Artikel ini termasuk arsip terlarang (deep web) yang dulunya telah lama eksis (disembunyikan), sebab artikel ini berbahaya.
Realitas tergelap dari manusia sebagai makhluk sosial bukanlah bahwa mereka membutuhkan satu sama lain, melainkan bahwa mereka membutuhkan keberadaan orang lain sebagai saksi atas keberadaan dirinya sendiri. Sebab kesepian yang paling mengerikan bagi manusia bukanlah ketika ia tidak memiliki siapa-siapa, melainkan ketika tidak ada seorang pun yang menganggap keberadaannya penting.
Dari sinilah lahir sebuah perang yang tidak pernah diumumkan, perang yang berlangsung setiap hari di dalam peradaban manusia, perang yang tidak selalu memakai senjata, tetapi memakai simbol, status, kekayaan, kesucian, kecerdasan, dan segala sesuatu yang dapat dijadikan alat untuk mengungguli sesamanya.
Manusia menyebut dirinya makhluk sosial seolah itu adalah sesuatu yang mulia. Padahal, di balik kata “sosial” tersembunyi sebuah kebutuhan primitif yang jauh lebih gelap, yaitu kebutuhan untuk berada di atas. Sebab menjadi bagian dari kelompok saja tidak cukup. Menjadi setara pun sering kali tidak memuaskan. Jauh di dalam nalurinya, manusia ingin menjadi yang paling didengar, paling dihormati, paling dicintai, paling benar, atau setidaknya tidak menjadi yang paling rendah.
Karena posisi terendah adalah mimpi buruk bagi ego.
Maka dimulailah perlombaan yang tidak pernah memiliki garis akhir.
Yang miskin bekerja mati-matian bukan semata-mata agar bisa makan, melainkan agar tidak dipandang rendah.
Yang kaya terus menumpuk harta bukan semata-mata karena kebutuhan, melainkan karena kekayaan adalah bahasa yang dipahami oleh manusia dalam menentukan siapa yang pantas dihormati.
Yang pintar ingin diakui.
Yang saleh ingin dipandang suci.
Yang baik ingin dikenang sebagai orang baik.
Bahkan mereka yang berkata bahwa dirinya rendah hati pun sering kali diam-diam bangga atas kerendahan hatinya.
Karena ego manusia dapat bersembunyi di balik segala sesuatu, termasuk di balik topeng kesederhanaan.
Dan semakin manusia menyadari bahwa dunia hanya menghargai apa yang terlihat, semakin ia belajar untuk menjadikan hidupnya sebagai panggung pertunjukan.
Mereka tersenyum agar terlihat bahagia.
Mereka bersedih agar terlihat manusiawi.
Mereka membantu agar dianggap mulia.
Mereka beribadah agar dianggap suci.
Mereka menderita agar dianggap kuat.
Bahkan cinta pun terkadang bukan lagi tentang mencintai, melainkan tentang memiliki seseorang yang dapat dijadikan bukti bahwa dirinya layak dicintai.
Karena bagi sebagian manusia, pasangan bukanlah rumah bagi jiwa, melainkan trofi bagi harga diri.
Dan anak-anak bukan sekadar keturunan, melainkan perpanjangan ego yang akan melanjutkan nama, kekuasaan, dan ambisi yang tidak sempat mereka capai.
Betapa mengerikannya manusia.
Bahkan kasih sayang dapat berubah menjadi bentuk dominasi yang paling halus.
Seorang ayah dapat memaksa anaknya demi nama baik keluarga.
Seorang ibu dapat mencintai anaknya, tetapi sekaligus menjadikan anak itu sebagai alasan untuk membenarkan seluruh pengorbanannya.
Seorang pemimpin dapat berbicara tentang rakyat, sementara yang sebenarnya ia cintai hanyalah pujian dari rakyat.
Seorang tokoh agama dapat berbicara tentang Tuhan, padahal yang diam-diam ia pertahankan adalah singgasana pengaruh yang dibangun atas nama Tuhan.
Dan yang lebih mengerikan lagi, manusia sering kali tidak sadar bahwa dirinya sedang diperbudak oleh pengakuan.
Ia mengira dirinya bebas.
Padahal suasana hatinya ditentukan oleh pujian.
Harga dirinya ditentukan oleh penghormatan.
Kebahagiaannya ditentukan oleh iri hati orang lain.
Dan penderitaannya ditentukan oleh keberhasilan orang lain.
Ia hidup, tetapi cermin kehidupannya berada di mata manusia lain.
Karena manusia tidak takut menjadi miskin.
Mereka takut diremehkan.
Manusia tidak takut menjadi tua.
Mereka takut kehilangan daya tarik.
Manusia tidak takut gagal.
Mereka takut ditertawakan.
Dan manusia tidak takut mati.
Mereka takut dilupakan.
Dilupakan adalah kematian kedua.
Kematian pertama merenggut tubuh.
Tetapi dilupakan merenggut seluruh ilusi bahwa keberadaan seseorang pernah berarti.
Mungkin karena itulah manusia membangun monumen.
Menulis nama di batu nisan.
Melahirkan keturunan.
Mengumpulkan kekayaan.
Mendirikan kerajaan oligarki.
Menciptakan ideologi.
Menulis buku.
Mencari pengikut.
Dan bahkan berbicara atas nama Tuhan.
Semua itu demi melawan satu kenyataan yang tidak dapat diterima oleh ego manusia:
Bahwa alam semesta tidak berutang makna kepada siapa pun.
Dan waktu adalah semacam algojo yang paling adil.
Ia akan memakan nama-nama besar dan nama-nama kecil dengan cara yang sama.
Para raja atau pemimpin akan mati.
Para nabi mati.
Para filsuf mati.
Para pahlawan bangsa akan mati.
Dan suatu hari, nama mereka hanya menjadi huruf-huruf yang dibaca oleh generasi yang bahkan tidak pernah mengenal mereka.
Ironisnya, manusia yang sadar bahwa dirinya fana justru menciptakan peradaban demi melawan kefanaan itu. Mereka menciptakan sejarah, kehormatan, garis keturunan, bahkan keabadian simbolik.
Namun waktu tidak pernah peduli.
Waktu menghancurkan kerajaan oligarki.
Menghapus bahasa.
Menelan nama keluarga.
Memusnahkan peradaban.
Kesalahan Besar dalam Memahami Hakikat Makhluk Sosial
Manusia terlalu sering memuji dirinya sendiri sebagai makhluk sosial seolah-olah itu adalah sesuatu yang luhur. Mereka berkata bahwa manusia diciptakan untuk saling mencintai, saling membantu, dan saling membutuhkan. Mereka mengajarkan tentang persaudaraan, solidaritas, dan kebersamaan seolah seluruh sejarah peradaban dibangun atas dasar kasih sayang.
Namun sejarah manusia justru memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Manusia tidak sekadar hidup bersama karena mereka membutuhkan satu sama lain. Mereka hidup bersama karena keberadaan sesamanya memberikan sesuatu yang lebih penting dari pada makanan dan tempat tinggal.
Mereka membutuhkan saksi.
Sebab tanpa saksi, keberadaan mereka terasa kosong.
Tanpa mata orang lain yang memandang, kekayaan kehilangan nilainya.
Tanpa telinga yang mendengar, kebijaksanaan kehilangan kehormatannya.
Tanpa pengikut, kekuasaan kehilangan maknanya.
Tanpa pujian, kebaikan terasa tidak berharga.
Dan tanpa orang lain yang lebih rendah, superioritas kehilangan singgasananya.
Maka manusia sesungguhnya tidak hanya hidup di tengah masyarakat.
Mereka hidup di dalam sebuah arena.
Arena yang tidak pernah tidur.
Arena yang dipenuhi oleh perlombaan diam-diam.
Arena tempat semua orang berusaha menjadi sesuatu yang lebih dari pada yang lain.
Dan perang itu telah dimulai sejak manusia pertama kali mengenal perbandingan.
Karena pada saat manusia mulai menyadari bahwa dirinya dapat dibandingkan dengan sesamanya, saat itulah lahir penderitaan yang tidak pernah bisa disembuhkan.
Tidak ada binatang yang merasa iri karena tetangganya memiliki sarang yang lebih besar.
Tidak ada singa yang merasa malu karena singa lain memiliki surai yang lebih indah.
Tetapi manusia?
Manusia mampu menderita hanya karena melihat kebahagiaan orang lain.
Mereka mampu kehilangan rasa syukur hanya karena menyaksikan keberhasilan sesamanya.
Dan mereka mampu membenci tanpa alasan selain karena orang lain memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki.
Di sinilah lahir kenyataan yang paling gelap.
Bahwa penderitaan terbesar manusia sering kali bukan berasal dari kemiskinan.
Melainkan dari perbandingan.
Sebab seseorang yang hidup sederhana mungkin dapat menerima kekurangannya.
Tetapi ia mulai menderita ketika melihat orang lain hidup lebih baik.
Seorang pria dapat menerima wajahnya.
Tetapi ia mulai membenci dirinya ketika melihat pria lain lebih tampan.
Seorang wanita dapat merasa cukup.
Tetapi ia mulai kehilangan kedamaian ketika melihat wanita lain memperoleh perhatian yang lebih besar.
Dan seorang yang saleh pun dapat kehilangan ketulusan ketika ia melihat ada orang lain yang lebih dipuji karena kesuciannya.
Karena sesungguhnya manusia tidak hanya lapar akan kebutuhan jasmani.
Mereka lapar akan posisi.
Dan posisi hanya dapat diukur melalui keberadaan orang lain.
Kehidupan Sosial Adalah Piramida Dominasi
Di balik seluruh moralitas dan sopan santun yang dipelajari manusia, terdapat sebuah kenyataan yang jarang diakui.
Bahwa masyarakat adalah sebuah piramida.
Dan setiap orang diam-diam sedang memperebutkan posisi di dalam piramida itu.
Yang miskin ingin menjadi kaya.
Yang kaya ingin menjadi lebih kaya.
Yang terkenal ingin menjadi lebih terkenal.
Yang cerdas ingin menjadi lebih diakui.
Yang saleh ingin menjadi lebih suci.
Yang baik ingin dikenang sebagai orang paling baik.
Bahkan mereka yang berkata bahwa mereka tidak peduli pada dunia sering kali diam-diam bangga atas ketidakpeduliannya.
Karena ego manusia mampu bersembunyi di balik segala sesuatu.
Ia dapat memakai pakaian kekayaan.
Ia dapat memakai pakaian moralitas.
Ia dapat memakai pakaian kesederhanaan.
Ia bahkan dapat memakai pakaian penderitaan.
Betapa ironisnya.
Manusia dapat menjadikan penderitaan sebagai alat kebanggaan.
Mereka berlomba-lomba memperlihatkan siapa yang paling terluka.
Siapa yang paling berkorban.
Siapa yang paling menderita.
Seolah penderitaan itu sendiri telah berubah menjadi mata uang untuk memperoleh penghormatan.
Dan yang lebih mengerikan, sebagian besar manusia tidak sadar bahwa mereka sedang bertarung.
Mereka mengira sedang menjalani kehidupan biasa.
Padahal mereka sedang mengukur diri mereka setiap hari.
Melalui jumlah uang.
Melalui jumlah pengikut.
Melalui jumlah pujian.
Melalui status pekerjaan.
Melalui pasangan yang dimiliki.
Melalui kecantikan.
Melalui pendidikan.
Melalui agama.
Melalui keluarga.
Melalui segala sesuatu yang dapat dipakai untuk berkata kepada dunia:
“Lihatlah aku. Aku ada. Aku berharga.”
Karena jauh di dalam lubuk hati manusia terdapat ketakutan yang tidak pernah benar-benar mati.
Ketakutan untuk menjadi tidak berarti.
Dan mungkin, tidak ada kutukan yang lebih mengerikan bagi ego manusia selain kemungkinan bahwa dirinya hanyalah satu makhluk kecil yang tidak penting di tengah alam semesta yang tidak peduli.
Maka mereka terus membangun identitas.
Terus mencari simbol.
Terus mengumpulkan pencapaian.
Terus mengejar validasi.
Bukan karena mereka bahagia.
Tetapi karena mereka takut.
Takut menjadi biasa.
Takut menjadi kecil.
Takut menjadi tidak terlihat.
Takut menjadi terlupakan.
Karena bagi ego manusia, dilupakan adalah bentuk kematian yang lebih mengerikan dari pada kematian itu sendiri.
Dan selama rasa takut itu masih hidup, manusia akan terus saling memandang, saling membandingkan, saling iri, saling mengagumi, saling menggunakan, dan saling menghancurkan secara perlahan.
Sebab di balik wajah makhluk sosial yang tampak ramah, tersembunyi makhluk yang sejak awal tidak pernah berhenti bertanya:
“Jika aku tidak lebih berharga dari pada yang lain, lalu untuk apa aku ada?”