaan kasar berkata:

“Lakukan apa yang kuperintahkan.”

Kekuasaan yang lebih matang berkata:

“Inginkan apa yang memang kuinginkan darimu.”

Manusia kemudian bekerja keras mengejar sesuatu yang ia kira merupakan impiannya sendiri.

Ia membeli simbol status.

Ia mengejar popularitas.

Ia mengejar jabatan.

Ia mengejar pengakuan.

Ia mengejar kekayaan.

Ia mengejar tubuh ideal.

Ia mengejar pendidikan.

Ia mengejar produktivitas.

Ia mengejar kesempurnaan.

Dan ketika akhirnya mencapai semuanya, ia bertanya:

“Mengapa aku masih merasa kosong?”

Mungkin karena ia memenangkan permainan yang tidak pernah ia pilih.


Akhir kata: Tidak Ada Takhta yang Hilang, Hanya Takhta yang Berganti Bentuk

Maka mungkin manusia modern terlalu cepat merayakan kematian hierarki.

Kita melihat runtuhnya aristokrasi dan mengira bahwa manusia telah dibebaskan.

Padahal hierarki hanya mengganti kostum.

Darah diganti uang.

Silsilah diganti gelar.

Istana diganti gedung.

Mahkota diganti jabatan.

Pengawal diganti sistem keamanan.

Pujian istana diganti angka pengikut.

Keturunan bangsawan diganti personal branding.

Kehormatan turun-temurun diganti prestasi.

Dan takhta?

Takhta masih ada.

Hanya saja sekarang ia dapat berbentuk apa saja.

Sebuah rekening bank.

Sebuah jabatan.

Sebuah nama besar.

Sebuah tubuh.

Sebuah gelar.

Sebuah akun dengan jutaan pengikut.

Sebuah mimbar.

Sebuah organisasi.

Sebuah institusi.

Bahkan sebuah gagasan.

Dan manusia tetap melakukan ritual yang sama:

mencari tempat di atas.

Maka mungkin kalimat:

“Semua manusia setara.”

belum cukup.

Pertanyaan yang lebih radikal adalah:

“Mengapa manusia membutuhkan seseorang untuk berada di bawahnya agar ia dapat merasa berada di atas?”

Di situlah nihilisme menjadi pisau.

Ia memotong bukan hanya nilai.

Ia memotong kebutuhan kita terhadap nilai yang disusun secara vertikal.

Dan arkeologi kekuasaan melakukan pekerjaan yang lebih kejam:

ia menggali tulang-belulang yang berada di bawah nilai tersebut.

Ia bertanya siapa yang diuntungkan.

Siapa yang dikorbankan.

Siapa yang diberi nama “berhasil”.

Siapa yang diberi nama “gagal”.

Siapa yang diberi kesempatan.

Siapa yang disuruh menunggu.

Siapa yang diberi hak untuk berbicara.

Siapa yang diminta diam.

Siapa yang dianggap pintar.

Siapa yang dianggap bodoh.

Siapa yang dianggap suci.

Siapa yang dianggap hina.

Karena mungkin kekuasaan tidak pernah benar-benar membutuhkan manusia untuk percaya bahwa penguasa mereka sempurna.

Ia hanya membutuhkan manusia untuk percaya bahwa:

posisi mereka adalah sesuatu yang alamiah.

Dan ketika sebuah hierarki berhasil terlihat alamiah, ia tidak lagi membutuhkan pembela.

Manusia akan membelanya sendiri.

Mereka akan mengatakan:

“Memang begitulah dunia.”

Kalimat itu mungkin merupakan salah satu kalimat paling berbahaya yang pernah diciptakan manusia.

Sebab setiap kali manusia mengatakan:

“Memang begitulah dunia.”

ada kemungkinan bahwa yang sedang ia sebut sebagai dunia sebenarnya hanyalah:

sejarah kekuasaan yang telah terlalu lama berlangsung sehingga kehilangan wajah aslinya.


Menuju Artikel Hiburan Kita selanjutnya.

Tetapi hierarki tidak hanya diwariskan melalui uang, pendidikan, atau status.

Ada sebuah institusi yang jauh lebih tua.

Lebih intim.

Lebih dekat daripada negara.

Lebih dalam daripada pasar.

Lebih kuat daripada hukum.

Ia berada di ruang pertama tempat manusia belajar tentang kepatuhan.

Di sana seorang anak pertama kali belajar siapa yang boleh berbicara.

Siapa yang harus diam.

Siapa yang menentukan benar dan salah.

Siapa yang memiliki tubuh.

Siapa yang memiliki nama.

Siapa yang mewarisi sesuatu.

Siapa yang harus mempertahankan nama keluarga.

Dan di sanalah kekuasaan menemukan rahim untuk bereproduksi.

Keluarga.

Ketika kekuasaan tidak lagi membutuhkan pewaris takhta, karena ia dapat mewariskan dirinya melalui darah, nama, pendidikan, moralitas, ingatan, dan anak-anak.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest