You are currently viewing Berhentilah menjadi orang baik; jika kamu tidak jahat berarti kamu lemah

Berhentilah menjadi orang baik; jika kamu tidak jahat berarti kamu lemah

Bagikan bila kamu menyukainya

Barangkali tidak ada makhluk yang lebih paradoksal dari pada manusia.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu menatap langit malam dan bertanya mengapa ia ada. Ia dapat membangun kemegahan dengan memamerkan jabatannya yang menjulang, menulis kitab-kitab moral yang bertahan selama nama keluarganya masih hidup, menciptakan cerita-cerita palsu sebagai simfoni yang membuat orang asing terpukau bahkan menangis, serta mengorbankan hidupnya demi sesuatu yang bahkan tidak dapat disentuh: kehormatan, keadilan, atau iman.

Namun makhluk yang sama juga membangun penjara, melahirkan perang, menyusun sistem penindasan, dan menghancurkan sesamanya atas nama nilai-nilai yang diklaim suci.

“Semua harkat dan martabat dalam sejarah manusia mungkin tidak pertama-tama dibangun untuk mencapai langit yang disebut kemuliaan. Bisa jadi, semuanya dibangun agar manusia tidak mendengar keheningan yang terus menunggu di dalam dirinya.”

Hiburan Kita

Sejarah manusia karena itu tidak pernah dapat dibaca sebagai kisah tentang kemajuan semata. Ia juga tidak cukup dipahami sebagai kisah tentang kejatuhan moral. Di dalamnya selalu terdapat dua gerakan yang berjalan beriringan. Di satu sisi, manusia menciptakan bahasa, seni, hukum, agama, dan ilmu pengetahuan sebagai bentuk kreativitas yang luar biasa. Di sisi lain, semua ciptaan itu dapat berubah menjadi alat untuk membedakan, mengatur, menguasai, dan mempertahankan posisi.

Mengapa paradoks seperti ini terus muncul?

Jawaban yang paling mudah adalah dengan menunjuk sifat dasar manusia: egoisme, keserakahan, atau nafsu berkuasa. Tetapi jawaban yang terlalu mudah sering kali berhenti sebelum mencapai akar persoalan.

Bagaimana jika dorongan untuk menguasai bukanlah titik awal?

Bagaimana jika ia sendiri merupakan gejala dari sesuatu yang lebih dalam?

Pertanyaan itu mengubah arah pemikiran.

Kita tidak lagi bertanya mengapa manusia saling mendominasi.

Kita mulai bertanya mengapa manusia begitu membutuhkan pengakuan.

Mengapa penghinaan terasa begitu menyakitkan.

Mengapa status begitu memabukkan.

Mengapa nama ingin dikenang.

Mengapa cinta sering berubah menjadi kepemilikan.

Mengapa moralitas dapat menjadi sumber kebanggaan.

Mengapa kesalehan dapat berubah menjadi otoritas.

Mengapa negara menuntut kesetiaan.

Mengapa sejarah ingin diwariskan.

Mengapa hampir setiap kebudayaan menciptakan cerita yang menempatkan manusia sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Barangkali semua pertanyaan itu menunjuk ke arah yang sama.

Bahwa manusia bukan hanya makhluk yang hidup.

Ia adalah makhluk yang mengetahui bahwa hidupnya terbatas.

Kesadaran inilah yang membedakannya dari hampir seluruh makhluk lain.

Seekor hewan melarikan diri ketika melihat pemangsa. Tetapi ia tidak tampak menghabiskan hidupnya untuk membayangkan kematiannya sendiri.

Manusia berbeda.

Ia mengetahui bahwa suatu hari ia akan mati.

Lebih dari itu, ia mengetahui bahwa semua orang yang ia cintai juga akan mati.

Ia mengetahui bahwa tubuhnya akan melemah.

Bahwa ingatannya akan memudar.

Bahwa namanya suatu hari mungkin tidak lagi diucapkan oleh siapa pun.

Di dalam kesadaran semacam itu terdapat kecemasan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Mungkin justru dari sinilah banyak pencapaian terbesar manusia lahir.

Mereka membangun kota agar ada sesuatu yang bertahan lebih lama daripada tubuh.

Mereka menulis kitab moral agar suara mereka melampaui usia mereka.

Mereka melahirkan anak agar sebagian diri mereka terus berjalan di masa depan.

Mereka mendirikan kerajaan oligarki agar kehidupan memiliki keteraturan.

Mereka menciptakan agama berbagai aliran agar kematian tidak menjadi kata terakhir.

Mereka menciptakan seni agar pengalaman yang fana memperoleh bentuk yang lebih panjang daripada umur penciptanya.

Semua itu dapat dipahami sebagai ungkapan harapan.

Namun semua itu juga dapat dipahami sebagai usaha untuk menghadapi sesuatu yang lebih sunyi.

Kehampaan.

Artikel ini tidak ditulis untuk membuktikan bahwa agama hanyalah alat kekuasaan.

Ia juga tidak ditulis untuk membuktikan bahwa moralitas hanyalah topeng egoisme, atau bahwa cinta tidak lebih dari strategi biologis.

Pernyataan-pernyataan seperti itu terlalu sederhana untuk menjelaskan makhluk yang serumit manusia.

Sebaliknya, artikel ini mengajukan sebuah kemungkinan yang lebih mengganggu.

Bahwa setiap institusi yang diciptakan manusia, agama, negara, keluarga, moralitas, seni, pasar, bahkan identitas pribadi, selalu memikul beban ganda.

Ia dapat menjadi sumber makna sekaligus sumber dominasi.

Ia dapat membebaskan sekaligus membelenggu.

Ia dapat mempertemukan manusia sekaligus memisahkan mereka.

Kontradiksi itu bukanlah kecelakaan sejarah.

Ia mungkin merupakan konsekuensi dari kenyataan bahwa semua ciptaan manusia lahir dari makhluk yang rapuh, yang sadar akan kematiannya, dan yang terus berusaha membangun sesuatu agar kehidupannya tidak larut begitu saja ke dalam arus waktu.

Karena itu, artikel ini bukanlah dakwaan terhadap peradaban.

Ia adalah upaya membaca peradaban sebagai cermin.

Cermin yang memantulkan ketakutan, harapan, ambisi, kasih, dan kecemasan manusia sendiri.

Jika pembacaan ini terasa gelap, mungkin bukan karena dunia memang gelap.

Melainkan karena cahaya yang selama ini kita gunakan terlalu sering diarahkan keluar.

Jarang sekali kita mengarahkannya kepada diri kita sendiri.

Dan mungkin, di sanalah pemikiran ini sebenarnya dimulai.

Naluri Hierarki: Mengapa Manusia Selalu Mencari Posisi

“Barangkali manusia tidak pernah benar-benar hidup di dalam dunia Materi. Ia hidup di dalam dunia perbandingan.”

Dunia yang Tidak Pernah Netral

Bayangkan dua orang yang memiliki penghasilan yang sama, rumah yang sama besar, pendidikan yang sama, dan kehidupan yang hampir tidak dapat dibedakan. Secara materiel, keduanya tidak kekurangan apa pun. Namun kebahagiaan mereka dapat berubah hanya karena satu hal: mengetahui bahwa tetangganya memperoleh lebih banyak penghargaan.

Fenomena ini tampak sepele, tetapi ia membuka sebuah persoalan yang jauh lebih mendalam. Manusia ternyata tidak hanya menilai kehidupannya berdasarkan apa yang dimiliki, melainkan berdasarkan bagaimana posisinya dibandingkan dengan kehidupan orang lain. Kepemilikan jarang berdiri sendiri; ia hampir selalu memperoleh makna melalui perbandingan.

Di sinilah letak salah satu ciri paling mendasar dari kesadaran manusia. Kita tidak hidup hanya di dalam dunia materiel, melainkan di dalam dunia relasi. Sebuah rumah bukan sekadar tempat berteduh; ia juga dapat menjadi simbol keberhasilan. Sebuah gelar bukan sekadar tanda penguasaan ilmu; ia juga dapat menjadi penanda legitimasi. Bahkan kesalehan, yang pada mulanya merupakan hubungan personal dengan yang transenden, dapat berubah menjadi identitas sosial ketika ia dipertontonkan di ruang publik.

Dengan kata lain, manusia tidak hanya bertanya, “Apa yang kumiliki?” Mereka juga bertanya, “Di manakah posisiku?”

Pertanyaan kedua sering kali lebih menentukan daripada yang pertama.

Dari Bertahan Hidup Menuju Bertahan sebagai Identitas

Dalam banyak spesies sosial, hierarki memiliki fungsi yang relatif jelas. Posisi menentukan akses terhadap makanan, pasangan, atau perlindungan. Dari sudut pandang evolusi, hierarki membantu mengurangi konflik berkepanjangan karena anggota kelompok mengenali siapa yang memimpin dan siapa yang mengikuti.

Namun pada manusia, fungsi itu mengalami perluasan yang luar biasa.

Hierarki tidak lagi hanya mengatur distribusi sumber daya. Ia mulai mengatur distribusi makna.

Seseorang tidak hanya ingin makan. Ia ingin dihormati.

Ia tidak hanya ingin aman. Ia ingin diakui.

Ia tidak hanya ingin hidup. Ia ingin hidup sebagai seseorang.

Perubahan kecil ini memiliki konsekuensi yang sangat besar. Ketika identitas bergantung pada pengakuan sosial, setiap interaksi menjadi arena tempat nilai diri dipertaruhkan. Kritik terasa lebih dari sekadar perbedaan pendapat. Penghinaan terasa lebih dari sekadar kata-kata. Pujian terasa lebih dari sekadar apresiasi.

Yang dipertaruhkan bukan lagi tindakan, melainkan keberadaannya.

Nilai Diri sebagai Produk Relasional

Jarang sekali manusia dapat mendefinisikan dirinya tanpa bantuan orang lain.

Seorang guru hanya menjadi guru karena ada murid.

Seorang pemimpin hanya menjadi pemimpin karena ada yang mengikutinya.

Seorang pahlawan hanya disebut pahlawan karena ada komunitas yang mengingat dan mengakui tindakannya.

Bahkan identitas yang paling pribadi sekalipun sering kali dibangun melalui bahasa, simbol, dan pengakuan yang berasal dari lingkungan sosial.

Ini bukan berarti manusia tidak memiliki kehidupan batin yang autentik. Namun kehidupan batin itu tumbuh di dalam jaringan relasi yang sudah ada lebih dahulu.

Di sinilah muncul sebuah paradoks.

Semakin manusia membutuhkan pengakuan untuk membangun identitasnya, semakin besar pula kemungkinan ia menjadi bergantung pada penilaian orang lain.

Kebebasan dan ketergantungan lahir secara bersamaan.

Ketika Pengakuan Menjadi Komoditas

Begitu pengakuan menjadi sesuatu yang bernilai, ia pun mulai diperebutkan.

Status menjadi penting bukan semata-mata karena manfaat praktisnya, tetapi karena ia mengirimkan pesan simbolik mengenai siapa dirinya.

Kekayaan, jabatan, pengetahuan, kesalehan, kecantikan, bahkan penderitaan dapat berubah menjadi sumber legitimasi jika masyarakat menganggapnya sebagai sesuatu yang layak dihormati.

Dengan demikian, manusia tidak selalu bersaing memperebutkan materi (harta, benda) dan popularitas. Mereka juga bersaing memperebutkan makna yang dilekatkan pada materiel, tindakan, atau identitas.

Pada titik ini, dominasi tidak selalu hadir melalui kekerasan. Ia dapat hadir melalui definisi. Siapa yang berhak disebut bermoral? Siapa yang dianggap berhasil? Siapa yang dinilai beradab? Siapa yang dipercaya berbicara atas nama kebenaran?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membentuk medan hierarki yang jauh lebih halus daripada sekadar perebutan kekuasaan fisik.

Sementara Itu

Jika hierarki hanya menyangkut makanan, wilayah, atau keamanan, barangkali manusia tidak akan membangun peradaban yang begitu rumit yang disebut negeri konoha.

Namun ketika hierarki mulai menentukan nilai diri, martabat, dan rasa bermakna, seluruh kebudayaan ikut terseret ke dalamnya.

Institusi-institusi yang tampak netral perlahan menjadi arena perebutan pengakuan. Moralitas, agama, pendidikan, ekonomi, keluarga, dan negara tidak berdiri di luar dinamika tersebut. Masing-masing dapat menjadi ruang tempat manusia mencari makna, sekaligus tempat mereka memperjuangkan posisi.

Demokrasi merupakan awal kehancuran sebuah negara karena dianggap sebagai ideologi yang didasari kehendak bebas tanpa batas, mirip seperti kehendak bebas iblis yang selalu ingin bahagia dan menang. Keinginan untuk mendominasi sesama ini kemudian melahirkan Demokrasi Liberal, yang kini menyamar dalam wujud Pancasila.

Artikel kami berikutnya akan membawa kita lebih jauh ke dalam persoalan ini. Jika manusia memang hidup di dalam dunia perbandingan, maka pertanyaan yang harus diajukan bukan lagi apakah mereka mengejar superioritas, melainkan mengapa rasa unggul begitu memabukkan, dan mengapa rasa diremehkan dapat melukai jauh lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest