Mengapa Banyak Orang Suka Mencuri?

Bagikan bila kamu menyukainya

Mencuri adalah masalah yang umum kita temui yang terus ada sepanjang waktu kita. Meskipun undang-undang dan norma-norma masyarakat secara universal melarang pencurian, pertanyaannya tetap: mengapa begitu banyak orang suka mencuri? Fenomena mencuri telah menarik minat para psikolog, sosiolog, dan kriminolog selama berabad-abad. Terlepas dari konsekuensi moral dan hukumnya, pencurian masih banyak terjadi di berbagai masyarakat dan budaya. Memahami mengapa orang melakukan pencurian melibatkan eksplorasi jaringan faktor psikologis, sosial, dan ekonomi yang kompleks dengan memahami motivasi dan dasar psikologis di balik pencurian dapat membantu mengatasi masalah yang banyak terjadi ini.

Faktor psikologis

Gangguan Kompulsif

Kleptomania adalah kelainan psikologis yang dikenali di mana seseorang merasakan dorongan kompulsif untuk mencuri barang-barang yang sering kali tidak diperlukan atau tidak bernilai. Tidak seperti pencuri pada umumnya, penderita kleptomania mencuri karena kondisi kesehatan mental, bukan demi keuntungan finansial atau tekanan sosial.

Masalah Pengendalian Impuls

Kontrol impuls yang buruk merupakan faktor psikologis lain yang berkontribusi terhadap dorongan untuk mencuri. seseorang dengan gangguan kontrol impuls seringkali bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Kurangnya pandangan ke depan atau memikirkan masalah atau resiko kedepan yang akan terjadi pada mereka bila mereka mencuri (tidak mikir/kurang mikir) sehingga dapat menyebabkan mereka terdorong untuk mencuri, dalam situasi di mana seharusnya mereka tidak mungkin terlibat dalam perilaku mencuri tersebut bila mereka berfikir karena tahu akan konsekuensinya.

Perilaku Mencari Sensasi

Salah satu alasan psikologis utama di balik pencurian adalah sifat seseorang ingin mencari sensasi. Bagi sebagian orang, mencuri dapat memacu adrenalin seperti halnya olahraga ekstrem atau perjudian. Kegembiraan ini dapat membuat ketagihan bila mereka telah berhasil melakukan pencurian, yang menyebabkan seseorang dapat mengulangi tindakan serupa meskipun mengetahui risikonya demi mempertaruhkan keberuntungan mereka atas konsekunsi buruk bagi keselamatan jiwa mereka karena mereka beranggapan “tidak akan tahu hasilnya kalau tidak dicoba” atau istilah mereka harus tetap teguh dengan merasa positif saja, yang penting “yakin” karena dengan merasa “yakin” mereka termotivasi untuk mencuri karena dapat memicu hormon adrenalin untuk menantang keraguan atau rasa takut mereka dan hormon endorfin karena mereka dapat senang melakukannya atau maniac.

Pengaruh Sosial

Tekanan Teman Sebaya

Khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda, tekanan teman sebaya dapat mempengaruhi keputusan mencuri secara signifikan. Menjadi bagian dari kelompok yang membenarkan prilaku yang salah yang membuat mereka bahkan terdorong melakukan pencurian dan dapat mengarahkan seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut agar dapat menyesuaikan diri atau mendapatkan penerimaan, penghargaan, atau kehormatan terhadap teman-teman kelompok mereka yang mempunyai prilaku yang sama.

Norma dan Nilai Masyarakat

Di beberapa budaya atau komunitas/kelompok sosial dari kalangan bandit atau orang miskin, mencuri mungkin lebih diterima secara sosial atau bahkan dipandang sebagai cara penting untuk bertahan hidup. Ketika norma-norma masyarakat lebih permisif terhadap pencurian, seseorang lebih cenderung melakukan perilaku tersebut tanpa merasa takut bersalah atau takut akan pembalasan dan tanpa merasa takut akan dosa dari perbuatan mereka, merasa “no problem” atau merasa tanpa bersalah pada diri mereka karena mereka mengharapkan hasil dari resiko yang mereka hadapi karena keadaan mereka saat ini mendoromg mereka untuk melakukannya.

Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga yang secara langsung maupun tidak langsung merestui tindakan pencurian dapat membentuk sikap seseorang terhadap pencurian. Anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga di mana pencurian adalah hal yang normal atau digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan, karena orang tua miskin hanya melarang anak mereka untuk mencuri ketika gagal atau ditangkap orang saja karena ketahuan, bila berhasil mencuri orang tuanya menganggap itu adalah rezeki mereka walaupun orang tua mereka sedikit merasa marah kepada anak mereka karena beresiko atau malu bila ketahuan, dan kemungkinan keluarga besar mereka akan mengadopsi perilaku serupa bila orang tua mereka adalah ahlinya dalam melakukan hal yang tidak baik tersebut.

Faktor-faktor ekonomi

Kemiskinan dan Keputusasaan Finansial

Salah satu alasan paling umum terjadinya pencurian adalah keputusasaan finansial. Orang-orang yang hidup dalam kemiskinan mungkin melakukan pencurian sebagai cara untuk menafkahi diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Ketika kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal tidak terpenuhi, pencurian sepertinya merupakan satu-satunya pilihan yang bisa dilakukan.

Pengangguran dan Setengah Pengangguran

Tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran dapat menyebabkan peningkatan tingkat pencurian. Ketika seseorang tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang stabil dan memadai, mereka mungkin akan melakukan pencurian sebagai cara untuk mengkompensasi kurangnya dari pendapatan sah dari hasil dari pekerjaan utama mereka.

Ketimpangan Ekonomi

Kesenjangan ekonomi dan persepsi kesenjangan juga dapat mendorong seseorang untuk mencuri. Ketika orang melihat perbedaan besar dalam hal kekayaan dan peluang, perasaan benci dan ketidakadilan dapat mengarah pada pencurian sebagai bentuk balas dendam atau untuk menyamakan kedudukan.

Keuntungan pribadi

Keuntungan Finansial

Bagi sebagian orang, motivasi utama seseorang yang gemar mencuri adalah mendambakan keuntungan finansial. Mencuri barang-barang bernilai tinggi yang dapat dijual kembali untuk mendapatkan keuntungan memberikan keuntungan moneter langsung. Pencurian jenis ini seringkali lebih diperhitungkan dan direncanakan.

Harta Benda

Keinginan untuk memiliki harta benda tertentu tanpa sarana untuk membelinya secara sah juga dapat menyebabkan pencurian. Hal ini sering kali didorong oleh tekanan masyarakat untuk memiliki barang tertentu, seperti pakaian desainer yang branded, aksesoris berkelas, barang elektronik kaum elit/sultan “sebutan untuk kaya”, atau simbol status kekayaan lainnya.

Mendapatkan Kekuasaan dan Kontrol

Mencuri juga bisa berarti mendapatkan rasa berkuasa dan kendali. Bagi sebagian orang, tindakan mengambil sesuatu yang bukan miliknya memberikan rasa dominasi terhadap orang lain. Hal ini khususnya menarik dalam lingkungan di mana seseorang merasa tidak berdaya atau terpinggirkan.

Imbalan Psikologis

Pelepasan Dopamin

Melakukan perilaku berisiko, termasuk pencurian, dapat memicu pelepasan hormon dopamin di otak. Neurotransmitter ini dikaitkan dengan kesenangan dan penghargaan, menciptakan lingkaran penguatan positif yang dapat membuat tindakan mencuri menjadi menyenangkan dan membuat ketagihan orang yang berhasil melakukannya.

Kepuasan Emosional

Bagi sebagian orang, mencuri memberikan kepuasan emosional yang mungkin tidak mereka temukan di tempat lain. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang mencuri untuk mengatasi perasaan tidak mampu, stres, atau depresi. Tindakan mengambil sesuatu yang bukan haknya mereka dan melepaskan tekanan mental dan emosi (psikologis) yang dapat memberikan pemulihan sementara pada harga diri dan suasana hati mereka.

Balas Dendam dan Retribusi

Dalam beberapa kasus, pencurian didorong oleh keinginan untuk membalas rasa sakit hati atau membalas dendam. Seseorang yang merasa dirugikan atau dipinggirkan mungkin mencuri sebagai cara untuk membalas orang yang mereka anggap telah berbuat salah terhadap mereka, baik itu kepada orang yang pemberi kerja pada suatu usaha rintisan atau perusahaan, atau masyarakat luas.

Faktor Sosial dan Lingkungan

Urbanisasi dan Anonimitas

Tinggal di lingkungan penuh dengan keberagaman sosial yang besar dimana orang-orangnya lebih anonim atau keinginan untuk tidak dikenal dapat berkontribusi terhadap tingginya tingkat pencurian. Kurangnya ikatan sosial dan rasa anonimitas dapat membuat seseorang merasa kurang bertanggung jawab atas tindakan mereka, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya pencurian, terutama tinggal di lingkungan perkotaan yang besar membuat mereka mudah untuk menyembunyikan diri dari kejahatan terutama aksi pencurian (maling).

Ketersediaan Kesempatan atau peluang untuk beraksi (Target)

Kehadiran sasaran yang mudah dijangkau juga berperan dalam pencurian. Tingkat ketersediaan barang konsumsi tinggi yang sering dipakai konsumen yang tersedia banyak tetapi keamanan yang minim hal ini dapat sebagai peluang seseorang untuk mencari kesempatan dalam melancarkan aksi mencuri tanpa terdeteksi atau diketahui segera secara cepat yang akan dapat membuat aksi pencurian ini menjadi lebih di anggap menarik yang mungkin dapat dilakukan mereka yang ingin berniat jahat.

Pengaruh Media

Penggambaran media massa mengenai pencurian dan kejahatan juga dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku seseorang. Film, acara televisi, dan berita yang mengagung-agungkan atau menormalisasi pencurian dapat membuat masyarakat tidak peka terhadap implikasi moral dan hukum dari pencurian, sehingga berpotensi meningkatkan angka pencurian.

Media edukasi krimal dan kejahatan

Terutama tertangkapnya seorang pencuri oleh pihak berwajib dengan memperagakan bagaimana cara mereka dalam melakukan aksi kejahatan pada siaran media dapat membuat orang lain terinspirasi untuk mempelajari pengalaman mereka dalam bagaimana cara mereka dapat tertangkap atau metode apa yang mereka lakukan untuk mencuri dengan mencari sumber pengetahuan untuk mereka pelajari dan diperatekkan untuk meningkat persentase keberhasilan mereka didunia kejahatan.

Strategi Pencegahan dan Intervensi

Program Komunitas sosial

Menerapkan program komunitas yang memberikan dukungan dan sumber daya bagi seseorang yang berisiko dapat membantu mengurangi aksi pencurian. Program-program ini mungkin mencakup pelatihan kerja, bantuan keuangan, dan layanan kesehatan mental untuk mengatasi permasalahan mendasar yang berkontribusi terhadap pencurian.

Pendidikan dan Kesadaran

Meningkatkan kesadaran tentang konsekuensi pencurian dan mendidik masyarakat mengenai implikasi hukum dan moral juga dapat membantu mencegah seseorang untuk mencuri. Program sekolah, kampanye publik, dan lokakarya komunitas semuanya dapat berperan dalam upaya ini.

Tindakan Keamanan yang Ditingkatkan

Meningkatkan langkah-langkah keamanan di daerah rawan pencurian juga dapat menjadi alat atau metode pencegah yang efektif. Hal ini mencakup pengawasan yang lebih baik, personel keamanan yang lebih terlihat, dan peningkatan teknologi pencegahan pencurian di lingkungan ritel dan ruang publik.

Rehabilitasi dan Dukungan sosial

Bagi seseorang yang pernah terlibat dalam pencurian, layanan rehabilitasi dan dukungan sangatlah penting. Memberikan terapi bagi mereka yang menderita gangguan mencuri kompulsif, menawarkan bantuan penempatan kerja, dan menciptakan jalur untuk reintegrasi ke dalam masyarakat dapat membantu mencegah terulangnya pelanggaran yang sama, atau dapat terjadi lagi oleh orang lain yang berbeda.

Artikel dalam pengembangan lebih lanjut…

Konten di bawah ini adalah iklan dari platform lain. Media kami tidak terkait dengan konten ini.

Tinggalkan Balasan