Realitas tergelap dari manusia ialah bahwa dirimu tidaklah berharga selain nilai apa yang kamu miliki berupa materi yang akan menentukan sepantas apa dirimu untuk layak hidup ibaratkan pelayanan rumah sakit kepadamu yang dimana setiap manusia akan menghargai wujudmu sebagai manusia atas nama jiwa atau nyawamu dengan sebatas materiil semata dengan seolah masalah hidupmu akan dapat diselesaikan tergantung seberapa banyak uang atau harta yang kau miliki dengan seolah setiap orang-orang yang sebelumnya tidak menghargai bahkan membencimu dapat saja menjadi teman terbaikmu dengan sebatas sampai kapan dirimu menguntungkan bagi mereka itulah sebabnya sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat yang dimana mereka akan pergi meninggalkanmu jika dirimu tidak lagi mendatangkan keuntungan apapun lagi kepada mereka ibaratkan moralitas penjilat kehormatan.
Didalam kehidupan penuh dengan kepentingan yang didasari kedengkian maka janganlah pernah terlihat hebat atau menonjolkan diri dengan kehebatanmu, karena semangkin tampak hebat dirimu maka semangkin banyak lawan politikmu, karena lebih baik diremehkan dari pada ditakuti dan lebih baik ditakuti dari pada dicintai. Jika engkau ingin mengerti bagaimana dunia ini bekerja yang sebenarnya manusia itu sendiri terlalu naif untuk dapat menyadarinya karena manusia adalah makhluk yang buta akan cahaya yang ia rasakan yang tak lain dari keindahan dari kegelapan itu sendiri yang dimana manusia itu sejatinya hidup dengan naluri purba yang sangat cerdas menggunakan moralitas sebagai kepentingan politik yang jauh lebih gelap dari naluri hewan pada diri manusia itu sendiri yaitu sejatinya adalah makhluk yang hidup dengan cara menindas atau ditindas yang dimana akan membencimu jika kamu kuat tetapi ia juga akan akan dapat membencimu jika dirimu lemah sebagai bentuk kedengkian hati manusia itu sendiri sebagaimana kehendak bebas untuk dapat selalu bahagia yang tampak mempermasalahkan ucapanmu jika dirimu miskin seolah dirimu hanya dizinkan sombong ketika dirimu kaya.
Logika cacat tentang kehidupan yang sekaligus menjadi kebenaran dari kehidupan itu sendiri bahwa kebenaran itu tidak bersifat universal atau bersifat relatif, subjektif yang dimana kebenaran tersebut tidak hanya dipahami baik atau jahat, benar atau salah yang sering dipahami oleh orang-orang naif ber-SDM rendah yang mengutamakan agama sebagai kebenaran absolut (mabuk agama) yang menjadikan dirinya lebih buruk dari kejahatan itu sendiri dengan tidak memahami hakikat keberadaan manusia itu sendiri dengan memahami betapa naifnya manusia. Oleh karena itu mengapa orang yang telah bermakrifat lebih baik di bandingkan orang yang beragama atau orang yang telah merasakan pengenalan, pengetahuan secara metafisik lebih baik dibandingkan orang yang memahami agama sebatas materi semata yang terlalu dangkal selayaknya orang beragama tetapi tidak berspritual sebagaimana orang menjadikan agama sebagai kepentingan politik sebagai ilusi zuhud atas duniawi semata dengan menjadikan agama sebagai bisnis berujung menjadi alat politik.
Naluri tergelap manusia lainnya adalah tidak inginnya mereka melepaskan dirimu sebagaimana ketidakinginan mereka melihatmu mandiri agar mereka selalu merasa diri mereka itu penting, yang dimana mereka memerlukan dirimu untuk tidak dapat berkembang lebih baik dibandingkan diri mereka akan mereka mengharapkan dirimu terus bergantung dengan kebaikan mereka sebagai kontrol emosional bahwa dirimu selalu membutuhkan keberadaan mereka sebagaimana mereka akan membencimu jika dirimu tidak lagi membutuhkan mereka. Oleh sebab itu kebenaran itu tidak akan dianggap layak untuk didengarkan atau dipandang hina jika dirimu miskin sebagaimana manusia itu sendiri hadir dari rasa takut (fear factor) layaknya mentalitas anak-anak yang dimana mereka tidak memperdulikan dirimu jika dirimu lemah lain halnya dalam kehidupan orang dewasapun sama saja tidak akan memperdulikan kebenaran yang kamu sampaikan jika kamu miskin karena mereka membencimu karena kamu hidup sederhana selayaknya seorang penjilat yang membencimu jika dirimu dianggap lemah.
Orang naif itu pada dasarnya terlalu buruk jika ia mengaku sebagai orang baik. Ibaratkan orang bodoh yang emosional.
Manusia sejatinya membutuhkan orang lemah agar mereka merasa hebat sebagaimana mereka menginginkan dirimu tidak dapat berkembang untuk dapat membuat diri mereka merasa penting akibat kebodohanmu sebagaimana mereka menginginkan dirimu terikat secara emosional atau menyeretmu kedalam permainan ego mereka. Karena besar atau kecilnya ego manusia yang mengenalmu tergantung seberapa sepele dan hina dirimu dipandang oleh mereka sebagaimana mereka membencimu jika dirimu lemah atau miskin bagi mereka yang di akibat oleh kesombongan manusia itu sendiri yang bertindak berdasarkan alam bawah sadar mereka atas ego dalam memperlakukan dirimu sebagaimana kehendak bebas manusia itu sendiri. Oleh sebab itu jika dirimu kuat atau bermateri memiliki banyak teman itu artinya hidupmu didalam kepalsuan sebagaimana keharmonisan itu terbentuk.