Pengakuan Tidak Pernah Memuaskan?
Jika pengakuan adalah sesuatu yang dicari manusia, mengapa ia jarang benar-benar memuaskan?
Mengapa seseorang yang telah memperoleh penghormatan masih terus bekerja demi penghormatan berikutnya?
Mengapa seorang pemimpin yang telah mencapai puncak kekuasaan tetap merasa terancam?
Mengapa seorang pemikir yang telah diakui masih dihantui ketakutan bahwa karya berikutnya akan dilupakan?
Barangkali persoalannya bukan karena manusia tidak pernah memperoleh cukup banyak pengakuan.
Barangkali persoalannya adalah bahwa pengakuan tidak pernah mampu menghentikan waktu.
Setiap pujian memiliki umur.
Setiap kemenangan memiliki akhir.
Setiap reputasi bergantung pada ingatan orang lain.
Apa yang hari ini dianggap luar biasa, esok hari dapat berubah menjadi sesuatu yang biasa.
Pengakuan tidak menghapus kefanaan.
Ia hanya menunda perjumpaan manusia dengan kesadarannya sendiri.
Ambisi sebagai Perlawanan terhadap Keterbatasan
Ambisi sering dipahami sebagai hasrat untuk memperoleh lebih banyak.
Lebih banyak kekayaan.
Lebih banyak kekuasaan.
Lebih banyak pengetahuan.
Lebih banyak pengaruh.
Namun mungkin ambisi juga dapat dipahami dengan cara lain.
Ia adalah usaha untuk melampaui batas-batas yang dirasakan manusia.
Seorang penulis ingin mengetahui sesuatu yang belum diketahui.
Seorang pemikir ingin menciptakan bentuk yang belum pernah lahir sebagai alkimia pemikiran.
Seorang terpelajar ingin memecahkan rekor.
Seorang pemimpin ingin meninggalkan warisan.
Dalam bentuk-bentuk seperti ini, ambisi tidak selalu identik dengan dominasi.
Ia juga dapat menjadi dorongan naluriah.
Tetapi sejarah menunjukkan bahwa dorongan yang sama dapat berubah menjadi keinginan untuk menempatkan diri di atas orang lain.
Di sinilah ambisi memasuki wilayah yang lebih rumit.
Ia tidak lagi hanya berbicara tentang pencapaian.
Ia mulai berbicara tentang posisi.
Dunia Sebagai Cermin
Ada sebuah kecenderungan yang tampaknya sulit dihindari.
Manusia sering kali memahami dirinya melalui perbandingan.
Seseorang merasa berhasil bukan hanya karena ia mencapai tujuan.
Ia juga merasa berhasil karena mengetahui bahwa pencapaiannya melampaui pencapaian orang lain.
Hal ini tidak berarti setiap keberhasilan lahir dari rasa iri.
Namun perbandingan sosial memberi warna pada cara manusia menafsirkan keberhasilannya sendiri.
Dunia perlahan berubah menjadi cermin.
Setiap orang melihat dirinya melalui pantulan yang diberikan oleh masyarakat.
Semakin terang pantulan itu, semakin kuat pula keyakinan bahwa dirinya bernilai.
Namun cermin memiliki kelemahan.
Ia tidak pernah memperlihatkan manusia apa adanya.
Ia hanya memantulkan sudut tertentu.
Ketika seseorang menggantungkan seluruh nilai dirinya pada pantulan tersebut, ia mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan antara dirinya dan citra tentang dirinya.
Dari Prestasi Menuju Superioritas
Prestasi pada dirinya sendiri bukanlah masalah.
Masyarakat membutuhkan pengetahuan, seni, keberanian, dan inovasi.
Masalah muncul ketika prestasi tidak lagi dipahami sebagai kontribusi, melainkan sebagai dasar untuk menentukan nilai manusia.
Di sinilah superioritas memperoleh pijakan.
Seseorang tidak lagi berkata,
“Aku ingin menjadi lebih baik daripada diriku kemarin.”
Ia mulai berkata,
“Aku ingin berada di atas mereka.”
Perubahan kecil dalam orientasi ini memiliki akibat yang besar.
Karena ketika nilai diri bergantung pada posisi relatif, keberhasilan orang lain mulai terasa sebagai ancaman.
Maka lahirlah persaingan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Tidak ada garis akhir.
Selalu ada seseorang yang lebih kaya.
Lebih terkenal.
Lebih saleh.
Lebih cerdas.
Lebih berpengaruh.
Dan selama ukuran nilai diri ditentukan oleh perbandingan, kepuasan menjadi sesuatu yang terus menjauh.
Superioritas yang Halus
Tidak semua superioritas tampil dalam bentuk kesombongan.
Ada superioritas yang lebih halus.
Seseorang dapat merasa lebih unggul karena kesederhanaannya.
Karena pengorbanannya.
Karena kepeduliannya.
Karena pengetahuannya.
Karena kedalaman spiritualnya.
Semua itu dapat menjadi sumber inspirasi.
Namun semuanya juga dapat berubah menjadi sumber identitas yang menempatkan diri lebih tinggi daripada orang lain.
Yang menarik bukanlah objeknya.
Melainkan mekanismenya.
Apa pun yang memperoleh penghargaan sosial berpotensi menjadi dasar bagi pembentukan hierarki baru.
Dengan demikian, persoalan tidak terletak pada kekayaan, moralitas, agama, atau ilmu pengetahuan itu sendiri.
Persoalannya terletak pada kecenderungan manusia untuk mengubah setiap bentuk pengakuan menjadi ukuran nilai pribadi.
Kehendak untuk Melampaui
Apakah manusia memang selalu ingin menguasai?
Barangkali pertanyaan itu terlalu sederhana.
Mungkin yang lebih tepat adalah ini:
Mengapa manusia terus ingin melampaui dirinya sendiri?
Kadang dorongan itu melahirkan penemuan.
Kadang melahirkan karya seni.
Kadang melahirkan tindakan heroik.
Namun kadang pula melahirkan penindasan.
Sejarah memperlihatkan bahwa sumber energi yang sama dapat menghasilkan buah yang sangat berbeda.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah manusia memiliki kehendak untuk melampaui.
Persoalannya adalah ke mana kehendak itu diarahkan.
Ketika diarahkan kepada penciptaan, ia dapat memperkaya dunia.
Ketika diarahkan kepada dominasi, ia dapat mempersempit dunia menjadi panggung tempat hanya sedikit orang yang berhak berdiri di atas.
Darkness Reality.
Hierarki melahirkan kebutuhan akan pengakuan.
Pengakuan melahirkan ambisi.
Ambisi membuka kemungkinan bagi kreativitas sekaligus dominasi.
Dari titik inilah sejarah manusia yang sebenarnya akan menjadi semakin rumit.
Institusi-institusi yang semula dibangun untuk mengatur kehidupan bersama perlahan berubah menjadi ruang tempat ambisi memperoleh bahasa, simbol, dan legitimasi.
Apakah moralitas itu benar atau salah?
Melainkan pertanyaan tersebut sungguh lebih mengganggu:
“Tidak semua manusia ingin menjadi penguasa. Namun hampir semua manusia ingin hidup dengan keyakinan bahwa keberadaannya memiliki bobot di hadapan dunia.”
Apa yang terjadi ketika kebajikan mulai berfungsi bukan hanya sebagai pedoman hidup, tetapi juga sebagai sumber status, otoritas, dan pengakuan sosial?