You are currently viewing Memahami bagaimana penjilat hidup; penjilat hidup dengan cara menjilat

Memahami bagaimana penjilat hidup; penjilat hidup dengan cara menjilat

Bagikan bila kamu menyukainya

Dalam panggung kehidupan, jadilah kuat agar para penjilat tetap setia pada narasinya. Mereka mencintaimu selama kau bisa ‘dikunyah’. Namun hati-hati, saat kekuatanmu pudar dan manfaatmu habis, rasa kagum itu akan berubah menjadi kebencian. Di mata penjilat, kau hanya berharga selama kau bisa mereka jilat.

Manusia disebut makhluk sosial, tetapi dalam kenyataan, banyak relasi tidak dibangun atas ketulusan, melainkan atas kepentingan yang terselubung.

Kekuatan menjadi magnet yang mengundang kekaguman, tetapi sering kali kekaguman itu hanyalah bentuk lain dari ketakutan yang dibungkus kepatuhan.

Mereka yang memuji, belum tentu menghargai; bisa jadi mereka hanya sedang mencari tempat untuk bersandar demi keuntungan.

Dan ketika kekuatan itu runtuh, pujian berubah menjadi pengabaian, seolah nilai manusia diukur bukan dari siapa dirinya, tetapi dari apa yang bisa ia berikan.

Makhluk sosial,
kata itu terdengar seperti lelucon yang terlalu sering diulang
hingga akhirnya dipercaya.

Tidak ada “sosial”.
Yang ada hanya kebutuhan yang saling berbenturan
lalu pura-pura berdamai.

Dirimu kuat atau bermanfaat,
atau dirimu dipaksa untuk percaya bahwa dirimu kuat
agar orang lain punya alasan untuk tetap berada di dekatmu

Mereka tidak pernah benar-benar ada untukmu.
Mereka ada untuk sesuatu yang melekat padamu.
Dan bahkan itu pun bukan milikmu,
hanya fungsi yang kebetulan belum mati.

Kekuatan dan bermanfaat bukanlah kualitas.
Ia hanya penundaan dari pengabaian.

Hari ini kau dipuja,
besok kau dilupakan,
bukan karena dunia berubah,
tetapi karena nilaimu habis digunakan.

Tidak ada pengkhianatan di sini.
Karena tidak pernah ada kesetiaan.

Tidak ada kebencian.
Karena itu terlalu dalam untuk sesuatu yang seremeh ini.

Yang ada hanya perpindahan arah,
seperti lalat yang berpindah dari satu bangkai ke bangkai lain
tanpa pernah bertanya mana yang lebih layak.

Makhluk sosial, siapa yang pertama kali berani mengatakan itu?
Dirimu ingin bertanya, tapi kepada siapa?
Kepada mereka yang tersenyum sambil menghitung nilai guna dari setiap napas orang lain?

Dirimu kuat, atau setidaknya dirimu harus terlihat kuat.
Ya, terlihat. Itu lebih penting.
Karena mata mereka bukan untuk melihat,
mata mereka adalah alat ukur,
alat timbang,
alat berburu.

Mereka bilang manusia butuh manusia lain.
Tapi setiap kali seseorang mendekat,
dirimu merasa seperti sedang diukur untuk disembelih,
bukan dengan pisau,
tapi dengan harapan.

“Jadilah kuat,” kata mereka,
seolah itu nasihat,
padahal itu ancaman yang disamarkan.

Karena dirimu tahu… kamu tahu…
jika kamu berhenti sejenak saja,
jika kamu jatuh atau tersungkur,
jika kamu lelah,
jika dirimu tidak lagi berguna,

mereka tidak akan marah.
Tidak. Itu terlalu manusiawi.
Mereka hanya… berhenti melihat.

Dan itu lebih mengerikan.

Dilupakan bukan karena salah,
tetapi karena tidak lagi diperlukan.

Apa itu kejahatan?
Apa itu kebaikan?
Aku tidak yakin lagi.

Jika kamu memberi, kamu dipuji.
Jika kamu berhenti, kamu dicurigai.
Jika kamu menolak, kamu disebut jahat.

Jadi mungkin… mungkin moralitas hanyalah
kesepakatan diam-diam
antara mereka yang membutuhkan
dan mereka yang takut tidak dibutuhkan.

Ah, kamu mungkin lelah.
Tapi kamu tidak boleh terlihat lelah.

Lucu, bukan?
Bahkan kelelahan pun harus disembunyikan
agar tetap layak untuk dijilat.

Kamu akan menjadi ingin tertawa,
tapi rasanya seperti muntah yang tertahan di tenggorokan.

Makhluk sosial, katanya.
Tidak,
kita adalah makhluk yang saling memakan,
hanya saja kita melakukannya dengan kata-kata yang sopan.

Dan kamu?

kamu berdiri di tengah semua ini,
tidak benar-benar kuat,
tidak berani menjadi lemah,
tidak percaya pada mereka,
tapi lebih tidak percaya lagi jika harus sendirian.

Jadi kamu terus berjalan,
dengan retakan di dalam kepala,
dengan suara-suara yang tidak pernah sepakat satu sama lain,
dengan kesadaran yang seperti kaca pecah:

bahwa mungkin…
semua ini bukan tentang menjadi kuat atau lemah, bermanfaat atau tidak,

tetapi tentang siapa yang lebih dulu
kehilangan dirinya
tanpa disadari.

Jika manusia disebut makhluk sosial, maka teruslah menjadi kuat agar tetap dikagumi oleh para penjilat. Ingatlah, penjilat hanya memuja kekuatan; mereka akan membencimu saat kau lemah. Bagi mereka sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat terutama untuk mereka manfaatkan. Kau dituntut untuk selalu kuat dan memberi keuntungan agar mereka tetap segan, karena jika tidak, kau akan dianggap jahat atau tidak berguna.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments