Didalam kehidupan ini, orang-sombong sering kali mengira dirinya orang baik walaupun kenyataannya dirinya sama buruknya dari pada yang lain, sombong teriak sombong, setan teriak setan, jahat teriak jahat itulah manusia sebagaimana kehendak bebas manusia itu sendiri yang ingin dapat selalu bahagia dalam menghadapi persoalan hidup terutama menghadapi dirimu sebab pada dasarnya mereka menginginkan dirimu untuk hancur bahkan terbunuh (celaka) sebagaimana kehendak bebas manusia itu sendiri agar dapat menang dalam menghadapimu atau sebagaimana ia menguji keberuntungan mereka sebagai upaya mereka mengharapkan dirimu itu adalah orang bodoh lemah yang tidak berdaya dalam menghadapi diri mereka sebagaimana mereka tidak mengharapkan suatu kekalahan pada diri mereka sebagaimana mentalitas korban mereka sebagai orang yang kalah dengan menuntut hukum dan keadilan yang telah membuat mereka merasa dirugikan. Oleh sebab itu terkadang kesombonganmu adalah kemuliaanmu jika dirimu menyombongkannya kepada orang bodoh yang tidak menyadari bahwa diri mereka hanyalah orang yang tidak tahu diri yang merasa dirinya kuat sebagaimana orang lemah itu meyakini bahwa hukum dan keadilan itu berpihak kepada mereka, oleh sebab itu begitulah betapa liciknya orang lemah yang tidak tahu diri itu dengan merasa diri mereka kuat karena dilindungi hukum dan keadilan sebagai jaminan jika mereka kalah menghadapimu, karena orang lemah yang merasa dilindungi hukum dan keadilan maka ia akan menjadi orang tidak tahu diri, begitulah liciknya orang lemah, bodoh dan tidak tahu diri sesungguhnya dengan bersembunyi dibalik moralitas, HAM, jika hanya ketidakberuntungan berpihak kepadanya sebab manusia pada dasarnya terlalu munafik dalam membenci suatu keburukan jika keburukan itu hanya merugikan dirinya.
Hukum dan keadilan terkesan hanya berlaku untuk kaum lemah. Anggapan bahwa mereka terlindungi oleh hukum kerap memicu tindakan yang didasari oleh kenaifan serta kekeliruan perhitungan, yang pada akhirnya justru menghancurkan diri mereka sendiri.
Hidup itu simple jika kamu hidup sederhana apa adanya kamu diremehkan berarti hidupmu dirancang untuk sombong sebagaimana mereka memperhitungkan dirimu atau sebagaimana penjilat itu hidup sehingga mereka berakhir sebagai penjilat sejati yang terlihat baik dan ramah atau sebaliknya menjadi pembenci karena kedengkian hati mereka.
Jika cahaya itu masuk kehatimu maka kamu akan terbunuh oleh cahaya tersebut karena tidak ada yang lebih kuat selain kegelapan yang akan melindungimu melalui ketajaman yang ia berikan kepadamu.
Hiburan Kita
Jangan pernah terlihat hebat dihadapan orang bodoh karena orang bodoh pada dasarnya hidup didasari oleh iri hati berupa rasa kekaguman mereka terhadap apa yang tidak mereka miliki. Oleh sebab itu mengapa orang bodoh cenderung bermata jahat memancarkan ain dari penyakit hati mereka kepada dirimu karena mereka merasa silau dengan apa yang kamu miliki jika dirimu dianggap mereka terlalu lemah untuk dapat mereka hormati dengan merasa diri mereka jauh lebih kuat secara fisik maupun materi dibandingkan dirimu.
Oleh sebab itu mengapa kelemahan terkadang dapat mengundang kejahatan itu sendiri sebagaimana kebencian itu lahir dimata mereka jika dirimu dianggap terlalu lemah untuk dapat mereka hormati sebagaimana penjilat itu hidup dari rasa takut (fear factor) untuk dapat membencimu hingga lahirnya kejahatan itu sendiri.
Hidup itu memang kejam karena mereka tidak peduli karena telah menghancurkan dirimu jika dirimu lemah, tetapi mereka menyesali perbuatan jahat mereka kepadamu jika dirimu berhasil membuat mereka tertunduk dan menggonggong selayaknya anjing karena telah mengalahkan perbuatan jahat mereka yang tidaklah sebanding jika nasip mu berkata lain untuk mati terbunuh oleh mereka. Dan jika manusia itu sejatinya dapat hadir kedalam hidupmu hanya untuk mengetes seberapa cerdas, kuat dan kejamnya dirimu maka berarti itu adalah awal dari kehancuran manusia itu sendiri sebagaimana ia ingin berjudi menguji takdir atau nasip baik mereka untuk dapat menang menghancurkanmu dengan cara menipu bahkan membunuh.
Dan percayalah bahwa sesungguhnya manusia itu tidak akan bisa hidup tanpa kemunafikan yang dimana manusia itu hidup didasari kemunafikan yang dimana ia dituntut oleh dunia untuk menjadi munafik sebagaimana ia beradaptasi untuk bertahan hidup atau ia akan dapat terbunuh atau tersingkirkan karena hidup berdasarkan keotentikannya sendiri dengan tidak dapat bersosial dan bergaul sebagaimana kemunafikan manusia dalam menjaga citra dirinya.
Oleh sebab itu, tidak ada kata-kata atau ungkapan manusia itu jahat atau baik, selain hanyalah kemunafikan, sebagaimana cara manusia itu sendiri untuk beradaptasi dan penerimaan diri dalam menjaga citranya.
Pada akhirnya jangan pernah terikat secara emosional dengan siapapun yang disebut manusia, karena itu adalah awal dari kehancuranmu yang dimana mereka akan menyalahkanmu atas kehancuran yang mereka perbuat sendiri.
Jika mereka menilai kehidupan ini secara hitam atau putih atau tidak memiliki pengalaman yang cukup artinya mereka terlalu naif dalam membenci segala sesuatu didalam kehidupan ini. Oleh sebab itu mengapa orang naif lugu polos lebih lebih cocok tinggal di rumah sakit jiwa karena mereka terlalu naif dalam membenci segala sesuatu dengan menilainya secara hitam atau putih sebagai awal lahirkan kejahatan itu sendiri dari kenaifan mereka sendiri.
Kenaifan Memicu Kebencian: Karena mereka hanya melihat dari satu sudut pandang (hitam/putih), mereka mudah membenci apa pun yang tidak sesuai dengan standar ideal mereka. Kebencian ini lahir bukan karena mereka jahat dari awal, melainkan karena ketidakmampuan mereka memahami realitas hidup.
Kenaifan Sebagai Akar Kejahatan: kejahatan justru sering kali lahir dari kenaifan itu sendiri. Ketika seseorang merasa paling benar dan menganggap yang lain sepenuhnya “hitam” (jahat/salah), mereka merasa dibenarkan untuk membenci atau menyerang orang lain.
Mereka yang telalu naif maka mereka tidaklah selevel dengan dirimu pada akhirnya mereka akan menuduhmu jahat dengan tidak menyadari kejahatan yang mereka lakukan sendiri kepadamu sebagaimana cara mereka berlindung dibalik moralitas dengan menghancurkanmu menggunakan dogma atau keyakinan suci dari nilai-nilai agama untuk mengekang caramu berpikir dalam melahirkan ilmu pengetahuan, yang dimana cahaya itu akan merusak seluruh fondasi mental yang dimana karya-karya itu hidup dalam caramu melahirkan pengetahuan. Oleh sebab itu mengapa seburuk-buruk orang naif itu hanyalah mereka berlindung dibalik agama untuk mencelakaimu. Karena orang naif tidak siap/tidak mampu bertahan menghadapi dunia nyata yang penuh kompleksitas dan kontradiksi selain pasrah sebagai mentalis korban (victim mentality) itu bekerja sehingga lahirlah kebencian oleh orang-orang yang sok suci tersebut.
Orang yang terlalu lugu dan menilai dunia hanya secara hitam-putih akan mudah membenci hal-hal yang tidak mereka pahami. Ketidakmampuan memahami kompleksitas hidup inilah yang justru melahirkan kejahatan baru, karena kebencian mereka didasari oleh rasa merasa paling benar dengan merasa paling suci.
Akhir Kata:
Banyak orang bodoh bersumbu pendek hanya dapat marah karena ia tidak mampu berpikir kritis selain hanya dapat mengkritik tanpa harus berpikir yang menjadikan dirinya hanya dapat membenci dan marah karena tidak senang sebagai kehendak bebas manusia itu sendiri untuk dapat bahagia terutama kehendak bebas untuk membenci dirimu yang telah membuat mereka merasa tidak senang atau tidak membuat mereka merasa bahagia. Filosofi SDM rendah yang emosional yang mabuk moralitas sebagai senjata utama didasari agama.
orang-orang naif, lugu, polos, tolol, idiot hanya dapat memahami spektrum area hitam atau putih sebagaimana ia mengandalkan emosi dibandingkan logika yang secara emosional membuat mereka menjadi makhluk yang memiliki ego yang lebih besar dari pada rasionalitasnya. karena memang orang bodoh ego nya lebih tinggi dari pada yang cerdas (berilmu) karena semangkin bijak seseorang justru ego tidaklah kalah besar dari pada orang bodoh sebab Sensitif Terhadap Ketidakadilan: Mereka terusik oleh kebohongan atau ketidakadilan, bukan karena ego mereka terluka, melainkan karena nilai moral mereka terusik. “Ketegasan pada Batasan”, itulah sebabnya orang bijak terkadang memiliki ego yang lebih besar dan lebih sensitif karena mereka orang yang cerdas IQ/EQ/SQ (Meta fisik), yang berbeda jauh dibandingkan orang bodoh yang memiliki ego yang tinggi cenderung lebih emosional yang membuat mereka ingin lebih dihargai lebih dibandingkan orang yang berilmu itu sendiri. Yang pada akhirnya orang mengaku dewasa atau bahkan lanjut usia jika ia bodoh maka ia tidaklah pantas dikatakan dewasa karena mereka lebih emosional atau dikatakan tidak bijaksana karena umur mereka hanyalah sekedar angka yang tidak perlu di hormati jika mereka orang bodoh untuk benar-benar dapat dihormati “Stupid Person Dangerous emosional (Naif)”.
Sebagaian paragraf telah disembunyikan!