Di dalam hidup ini, Kehidupan sosial adalah sebuah arena tempatnya manusia saling berlomba-lomba dalam menyombongkan dirinya, sebab manusia sejatinya adalah makhluk yang haus akan pengakuan bahwa dirinya jauh lebih baik dibanding yang lain, oleh karena itu kesombonganmu adalah kehormatanmu yang dimana jika dirimu tidak sombong maka merekalah yang akan sombong kepadamu, sebab manusia sejatinya membenci kelemahan sebagaimana mereka hanya dapat meremehkanmu karena mereka menyadari bahwa dirimu tidaklah lebih kuat atau lebih baik dibandingkan diri mereka selain hanya dapat menyepelekanmu. Oleh karena itulah wajah asli manusia yang disebut manusia adalah makhluk sosial. Ya sejatinya manusia cenderung bersikap munafik karena mereka hanya mempermasalahkan suatu keburukan apabila hal tersebut membawa kerugian bagi dirinya sebagaimana kehendak bebas untuk dapat selalu bahagia.
Jika dirimu tidak sombong berarti dirimu tidak menghargai dirimu sendiri, sebagaimana jika dirimu tidak sombong maka merekalah yang akan sombong kepadamu. Karena sombong teriak sombong, itulah manusia. Yang terkadang manusia penuh dengan kedengkian yang dimana mereka dapat membenci jika dirimu lemah tetapi ia juga dapat membencimu jika dirimu telah berada diluar jangkauan mereka. “When might can silence everything“.
Orang bodoh cenderung memiliki ego yang besar karena mereka hanya ingin dapat mendominasi, dengan begitu dirimu akan tampak seperti orang bodoh karena ego mu tidaklah sebanding dengan ego mereka. Oleh sebab itu menjauhlah dari mereka, karena jika dirimu berusaha menandingi ego mereka justru akan membuat dirimu tampak terlihat seperti orang tidak berwibawa karena dirimu telah membuat dirimu sama bodohnya seperti mereka atau tampak lebih bodoh dibandingkan diri mereka. Sebab, orang yang rendah diri biasanya memiliki ego yang lebih besar dari pada isi kepalanya. mereka berkecenderungan menginginkan orang lain ikut terseret ke dalam permainan ego mereka agar dirimu tampak sama bodohnya seperti mereka sebagaimana mereka berusaha membuatmu tampak lebih lebih rendah seperti diri mereka di hadapan orang lain atau mereka menginginkan martabatmu agar tidaklah lebih dibandingkan diri mereka. (kamikaze).
Manusia terlalu munafik jika hanya membenci keburukan yang merugikan mereka.
Didalam hidup ini orang bodoh akan menginginkan kehormatan sebagaimana mereka ingin di hormati, walaupun diri mereka sebenarnya tidaklah pantas untuk dihormati karena mereka terlalu bodoh untuk dapat dihormati, karena ego mereka lebih besar dari pada isi kepala mereka yang haus akan kehormatan. Sebab orang bodoh mana yang tidak ingin dihormati selain orang bodoh itu sendiri yang tidak menyadari kebodohan mereka sendiri untuk dapat dihormati. Sebab orang yang rendah diri sering kali memiliki ego yang jauh lebih besar dari pada akal sehatnya.
Orang dengan harga diri rendah cenderung digerakkan oleh ego yang lebih besar ketimbang rasionalitasnya.
Oleh sebab itu, Realitas paling gelap dari manusia sebagai makhluk sosial bukanlah tentang kebutuhan untuk dicintai, melainkan tentang hasrat untuk mendominasi. Sebab di balik segala bentuk keramahan, pencapaian, moralitas, bahkan kesederhanaan yang dipertontonkan, tersembunyi sebuah kebutuhan yang lebih tua daripada peradaban itu sendiri: kebutuhan untuk diakui sebagai sosok yang lebih bernilai dari pada yang lain.
Manusia menyebutnya kebahagiaan, kesuksesan, kehormatan, atau bahkan kerendahan hati. Namun dalam banyak kasus, semua itu hanyalah bahasa yang lebih halus untuk menyatakan, “Lihatlah aku. Akuilah keberadaanku. Jangan biarkan aku tenggelam menjadi sosok yang biasa dan tidak berarti.”
Karena realitas yang paling kejam adalah bahwa manusia hidup di dalam dunia yang tidak pernah berhenti membandingkan. Nilai seseorang tidak hanya diukur dari siapa dirinya, melainkan dari seberapa jauh ia berada di atas orang lain. Kekayaan menjadi simbol kekuasaan, kecerdasan menjadi simbol superioritas, kesalehan menjadi simbol kesucian, dan bahkan penderitaan pun terkadang dijadikan alat untuk memperoleh simpati dan pengakuan.
Itulah sebabnya banyak orang memamerkan apa yang mereka banggakan. Mereka tidak sekadar menunjukkan apa yang mereka miliki, tetapi sedang memperlihatkan posisi mereka dalam hierarki sosial. Sebab kebanggaan yang tidak disaksikan orang lain terasa seperti kemenangan yang tidak pernah terjadi. Harta yang tidak diketahui orang lain terasa kurang bernilai. Gelar yang tidak dipuji terasa hampa. Kebaikan yang tidak mendapatkan pengakuan terasa seolah sia-sia.
Manusia tidak hanya lapar akan makanan, tetapi juga lapar akan validasi.
Dan kelaparan itu tidak pernah benar-benar terpuaskan.
Karena ketika seseorang telah memiliki rumah, ia ingin rumah yang lebih besar. Ketika ia memiliki kekayaan, ia menginginkan kekayaan yang lebih mencolok. Ketika ia memperoleh penghormatan, ia takut kehilangan penghormatan itu. Bahkan ketika ia berhasil mencapai puncak, ia mulai hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari akan ada orang lain yang berdiri lebih tinggi darinya.
Dengan demikian, kehidupan sosial berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.
Yang miskin mengejar kekayaan agar dihargai.
Yang kaya mengejar status agar disegani.
Yang berpendidikan mengejar pengakuan agar dianggap cerdas.
Yang religius mengejar kesalehan agar dipandang suci.
Dan yang sederhana pun terkadang membanggakan kesederhanaannya agar terlihat lebih mulia dari pada mereka yang hidup dalam kemewahan.
Jika kedamaian itu sejatinya hanya ilusi atas kemunafikan manusia dalam menjaga keharmonisan, maka jadilah munafik seperti halnya bagaimana cara mereka dalam memperlakukanmu dalam menyeimbangi kemunafikan mereka jika dirimu dapat mengetahui siapa saja orang-orang yang benar-benar tulus dan siapa pula orang-orang yang hanya sekedar menghormati dirimu didasari materi, jika dirimu dapat mengenali polanya yaitu kemunafikan mereka untuk dapat terlihat baik penuh sopan santun untuk menghormati dirimu dengan bersikap ramah kepadamu yang didasari apa yang dapat kamu banggakan sebagaimana mereka memperhitungkanmu.
Ironisnya, manusia sering menyebut dirinya makhluk sosial karena membutuhkan orang lain. Padahal dalam banyak keadaan, mereka membutuhkan orang lain bukan untuk mencintai, melainkan untuk menjadi cermin yang memantulkan nilai dirinya sendiri. Tanpa penonton, kebanggaan kehilangan makna. Tanpa pembanding, superioritas kehilangan ukurannya. Tanpa pengakuan, banyak identitas yang dibangun dengan susah payah akan terasa rapuh.
Maka lahirlah sebuah dunia yang dipenuhi oleh perlombaan simbol. Sebagian orang berlomba memperlihatkan kekayaannya. Sebagian lagi memamerkan kecerdasannya. Sebagian memamerkan kesucian dan moralitasnya. Bahkan ada yang memamerkan penderitaan dan luka-lukanya agar dianggap paling kuat atau paling layak dikasihani. Dan manusia itu terlalu munafik; mereka baru membenci keburukan jika keburukan tersebut merugikan diri mereka sendiri.
Dan di tengah semua itu, manusia sering kali tidak sadar bahwa mereka sedang diperbudak oleh pandangan sesama manusia.
Mereka mengira dirinya bebas, padahal harga diri mereka berada di tangan penilaian orang lain.
Mereka mengira dirinya hidup untuk diri sendiri, padahal sebagian besar keputusan mereka dibentuk oleh ketakutan untuk dianggap gagal, miskin, bodoh, rendah, atau tidak berarti.
Barangkali itulah realitas tergelap dari makhluk sosial.
Bahwa di balik peradaban yang megah, di balik budaya, agama, pendidikan, dan segala bentuk pencapaian manusia, terdapat makhluk yang sangat takut menjadi tidak penting.
Dan mungkin, ketakutan terbesar manusia bukanlah kematian.
Melainkan kemungkinan bahwa setelah seluruh hidupnya berakhir, dunia akan berjalan seperti biasa, seolah keberadaannya tidak pernah memiliki arti apa pun.
Karena bagi sebagian besar manusia, dilupakan sering kali terasa lebih mengerikan daripada mati itu sendiri.
Dan selama kebutuhan untuk diakui lebih besar dari pada kebutuhan untuk memahami diri sendiri, manusia akan terus berlomba mengumpulkan simbol-simbol kebanggaan, saling membandingkan, saling mendominasi, dan saling mencari pembenaran atas keberadaannya.