You are currently viewing Manusia Lebih Takut Diremehkan Daripada Mati

Manusia Lebih Takut Diremehkan Daripada Mati

Bagikan bila kamu menyukainya

Di dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang tidak memiliki kelemahan selain harga diri itu sendiri sebagai kelemahan terbesar manusia. Oleh sebab itu, dirimu tidak perlu memperlihatkan kemampuanmu atau seberapa bermateri kaya berduit dirimu kepada siapa pun selain itu hanyalah bentuk kebodohanmu dalam menentukan posisi permainan kehidupan yang dimana banyak orang merasa terancam saat melihatmu lebih sukses, karena mereka menjadikan pencapaianmu sebagai ukuran harga diri mereka. Akibatnya, mereka akan mencari celah untuk menjatuhkanmu. Namun, ketika kamu berhasil melepaskan keangkuhan dan ego, kamu menjadi pribadi yang tidak bisa dihancurkan. Siapa pun tidak akan bisa menjatuhkan seseorang yang sudah selesai dengan egonya sendiri.

Banyak orang tidak senang melihatmu berhasil atau hidup lebih baik dibandingkan diri mereka sendiri sebagai gangguan terhadap harga diri mereka yang membuat dirimu begitu mudahnya untuk dapat dihancurkan karena bagi mereka kelemahanmu adalah harga dirimu sehingga semangkin tidak dianggap berharga dirimu maka semangkin tidak mudah dirimu untuk dapat dihancurkan oleh siapapun karena semangkin besar dirimu semangkin mudah dirimu untuk dapat dihancurkan karena nilai yang ada pada dirimu, berharga atau tidaknya tergantung seberapa besar dirimu untuk dapat jatuh sebagimana semangkin besar dirimu semangkin berharga dirimu untuk jatuh. Sebab tidak manusia yang dapat merasa senang jika terdapat orang lain berada diatas mereka dengan melihat dirimu lebih baik dibandingkan mereka sendiri sebagai bentuk harga diri mereka untuk dapat menghancurkan harga dirimu yang disebabkan oleh kedengkian manusia itu sendiri dengan merasa terganggu dengan keberhasilan orang lain. “Law Of Positioning – Smart Men Stay Poor“.

Ada banyak bentuk penderitaan yang dapat dialami manusia.

Tubuh dapat terluka.

Harta dapat hilang.

Kekuasaan dapat dirampas.

Namun terdapat satu jenis luka yang sering kali lebih menyakitkan dari pada semuanya.

Luka terhadap harga diri.

Karena kita sebagai manusia bukan hanya makhluk biologis.

Kita adalah makhluk simbolik.

Kita tidak hanya hidup dari makanan, tetapi juga hidup dari makna yang kita berikan kepada diri kita sendiri.

Dan ketika makna itu dihancurkan, sesuatu di dalam diri manusia ikut mati.

Itulah sebabnya seorang manusia dapat bertahan dalam kemiskinan, tetapi hancur karena penghinaan.

Ia dapat menerima penderitaan fisik, tetapi tidak mampu menerima ejekan.

Ia dapat kehilangan harta, tetapi tidak sanggup kehilangan kehormatan.

Karena bagi banyak manusia, harga diri bukanlah bagian dari kehidupan.

Harga diri adalah kehidupan itu sendiri.

Kematian Sosial

Mungkin salah satu penemuan paling mengerikan dalam sejarah kita sebagai manusia adalah bahwa manusia tidak hanya takut pada kematian biologis.

Mereka juga takut pada kematian sosial.

Kematian biologis mengakhiri tubuh.

Tetapi kematian sosial mengakhiri makna keberadaan seseorang di mata manusia lain.

Seseorang yang diasingkan.

Seseorang yang dipermalukan.

Seseorang yang dihina.

Seseorang yang kehilangan kehormatannya.

Sering kali mengalami penderitaan yang tidak kalah mengerikan dari kematian itu sendiri.

Karena sejak dahulu, keberadaan manusia bergantung pada penerimaan kelompok.

Dikeluarkan dari kelompok berarti kehilangan perlindungan.

Kehilangan identitas.

Kehilangan arti.

Dan meskipun peradaban telah berkembang, ketakutan purba itu tetap hidup.

Hanya bentuknya yang berubah.

Hari ini, manusia mungkin tidak mati karena diasingkan.

Tetapi jiwa mereka dapat hancur karena merasa tidak dihargai.

Mengapa Penghinaan Terasa Seperti Kematian

Pernahkah manusia bertanya mengapa penghinaan terasa begitu menyakitkan?

Karena penghinaan bukan sekadar kata-kata.

Penghinaan adalah pernyataan simbolik bahwa keberadaan seseorang dianggap lebih rendah.

Ketika seseorang dihina, yang terluka bukanlah tubuhnya.

Yang terluka adalah narasi yang selama ini ia bangun tentang dirinya sendiri.

Narasi bahwa dirinya berharga.

Narasi bahwa dirinya dihormati.

Narasi bahwa dirinya berarti.

Dan ketika narasi itu dihancurkan, manusia merasakan sesuatu yang menyerupai kematian.

Mungkin karena itulah banyak perang tidak lahir dari kebutuhan.

Melainkan dari penghinaan.

Banyak pembunuhan tidak lahir dari kelaparan.

Melainkan dari rasa malu.

Banyak permusuhan tidak lahir dari ketidakadilan.

Melainkan dari ego yang terluka.

Karena ego yang terluka sering kali lebih berbahaya daripada tubuh yang terluka.

Kehormatan Sebagai Ilusi yang Dipertahankan dengan Darah

Sejarah manusia dipenuhi oleh kisah-kisah yang tampak tidak masuk akal.

Orang membunuh karena penghinaan.

Keluarga bermusuhan selama puluhan tahun karena harga diri.

Bangsa berperang karena kehormatan.

Dan semua itu dilakukan atas nama sesuatu yang tidak dapat disentuh, tidak dapat diukur, dan tidak dapat dilihat.

Kehormatan.

Betapa anehnya manusia.

Mereka rela kehilangan kehidupan demi mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak memiliki bentuk fisik.

Karena kehormatan sesungguhnya bukanlah sesuatu yang nyata.

Ia adalah kesepakatan kolektif.

Ia hidup karena manusia percaya bahwa ia hidup.

Dan justru karena itulah manusia rela mati untuk mempertahankannya.

Karena jika kehormatan hilang, maka identitas mereka ikut runtuh.

Mengapa Kekuasaan Berasal dari Rasa Takut Diremehkan

Barangkali sebagian besar ambisi manusia tidak lahir dari hasrat untuk berkuasa.

Melainkan dari rasa takut dianggap lemah.

Manusia bekerja keras bukan hanya untuk kaya.

Mereka takut miskin.

Bukan karena miskin berarti lapar.

Tetapi karena miskin sering kali berarti diremehkan.

Manusia mengejar pendidikan bukan hanya untuk menjadi pintar.

Tetapi karena kebodohan sering kali menjadi alasan untuk dipandang rendah.

Manusia mengejar kekuatan bukan hanya untuk melindungi diri.

Tetapi karena kelemahan mengundang penghinaan.

Maka seluruh kehidupan manusia berubah menjadi perlombaan untuk menghindari satu hal:

Menjadi tidak berharga di mata orang lain.

Dan semakin seseorang takut diremehkan, semakin besar kemungkinan ia akan berusaha mendominasi.

Karena dominasi adalah cara tercepat untuk memastikan bahwa dirinya tidak lagi berada di posisi bawah.

Rasa Malu Sebagai Neraka Psikologis

Mungkin tidak ada emosi yang lebih mengerikan daripada rasa malu.

Ketakutan dapat dihindari.

Kesedihan dapat dihibur.

Kemarahan dapat dilampiaskan.

Tetapi rasa malu memiliki sifat yang berbeda.

Ia menyerang identitas.

Ia membuat seseorang tidak hanya merasa bahwa dirinya melakukan kesalahan.

Tetapi bahwa dirinya sendiri adalah kesalahan.

Dan ketika manusia mulai percaya bahwa dirinya adalah kesalahan, maka ia mulai kehilangan alasan untuk mencintai dirinya sendiri.

Mungkin karena itulah banyak manusia lebih takut dipermalukan di depan umum daripada mengalami rasa sakit fisik.

Karena rasa sakit fisik melukai tubuh.

Sedangkan rasa malu melukai keberadaan.

Kesombongan Adalah Ketakutan yang Menyamar

Ironisnya, orang yang paling sombong sering kali adalah orang yang paling takut diremehkan.

Kesombongan bukanlah tanda kekuatan.

Kesombongan sering kali merupakan mekanisme pertahanan.

Manusia meninggikan dirinya karena takut direndahkan.

Manusia membanggakan dirinya karena takut dianggap tidak berarti.

Manusia mendominasi karena takut didominasi.

Dan semakin besar ketakutan itu, semakin besar pula kebutuhan mereka untuk menunjukkan superioritas.

Karena di balik setiap kesombongan sering kali tersembunyi ketakutan yang sangat dalam.

Ketakutan bahwa jika topeng itu dilepas, maka tidak ada sesuatu yang benar-benar berharga di dalam dirinya.

Peradaban yang Dibangun di Atas Ketakutan

Lalu mungkin kita harus bertanya:

Berapa banyak pencapaian manusia yang lahir dari cinta?

Dan berapa banyak yang lahir dari ketakutan?

Berapa banyak kekayaan yang dikumpulkan karena kebutuhan?

Dan berapa banyak yang dikumpulkan karena takut diremehkan?

Berapa banyak kekuasaan yang dikejar demi kebaikan?

Dan berapa banyak yang dikejar demi menghindari rasa tidak berdaya?

Mungkin jawabannya lebih mengerikan daripada yang ingin diakui manusia.

Karena bisa jadi sebagian besar peradaban dibangun bukan atas dasar kebijaksanaan.

Melainkan atas dasar ketakutan kolektif untuk dianggap kecil.

Maka lahirlah kerajaan.

Lahir hierarki.

Lahir kasta sosial.

Lahir status.

Lahir perlombaan yang tidak pernah selesai.

Dan semua itu terjadi karena manusia tidak sanggup menerima satu kemungkinan yang paling menakutkan.

Bahwa mereka mungkin tidak istimewa.

Ketakutan Terdalam Manusia

Pada akhirnya, manusia mungkin tidak benar-benar takut pada kematian.

Karena kematian terjadi sekali.

Tetapi diremehkan dapat terjadi setiap hari.

Kematian mengakhiri penderitaan.

Tetapi penghinaan dapat hidup di dalam ingatan selama puluhan tahun.

Dan mungkin itulah sebabnya manusia rela mengorbankan hidup, moralitas, bahkan kebahagiaannya sendiri demi mempertahankan harga dirinya.

Karena bagi ego manusia, ada sesuatu yang lebih buruk dari pada mati.

Yaitu hidup dengan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah berarti.

Dan mungkin seluruh sejarah manusia, dari perang terbesar hingga konflik terkecil, hanyalah kisah panjang tentang makhluk yang begitu takut dianggap tidak berharga sehingga mereka rela menghancurkan orang lain yang mengganggu ketentraman ego mereka untuk membuktikan bahwa dirinya penting.

Law Of Positioning – Smart Men Stay Poor

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest