Manusia adalah makhluk yang aneh; mereka membenci kelemahan, tetapi juga takut pada kekuatan. Ketika dirimu jatuh, mereka menatapmu dengan mata penuh penghinaan seolah penderitaanmu adalah hiburan yang diam-diam mereka nikmati. Mereka berkata hidup harus saling membantu, tetapi di dalam batin terdalamnya mereka merasa puas melihat seseorang lebih rendah dari dirinya. Sebab kelemahan orang lain memberi mereka ilusi bahwa hidup mereka sendiri tidak terlalu gagal.
Namun ketika dirimu bangkit, ketika dirimu mulai memiliki kekuatan, uang, pengaruh, atau keberanian untuk tidak tunduk, wajah mereka berubah. Mereka mulai menyebutmu sombong, terlalu percaya diri, lupa diri, seolah dunia hanya mengizinkanmu menderita tetapi tidak mengizinkanmu memiliki martabat. Mereka tidak benar-benar membenci kesombonganmu; mereka membenci kenyataan bahwa dirimu tidak lagi bisa mereka kendalikan. Karena manusia sering kali hanya mencintai versi dirimu yang lemah, patuh, dan bergantung pada belas kasihan mereka.
Mereka ingin melihatmu miskin agar mereka dapat merasa lebih kaya. Mereka ingin melihatmu gagal agar mereka dapat merasa lebih berhasil. Mereka ingin melihatmu terluka agar ego mereka merasa lebih hidup. Bahkan simpati pun terkadang hanyalah bentuk kesombongan yang paling halus, sebuah kenikmatan psikologis saat seseorang merasa dirinya berada di posisi lebih tinggi dari pada orang yang sedang menderita. Dan itulah sebabnya banyak manusia diam-diam kecewa ketika orang yang pernah mereka kasihani akhirnya berhasil melampaui mereka.
Di balik wajah moralitas manusia, tersembunyi naluri primitif yang haus akan dominasi. Mereka berbicara tentang kebaikan, tetapi menikmati kuasa. Mereka berbicara tentang ketulusan, tetapi menghitung keuntungan. Mereka berbicara tentang cinta, tetapi ingin memiliki dan mengendalikan. Dunia sosial hanyalah panggung besar tempat manusia saling memakai topeng demi menyembunyikan ego yang lapar. Tidak ada yang benar-benar stabil, sebab prinsip manusia sering berubah mengikuti rasa aman, rasa takut, dan kepentingan yang sedang mereka butuhkan.
Hari ini mereka memujimu karena dirimu berguna. Besok mereka menghancurkanmu karena dirimu tidak lagi memberi keuntungan bagi ego mereka. Hari ini mereka menyebutmu saudara. Besok mereka menganggapmu ancaman ketika dirimu berdiri lebih tinggi dari mereka. Begitulah manusia: makhluk yang mampu mengubah moralitas hanya demi mempertahankan kenyamanan batinnya sendiri.
Yang paling mengerikan adalah kenyataan bahwa banyak manusia bahkan tidak sadar dirinya munafik. Mereka mengira dirinya tulus, padahal seluruh hidupnya digerakkan oleh rasa iri, ketakutan, dan kebutuhan untuk merasa lebih unggul dari orang lain. Mereka mengutuk penindasan ketika menjadi korban, tetapi berubah menjadi penindas ketika memiliki kesempatan untuk berkuasa. Mereka membenci penghinaan, tetapi menikmati saat dapat merendahkan orang lain secara perlahan. Di dalam diri manusia terdapat jurang gelap yang begitu dalam: keinginan untuk dihormati sambil diam-diam ingin melihat orang lain berada di bawah kakinya.
Dan mungkin itulah alasan mengapa dunia ini terasa begitu palsu. Karena sebagian besar hubungan manusia bukan dibangun di atas ketulusan, melainkan transaksi ego. Pertemanan bertahan selama menguntungkan. Kesetiaan bertahan selama tidak mengancam kepentingan pribadi. Bahkan cinta pun sering berubah menjadi bentuk kepemilikan yang halus, sebuah rasa takut kehilangan kendali atas seseorang yang dianggap memberi kebahagiaan bagi dirinya.
Ego manusia pada akhirnya adalah pemberontakan terhadap kenyataan bahwa mereka tidak berkuasa penuh atas hidup. Karena itu mereka mencoba menciptakan kekuasaan kecil di atas sesamanya. Mereka ingin menentukan siapa yang layak dihormati, siapa yang pantas dihina, siapa yang boleh bahagia, dan siapa yang harus tetap menderita. Mereka membenci kebebasan orang lain karena kebebasan itu mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat mereka kendalikan.
Maka jangan heran jika manusia dapat berubah hanya karena keadaan berubah. Moralitas mereka sering kali hanyalah pakaian yang dikenakan saat situasi aman. Ketika kepentingan, rasa iri, atau ketakutan mulai menyentuh ego mereka, topeng itu perlahan runtuh. Dan di balik reruntuhan topeng itu, terlihat wajah asli manusia: makhluk yang terus berbicara tentang cahaya sambil diam-diam hidup dari kegelapan batinnya sendiri.
Kehidupan ini sejatinya bukanlah dunia yang dipenuhi ketulusan seperti dunia dongeng yang hangat seperti dunia teletubbies, melainkan arena tempat ego saling berburu kekuasaan. Yang lemah dihina karena tidak memiliki nilai. Yang kuat dibenci karena tidak bisa dikendalikan. Yang miskin diremehkan karena dianggap tidak berguna. Yang kaya dimusuhi karena tidak lagi tunduk pada permainan sosial. Dan di tengah semua itu, manusia terus menyebut dirinya makhluk bermoral, sambil membawa kebusukan batin yang bahkan sering tidak sanggup mereka akui kepada diri mereka sendiri sehingga kebencian yang mereka rasakan tidaklah sebanding dengan kebencian yang ku rasakan terhadap dunia yang absurd ini yang telah saya tuliskan sebagai manifesto.
manusia dan kenaifannya
Orang naif pada dasarnya memang jarang memahami bagaimana kebenaran bekerja di dalam realitas kehidupan. Mereka memandang kebenaran sebagai sesuatu yang murni, lurus, dan adil, padahal di balik itu kebenaran sering kali dibentuk oleh kepentingan, kekuasaan, dominasi, serta kebutuhan untuk mempertahankan keseimbangan sosial tertentu. Karena terlalu naif memahami hakikat kebenaran, mereka justru mudah terjebak dalam ketidakadilan yang tidak mereka sadari. Mereka mengira dirinya sedang membela sesuatu yang benar, padahal tanpa sadar hanya sedang menjadi alat untuk menopang kepentingan pihak lain.
Di dalam kehidupan, keseimbangan sosial sering kali berdiri di atas keberadaan orang-orang naif. Mereka menjadi fondasi emosional yang menjaga legitimasi suatu kelompok, ideologi, maupun kekuasaan. Ketika seseorang terlalu polos, terlalu mudah percaya, dan terlalu sederhana memahami realitas, maka ia menjadi ruang kosong yang dapat diisi oleh narasi siapa pun yang mampu menyentuh emosinya. Dari situlah ketidakseimbangan muncul, sebab orang-orang naif mulai diperebutkan layaknya sumber daya yang bernilai.
Karena kehidupan tidak pernah terlepas dari kepentingan, orang bodoh dan naif sering kali berubah menjadi aset politik paling berharga. Mereka mudah diarahkan melalui sentimen, rasa takut, kebencian, fanatisme, maupun harapan palsu. Para aktor yang haus pengaruh memahami bahwa menguasai pikiran orang cerdas jauh lebih sulit dibanding mengendalikan emosi massa yang naif. Maka yang diperebutkan bukan lagi kebenaran itu sendiri, melainkan siapa yang paling mampu mengambil hati mereka.
Lebih gelapnya lagi, orang naif sering tidak sadar bahwa dirinya sedang digunakan. Mereka merasa sedang berjuang demi moralitas, keadilan, agama, bangsa, atau kemanusiaan, padahal di balik semua itu ada tangan-tangan yang sedang memanfaatkan kepolosan mereka untuk memperkuat dominasi. Ketika orang naif memiliki sesuatu yang bernilai, entah jumlah massa, loyalitas, kekuatan sosial, suara politik, atau bahkan sekadar pengaruh emosional, maka keberadaan mereka menjadi komoditas yang diperebutkan oleh berbagai kepentingan.
Ironisnya, semakin naif seseorang, semakin mudah ia merasa dirinya paling benar. Sebab kenaifan sering melahirkan keyakinan absolut tanpa kemampuan untuk melihat lapisan realitas yang lebih rumit. Mereka hidup di permukaan simbol, slogan, dan emosi, sementara para aktor yang lebih sadar bermain jauh di kedalaman strategi, manipulasi, dan kalkulasi kekuasaan. Di situlah tragedi manusia sering terjadi: orang-orang naif mengorbankan dirinya demi sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya mereka pahami, sementara pihak yang memanfaatkan mereka tetap berdiri aman di balik panggung kekuasaan.
Pada akhirnya, dunia tidak selalu bergerak berdasarkan siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling mampu mengendalikan persepsi tentang kebenaran. Dan di dalam permainan itu, orang-orang naif sering kali hanyalah pion yang mengira dirinya pemain.