Artikel ini termasuk arsip terlarang (deep web) yang dulunya telah lama eksis (disembunyikan), sebab artikel ini berbahaya.
Mitos Tentang Kesetaraan
Salah satu kisah yang paling indah sekaligus paling tragis yang pernah diciptakan manusia adalah gagasan tentang kesetaraan.
Manusia berbicara tentang persamaan.
Mereka berbicara tentang keadilan.
Mereka berbicara tentang hak yang setara.
Dan semua itu terdengar mulia.
Namun jika kita melihat sejarah dengan lebih jujur, kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih mengganggu.
Bahwa hampir seluruh peradaban manusia dibangun bukan untuk menghapus hierarki, melainkan untuk mengelolanya.
Karena sejak manusia pertama kali hidup berkelompok, mereka tidak hanya menciptakan kerja sama.
Mereka juga menciptakan tingkatan.
Ada yang memimpin.
Ada yang dipimpin.
Ada yang dihormati.
Ada yang diabaikan.
Ada yang memerintah.
Ada yang diperintah.
Dan meskipun bentuknya berubah sepanjang sejarah, pola dasarnya tetap sama.
Manusia mungkin mengganti nama sistemnya.
Tetapi mereka jarang menghapus kebutuhan untuk merasa lebih tinggi daripada sesamanya.
Mungkin karena kesetaraan adalah cita-cita.
Sedangkan hierarki adalah naluri.
Sekolah dan Produksi Nilai Manusia
Sejak kecil, manusia mulai diajarkan sesuatu yang tampak sederhana.
Mereka diberi nilai.
Mereka diberi peringkat.
Mereka dibandingkan.
Mereka diberitahu siapa yang pintar.
Siapa yang biasa saja.
Siapa yang tertinggal.
Dan tanpa disadari, mereka mulai memahami satu pelajaran yang jauh lebih penting daripada matematika atau bahasa.
Bahwa nilai diri dapat diukur.
Bahwa keberadaan manusia dapat diberi angka.
Bahwa hidup adalah kompetisi.
Maka sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu.
Ia juga mengajarkan hierarki.
Anak-anak belajar bahwa penghargaan tidak diberikan secara merata.
Pengakuan harus diperebutkan.
Dan semakin cepat seseorang memahami aturan itu, semakin cepat pula ia belajar menjadi bagian dari perlombaan.
Betapa ironisnya.
Sebelum manusia memahami siapa dirinya, mereka terlebih dahulu diajarkan bagaimana menilai dirinya berdasarkan posisi dibandingkan orang lain.
Ekonomi dan Hirarki Kehormatan
Manusia sering percaya bahwa uang hanyalah alat tukar.
Tetapi uang tidak pernah sekadar menjadi alat tukar.
Uang adalah simbol.
Ia adalah bahasa universal yang dipakai manusia untuk mengukur nilai.
Bukan hanya nilai barang.
Tetapi juga nilai manusia.
Orang kaya lebih didengar.
Orang kaya lebih dihormati.
Orang kaya lebih dipercaya.
Bahkan kesalahan mereka sering kali lebih mudah dimaafkan.
Sementara orang miskin tidak hanya kehilangan harta.
Mereka sering kali kehilangan martabat di mata masyarakat.
Dan inilah kenyataan yang paling pahit.
Bahwa kemiskinan tidak hanya berarti kekurangan.
Kemiskinan sering kali berarti dianggap tidak penting.
Maka manusia mengejar kekayaan bukan hanya untuk hidup.
Mereka mengejar kekayaan agar keberadaannya memperoleh pengakuan.
Karena di dalam masyarakat, uang tidak hanya membeli barang.
Uang membeli posisi.
Politik dan Hasrat untuk Menguasai
Tidak ada panggung yang lebih jujur dalam memperlihatkan sifat manusia selain politik.
Karena di dalam politik, semua topeng perlahan terlepas.
Manusia berbicara tentang pengabdian.
Tentang rakyat.
Tentang keadilan.
Tentang pengorbanan.
Namun di balik semua itu sering kali terdapat satu dorongan yang jauh lebih tua.
Keinginan untuk berada di atas.
Keinginan untuk menentukan.
Keinginan untuk menjadi pusat perhatian.
Keinginan untuk diingat.
Karena kekuasaan menawarkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh hampir semua hal lain.
Kekuasaan memberikan ilusi bahwa seseorang mampu melawan ketidakberartian.
Ketika seseorang berkuasa, ia merasa dirinya penting.
Keputusannya mengubah hidup orang lain.
Namanya disebut.
Keberadaannya diperhitungkan.
Dan bagi ego manusia, tidak ada candu yang lebih kuat daripada perasaan bahwa dirinya memiliki arti.
Moralitas Sebagai Alat Pengelompokan
Bahkan moralitas, yang sering dianggap sebagai penuntun menuju kebaikan, terkadang berfungsi sebagai alat pembentukan hierarki.
Karena ketika manusia berkata:
“Aku berada di pihak yang benar.”
Sering kali tersembunyi kalimat lain yang tidak diucapkan:
“Dan karena itu, aku lebih baik daripada kamu.”
Maka lahirlah kelompok-kelompok.
Kelompok yang merasa dirinya lebih bermoral.
Lebih tercerahkan.
Lebih rasional.
Lebih suci.
Lebih manusiawi.
Dan begitu manusia membagi dunia menjadi “kami” dan “mereka”, hierarki baru kembali tercipta.
Karena manusia tidak hanya membutuhkan identitas.
Mereka membutuhkan identitas yang lebih unggul.
Mengapa Manusia Tidak Pernah Benar-Benar Menginginkan Kesetaraan
Mungkin ini adalah pertanyaan yang paling tidak nyaman.
Apakah manusia benar-benar menginginkan kesetaraan?
Atau mereka hanya ingin berada di posisi yang lebih menguntungkan di dalam hierarki?
Karena ketika seseorang berada di bawah, ia menuntut kesetaraan.
Tetapi ketika ia berhasil naik ke atas, sering kali ia mulai mempertahankan perbedaan.
Mereka yang dahulu menolak dominasi, terkadang menjadi pelaku dominasi berikutnya.
Mereka yang dahulu merasa tertindas, terkadang menciptakan bentuk penindasan baru.
Karena persoalannya bukan selalu tentang sistem.
Terkadang persoalannya adalah manusia itu sendiri.
Manusia ingin diperlakukan setara.
Tetapi mereka juga ingin merasa istimewa.
Dan kedua keinginan itu sering kali saling bertentangan.
Karena jika semua orang benar-benar setara, lalu dari mana seseorang memperoleh perasaan bahwa dirinya lebih berharga?
Peradaban Sebagai Kompetisi yang Diperhalus
Barangkali seluruh peradaban hanyalah kompetisi yang dibuat lebih sopan.
Manusia tidak lagi bertarung dengan tombak.
Mereka bertarung dengan gelar.
Dengan kekayaan.
Dengan pengaruh.
Dengan kecerdasan.
Dengan moralitas.
Dengan popularitas.
Dengan kesucian.
Dengan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi.
Dan yang paling ironis adalah bahwa sebagian besar manusia tidak menyadari bahwa mereka sedang bertarung.
Mereka menyebutnya karier.
Mereka menyebutnya pengembangan diri.
Mereka menyebutnya pencapaian.
Padahal jauh di dalam alam bawah sadar mereka, terdapat pertanyaan yang sama yang telah menghantui manusia selama ribuan tahun:
“Apakah aku lebih berarti daripada yang lain?”
Mesin yang Tidak Pernah Berhenti
Peradaban modern mungkin adalah mesin reproduksi hierarki yang paling sempurna.
Ia tidak memaksa manusia dengan rantai.
Ia tidak memaksa manusia dengan cambuk.
Ia membuat manusia dengan sukarela memasuki perlombaan.
Mereka bekerja lebih keras.
Belajar lebih keras.
Bersaing lebih keras.
Bukan karena dipaksa.
Tetapi karena takut tertinggal.
Takut kalah.
Takut tidak dihormati.
Takut menjadi tidak relevan.
Dan mesin itu terus berjalan.
Generasi demi generasi.
Menciptakan pemenang.
Menciptakan pecundang.
Menciptakan harapan.
Menciptakan keputusasaan.
Sementara manusia terus percaya bahwa mereka sedang mengejar kebahagiaan.
Padahal mungkin, mereka hanya sedang berlari dari ketakutan untuk menjadi tidak berarti.
Tragedi yang Tidak Pernah Disadari
Dan mungkin inilah tragedi terbesar dari peradaban manusia.
Bahwa manusia membangun sistem yang sangat rumit untuk menghindari satu kenyataan sederhana.
Bahwa mereka adalah makhluk fana yang takut menjadi kecil.
Maka mereka menciptakan gelar.
Mereka menciptakan status.
Mereka menciptakan kekayaan.
Mereka menciptakan kehormatan.
Mereka menciptakan hierarki.
Karena tanpa semua itu, mereka akan dipaksa berhadapan dengan pertanyaan yang paling mengerikan.
Jika seluruh simbol superioritas itu dihapuskan.
Jika seluruh penghargaan itu dilenyapkan.
Jika seluruh hierarki itu runtuh.
Lalu apa yang tersisa dari manusia?
Dan mungkin itulah pertanyaan yang paling ditakuti oleh peradaban.
Karena mungkin, jauh di balik semua pencapaian dan kebanggaannya, manusia sebenarnya hanyalah makhluk yang ketakutan.
Makhluk yang tidak mampu menerima kemungkinan bahwa dirinya tidak pernah seistimewa yang selama ini ia percayai.
Jadilah orang lemah sekaligus bodoh agar semua orang senang dengan keberadaanmu. karena kecerdasanmu adalah kehancuranmu yang disebabkan oleh rasa takut mereka dari apa yang tidak mereka ketahui. Karena lebih baik diremehkan dari pada ditakuti. Dan carilah lingkungan yang dimana kamu merasa paling bodoh di ruangan itu.
Hiburan Kita – Power Of Silence