You are currently viewing Standar Ganda dan Kegelapan Ego; Sifat manusia Haus untuk Menguasai dan mengendalikan

Standar Ganda dan Kegelapan Ego; Sifat manusia Haus untuk Menguasai dan mengendalikan

Bagikan bila kamu menyukainya

Artikel ini termasuk arsip terlarang (deep web) sebagai jurnal pribadi (disembunyikan), sebab artikel ini berbahaya.

Manusia sering membanggakan dirinya sebagai makhluk paling bermoral di muka bumi. Mereka menciptakan agama, hukum, norma, tata krama, hingga ribuan kata indah tentang cinta, keadilan, dan kemanusiaan. Namun di balik semua itu, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua dari pada moralitas: ego yang lapar akan dominasi. Ego yang selalu ingin merasa lebih tinggi, lebih benar, lebih suci, lebih kuat dibanding manusia lain. Dan dari sanalah lahir kemunafikan yang menjadi fondasi paling tersembunyi dari kehidupan sosial manusia.

Kemunafikan bukan sekadar perilaku buruk. Ia adalah mekanisme bertahan hidup manusia di dalam dunia sosial. Manusia memakai topeng moral bukan karena mereka benar-benar mencintai kebenaran, tetapi karena mereka membutuhkan penerimaan, kekuasaan, dan citra baik demi mempertahankan posisi mereka di hadapan sesamanya. Moralitas sering kali hanyalah kosmetik bagi ego yang busuk.

Mereka berkata bahwa semua manusia setara, tetapi memperlakukan orang miskin seperti sampah yang gagal menjadi manusia. Mereka berkata jangan menilai seseorang dari materi, tetapi ukuran penghormatan mereka berubah total ketika melihat status sosial, uang, dan kekuasaan. Mereka berkata jangan sombong, tetapi diam-diam memuja orang yang memiliki kekuatan untuk membuat orang lain tunduk. Dunia manusia dipenuhi kontradiksi yang begitu absurd hingga terkadang terasa seperti lelucon kosmik yang kejam.

Dan ironinya, manusia tidak hanya membohongi orang lain. Mereka juga membohongi dirinya sendiri.

Kelemahan Adalah Undangan untuk Dihancurkan

Di dalam kehidupan sosial, kelemahan bukanlah sesuatu yang dihormati. Kelemahan adalah aroma darah di tengah kumpulan predator yang menggunakan moralitas sebagai senjata mereka. Ketika dirimu miskin, gagal, tidak berdaya, tidak memiliki pengaruh, banyak manusia mulai memperlakukanmu seolah keberadaanmu tidak lagi memiliki nilai. Mereka mungkin tersenyum di depanmu, berbicara lembut, bahkan berpura-pura peduli. Tetapi di dalam batin mereka terdapat rasa superioritas yang diam-diam menikmati keadaanmu.

Karena penderitaan orang lain sering kali menjadi obat penenang bagi ego manusia.

Melihat orang lain lebih rendah membuat mereka merasa hidupnya tidak terlalu menyedihkan. Melihat orang lain gagal membuat mereka merasa dirinya lebih berhasil. Bahkan belas kasihan terkadang hanyalah bentuk kesombongan yang paling elegan. Sebab di dalam rasa kasihan tersembunyi kenikmatan psikologis bahwa “aku lebih baik daripada dirimu.”

Manusia tidak pernah benar-benar nyaman melihat sesamanya setara. Mereka membutuhkan hierarki. Dan mereka menginginkan kamu bodoh agar mereka dapat memanfaatkan kebodohanmu, Mereka membutuhkan seseorang yang berada di bawah agar ego mereka memiliki tempat berdiri. Dan itulah mengapa dunia sosial sangat kejam terhadap kelemahan.

Ketika dirimu tidak memiliki uang, orang mulai berbicara kepadamu dengan nada berbeda. Pendapatmu dianggap kurang penting. Kehadiranmu dianggap biasa saja. Bahkan nilai dirimu perlahan diukur berdasarkan apa yang dapat kamu berikan secara materi atau status sosial. Dunia mengatakan manusia memiliki harga diri, tetapi kenyataannya banyak manusia hanya dihargai sejauh mereka berguna bagi keuntungan mereka atau sistem sosial.

Kemiskinan bukan hanya kekurangan uang. Kemiskinan sering kali adalah kehilangan martabat di mata manusia lain.

Dan yang lebih gelap lagi, sebagian manusia menikmati hal itu.

Mereka menikmati ketika dirimu membutuhkan bantuan mereka, sebab kebutuhanmu memberi mereka rasa kuasa. Mereka menikmati ketika dirimu bergantung, sebab ketergantunganmu membuat mereka merasa penting. Ego manusia sangat haus untuk merasa dibutuhkan, bahkan jika itu berarti orang lain harus tetap lemah dan bodoh.

Ketika Dirimu Kuat, mereka mulai membencimu

Ketika dirimu mulai kuat, memiliki uang, pengaruh, kecerdasan, atau keberanian untuk tidak tunduk, manusia seperti mereka tidak otomatis menghormatimu. Tidak. Banyak manusia justru mulai membencimu dengan cara yang lebih halus dan lebih beracun.

Mereka menyebutmu sombong.

Mereka berkata dirimu berubah.

Mereka mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaanmu.

Karena kekuatanmu menghancurkan ilusi superioritas mereka terutama menghancurkan kepentingan mereka dalam memanfaatkan kebodohanmu karena tujuan mereka hanya menguji keberuntungan mereka untuk membodohimu dengan menghasilkan keuntungan dari kebodohanmu sebagaimana banyak manusia busuk berbuat jahat hanya sekedar menguji seberapa cerdas dirimu untuk dapat dibodoh-bodohi dengan memperoleh keuntungan semata dengan menguji keberuntungan.

Selama dirimu lemah, mereka merasa aman. Mereka dapat mengendalikanmu, menasihatimu, mengasihanimu, atau memperlakukanmu sesuka hati. Tetapi ketika dirimu tidak lagi membutuhkan validasi mereka, ego mereka mulai terluka. Sebab manusia sering kali tidak mencintai kebebasan orang lain. Mereka hanya mencintai versi dirimu yang mudah dikendalikan.

Mereka merasa tidak senang terhadap dirimu, karena dirimu tidak dapat mereka bodohi karena kepentingan mereka hanya sekedar mengambil keuntungan dari kebodohanmu. Namun penderitaan tidak berhenti ketika dirimu bangkit. Di situlah absurditas manusia mencapai bentuk paling telanjang.

Di sinilah terlihat bahwa kebencian manusia sering kali bukan lahir karena kejahatan, melainkan karena hilangnya kontrol.

Orang-orang tidak marah karena dirimu sukses. Mereka marah karena kesuksesanmu membuat mereka kehilangan posisi dominan atas dirimu.

Mereka merasa terganggu ketika seseorang yang dulu diremehkan mulai berdiri lebih tinggi. Sebab itu memaksa mereka berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa superioritas mereka selama ini hanyalah ilusi.

Dan ego manusia sangat membenci kenyataan yang menghancurkan ilusinya.

Moralitas: Topeng Terindah bagi Nafsu Menguasai

Sebagian besar manusia tidak hidup berdasarkan prinsip. Mereka hidup berdasarkan kepentingan yang berubah-ubah. Moralitas hanyalah alat fleksibel yang disesuaikan dengan keadaan.

Ketika mereka membutuhkanmu, mereka berbicara tentang kesetiaan.

Ketika mereka takut kehilanganmu, mereka berbicara tentang cinta.

Ketika mereka ingin mengendalikanmu, mereka berbicara tentang moralitas.

Ketika mereka iri padamu, mereka mulai berbicara tentang kesederhanaan.

Manusia sangat pandai mengubah bahasa moral menjadi senjata psikologis.

Mereka menyebutmu arogan ketika dirimu tidak tunduk.

Mereka menyebutmu jahat ketika dirimu berhenti dimanfaatkan.

Mereka menyebutmu berubah ketika dirimu mulai memiliki batasan terhadap perlakuan mereka.

Padahal yang sebenarnya berubah bukan dirimu, melainkan hilangnya akses mereka untuk mengendalikan hidupmu.

Dan di situlah letak kebusukan terdalam manusia: mereka sering menyamakan kehilangan kontrol dengan kejahatan orang lain.

Dunia Sosial Adalah Arena Ego

Jika diperhatikan lebih dalam, sebagian besar hubungan manusia dibangun bukan atas dasar ketulusan, melainkan transaksi ego yang sangat kompleks.

Pertemanan bertahan selama saling menguntungkan.

Kesetiaan bertahan selama tidak mengorbankan kepentingan pribadi.

Kebaikan bertahan selama masih memberikan citra moral.

Bahkan cinta sering kali hanyalah bentuk kepemilikan emosional.

Manusia berkata, “Aku mencintaimu.”

Tetapi sering kali yang mereka maksud adalah:

“Aku takut kehilangan perasaan nyaman yang kamu berikan kepadaku.”

Mereka tidak mencintai manusia lain sepenuhnya. Mereka mencintai bagaimana manusia lain membuat ego mereka merasa hidup.

Dan ketika seseorang berhenti memberi rasa nyaman itu, cinta perlahan berubah menjadi kebencian, manipulasi, atau rasa dingin yang mengerikan.

Begitulah rapuhnya hubungan manusia.

Karena fondasinya sering kali bukan ketulusan, melainkan kebutuhan psikologis yang egois.

Dirimu tidak membenci mereka malainkan mereka lah yang membencimu, Karena satu alasan yang mendasarinya; kebencian. Yang lahir ketika manusia memandang manusia lainnya berdasarkan kebermanfaatan, oleh sebab itu jadilah manusia yang bermanfaat karena bisa jadi kemungkinan kebencian itu lahir ketika mereka menganggap dirimu adalah orang tidak dapat mereka manfaatkan sebagaimana sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat.

Hiburan Kita.

Kebahagiaan Manusia Sering Berdiri di Atas Penderitaan Orang Lain

Ini adalah sisi tergelap yang jarang diakui manusia.

Banyak kebahagiaan manusia lahir dari perbandingan sosial.

Mereka merasa bahagia bukan karena hidupnya benar-benar indah, tetapi karena masih ada orang lain yang lebih menderita dari pada dirinya.

Mereka merasa bangga ketika lebih kaya.

Mereka merasa puas ketika lebih rupawan.

Mereka merasa tenang ketika lebih sukses.

Mereka merasa hidup ketika ada seseorang yang bisa dipandang lebih rendah.

Karena ego manusia tidak hanya membutuhkan kebahagiaan. Ego membutuhkan kemenangan.

Dan kemenangan selalu membutuhkan pihak yang kalah.

Itulah mengapa dunia sosial diam-diam dipenuhi rasa iri yang tidak pernah selesai. Media sosial hanyalah panggung besar tempat manusia saling mempertontonkan kehidupan demi mencari validasi dan superioritas psikologis. Orang-orang tersenyum di foto sambil diam-diam berharap hidupnya terlihat lebih bahagia dari pada orang lain.

Bahkan penderitaan pun terkadang dijadikan alat untuk mencari kekuasaan moral.

Manusia bisa berlomba menjadi korban agar mendapat simpati.

Mereka bisa memanipulasi rasa sakit demi perhatian.

Mereka bisa memakai luka sebagai identitas agar dunia merasa bersalah kepada mereka.

Karena pada akhirnya, bahkan kesedihan pun dapat menjadi alat ego.

Alam Bawah Sadar Manusia Haus Akan Dominasi

Di dalam dasar terdalam psikologi manusia, terdapat naluri primitif yang tidak pernah benar-benar mati: kehendak untuk berkuasa.

Manusia ingin mengendalikan sesuatu agar tidak merasa kecil di hadapan kekacauan hidup.

Mereka ingin mengendalikan orang lain yang mereka anggap menguntungan.

Mengendalikan lingkungan sosial.

Mengendalikan opini.

Mengendalikan citra.

Mengendalikan bagaimana orang lain memandang dirinya.

Dan ketika mereka gagal mengendalikan hidup, mereka mencoba mengendalikan manusia lain.

Itulah sebabnya sebagian orang sangat marah melihat orang lain bebas.

Kebebasan orang lain terasa seperti ancaman.

Seseorang yang tidak membutuhkan validasi sosial membuat manusia lain gelisah.

Seseorang yang tidak mudah dikendalikan membuat ego merasa tidak berdaya.

Karena ego manusia hanya nyaman ketika memiliki pengaruh atas sesuatu.

Dan di situlah kebencian sering lahir.

Bukan karena dirimu salah.

Tetapi karena dirimu tidak tunduk.

Kemunafikan Adalah Bahasa Universal Manusia

Manusia mengutuk kebohongan sambil terus berbohong kepada dirinya sendiri.

Mereka mengutuk pengkhianatan sambil diam-diam mengkhianati prinsipnya sendiri demi keuntungan.

Mereka mengutuk kesombongan sambil haus dipuji.

Mereka mengutuk kerakusan sambil iri terhadap keberhasilan orang lain.

Mereka mengutuk manipulasi sambil memainkan citra moral setiap hari.

Kemunafikan bukan pengecualian.

Ia adalah fondasi tersembunyi peradaban manusia masa kini.

Sebab manusia tidak cukup kuat untuk hidup sepenuhnya jujur terhadap dirinya sendiri.

Kejujuran sejati terlalu mengerikan.

Karena jika manusia benar-benar jujur, mereka akan menyadari bahwa banyak keputusan hidupnya tidak lahir dari cinta atau moralitas, melainkan dari rasa takut, iri, kesepian, dan kebutuhan untuk merasa lebih berarti dibanding manusia lain.

Dan mungkin itulah alasan mengapa manusia terus menciptakan kebisingan sosial.

Mereka takut mendengar isi batinnya sendiri.

Dunia Tidak Membenci Kejahatan, Dunia Membenci Ketidakmampuan Mengendalikan

Ini adalah kenyataan yang paling pahit.

Sering kali dunia memaafkan orang jahat yang kuat, tetapi menghina orang baik yang lemah.

Kekuatan memiliki daya hipnosis yang aneh terhadap manusia.

Orang bisa mengagumi penindas selama penindas itu sukses.

Orang bisa memuja kekuasaan meskipun kekuasaan itu kejam.

Orang bisa membenci kebenaran hanya karena kebenaran itu datang dari seseorang yang tidak mereka sukai.

Karena manusia jarang benar-benar berpihak pada moralitas.

Mereka lebih sering berpihak pada kekuatan.

Moralitas hanyalah sesuatu yang dipakai selama tidak mengganggu kepentingan ego mereka.

Pada akhirnya, manusia adalah makhluk yang hidup di antara topeng dan kehampaan. Mereka berbicara tentang cahaya sambil membawa kegelapan di dalam dirinya. Mereka menginginkan cinta sambil haus menguasai. Mereka menginginkan kebebasan sambil ingin mengendalikan orang lain. Mereka ingin dihormati sambil gemar merendahkan.

Dan mungkin itulah tragedi terbesar manusia sesungguhnya atas realitas palsu tergantung bagaimana dirimu ditakdirkan.

mereka terlalu haus menjadi “sesuatu” di mata dunia hingga kehilangan kemampuan untuk benar-benar mengenal dirinya sendiri.

Mereka hidup demi pengakuan.

Mereka bertarung demi ilusi superioritas.

Mereka saling melukai demi memberi makan ego yang tidak pernah kenyang.

Mereka berkata hidup ini adalah permainan dalam memanfaatkan kebodohan orang lain sebagaimana hidup ini tentang berjudi dalam mempertaruhkan keberuntungan dalam memanfaatkan kebodohan manusia lainnya.

Dan di tengah semua itu, manusia terus menyebut dirinya makhluk bermoral, sambil diam-diam menikmati penderitaan, kelemahan, dan kehancuran sesamanya demi merasa lebih hidup di dalam dunia yang sebenarnya dipenuhi ketakutan, kepalsuan, dan kehampaan batin yang tidak pernah benar-benar bisa mereka akui.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest