You are currently viewing Jadilah Manusia Berbahaya yang Disegani Bukan Ditakuti: Seni Menguasai Diri.

Jadilah Manusia Berbahaya yang Disegani Bukan Ditakuti: Seni Menguasai Diri.

Bagikan bila kamu menyukainya

Artikel ini termasuk arsip terlarang (deep web)

Tidak semua orang pantas kamu perlakukan dengan baik, karena mereka bukanlah menghormati karena kebaikanmu, melainkan rasa takut. Oleh sebab itu perlakukan mereka ibaratkan hewan yang sedang menjilati mu karena mereka mengagung-agungkan rasa takut atas kehendak bebas mereka untuk dapat memperlakukanmu semaunya mereka, karena mereka tidak peduli dengan etika dan moralitas, yang dimana memanusiakan orang bodoh tentu saja kamu menanggung konsekuensinya atas perlakukan baik mu sendiri yang akan berbalik menghancurkanmu.

Kamu akan sadar bahwa tidak semua kebaikan mu akan mendatangkan kebaikan pula terhadapmu, melainkan ketidakhormatan akibat memperlakukan mereka dengan baik itu sendiri akan menghancurkan kehormatanmu, ibaratkan anak-anak atau orang dewasa yang kekanak-kanakan suka berperilaku bodoh yang tidak tahu diri itu jika mereka telah menerima kebaikanmu (lah dapek raso) karena mereka terlalu bodoh untuk sadar diri bahwa mereka pantas menghormatimu selain hanya dapat sadar diri karena rasa takut itu sendiri yang membuat mereka menghormatimu.

Orang bodoh, kekuatan mereka berada pada ketidaktahuan diri, bahwa semangkin tidak sadar diri mereka (bodoh) akan membuat mereka menjadi kuat dan berani. karena kekuatan sejati orang bodoh terletak pada ego yang lebih besar dari pada kualitas diri atau SDM mereka.

Orang bodoh tidak akan mengerti dengan nasehat moral, karena mereka merasa lebih bagak dari mu sehingga mereka tidak akan memperdulikannya, karena orang bodoh kekuatan mereka terletak pada ego (emosional) berupa ketidaktahuan diri yang akan membuat mereka menjadi lebih kuat atau mereka menuduh tidaklah sekuat mereka untuk benar-benar peduli dengan apa yang kamu katakan kepada mereka. Hiiii takutnyee… ia tak lebih dari sekadar penjilat kehormatan yang sedang bersandiwara. Bukan harga diri yang ia bela, tapi kebencian yang membusuk karena kedengkian yang diperparah jika dirimu dianggap tidaklah sekuat mereka. karena penjilat hanya benci kepadamu jika dirimu lemah.

Oleh sebab itu, kamu akan menyadari bahwa mereka yang hidup dari rasa takut adalah orang munafik, yang dimana mereka tampak terlihat baik hanya dipermukaan saja, mereka sedang berusaha menjilatimu selagi dirimu dapat bermanfaat bagi mereka, sebagaimana mereka hanya baik tergantung seberapa tampak menakutkannya dirimu untuk benar-benar peduli dengan batasan-batasan atau aturan yang dirimu buat sehingga mereka akan mempertimbangkan perbuatan mereka sendiri terhadapmu (kata mereka awak dak peduli) yang membuat mereka hidup tanpa basatan dari kehendak bebas (free will) untuk dapat memperlakukan dirimu semaunya mereka yang justru dapat menjadi sebagai awal lahirnya kebencian karena mereka tidak merasakan rasa takut untuk benar-benar peduli yang secara lancang menanyakan seleramu “ngapo dak senang!” dengan tidak memikirkannya sendiri sebagai bentuk kebodohan EQ mereka.

“semangkin besar dirimu, semangkin rapuh dirimu, ibaratkan aparat yang menginginkan dirimu menjadi penjahat.”

Dan jika kamu seorang pengusaha atau bandar saham, maka sahammu adalah kekuatanmu, yang dimana dirimu dapat memperjual belikan sahammu kepada orang-orang terpilih yang memiliki kekuatan atau otoritas untuk dapat menghancurkan orang-orang bodoh yang berusaha mempermainkan martabatmu dengan menjadi jahat dari pada orang jahat itu sendiri, bukannya sombong, karena dunia ini akan jahat kepadamu jika dirimu lemah, karena dunia sejatinya tidaklah menuntutmu menjadi orang baik melainkan dunia menuntutmu menjadi kuat yang dimana dunia akan menjadi lebih kejam dari apa yang tidak kamu bayangkan, jika dunia itu berharap atau sedang berusaha mengandalkan dirimu.

Manusia terdiri dari kedengkian hati sebagai superioritas

Semangkin bodoh mereka, maka ia semangkin kuat dan berani, mereka tak lebih dari sekadar penjilat kehormatan. Ini bukan lagi soal harga diri, melainkan kebencian yang lahir dari kedengkian hati. Sungguh menggelikan; sosok yang tak lebih dari penjilat kehormatan. Motifnya bukan lagi tentang menjaga harga diri, melainkan murni luapan benci atas kedengkian yang tak mampu ia sembunyikan karena kehormatan itu hanyalah topeng bagi sang penjilat. Sungguh menarik melihat bagaimana kehormatan dijadikan komoditas oleh seorang penjilat. Pada akhirnya, ini memang bukan tentang harga diri, melainkan sekadar manifestasi benci dari hati yang dipenuhi kedengkian.

Patologi Kehormatan: Topeng di Balik Kedengkian

Sering kali kita terjebak dalam sebuah teater sosial di mana kehormatan tidak lagi dipahami sebagai kualitas dalam diri yang murni, melainkan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Dalam pengamatan yang lebih jeli, terdapat fenomena di mana seseorang begitu gigih memoles citra martabatnya, namun melalui cara-cara yang kontradiktif. Fenomena ini melahirkan apa yang bisa kita sebut sebagai “penjilat kehormatan” mereka yang memuja etika formal dan status hanya demi mendapatkan validasi atau keuntungan personal, tanpa memiliki integritas yang mendasarinya.

Keberadaan para oportunis ini sebenarnya sebuah bentuk ironi yang sunyi yang terselubung. Mereka tidak sedang membangun harga diri, melainkan sedang melakukan upaya rekonsiliasi terhadap rasa rendah diri yang akut. Ketika seseorang menggunakan narasi kehormatan untuk menjilat atau mencari posisi, ia sebenarnya sedang menanggalkan kemanusiaannya sendiri. Di balik sikap yang seolah-olah tunduk atau memuja, terdapat mekanisme pertahanan diri yang rapuh, di mana “kehormatan” hanyalah instrumen untuk menutupi kekosongan karakter.

Lebih jauh lagi, kegigihan mereka dalam menyerang atau menjatuhkan pihak lain dengan dalih menjaga martabat sering kali hanyalah manifestasi dari kebencian yang mendalam. Kebencian ini bukanlah reaksi atas ketidakadilan, melainkan luapan dari kedengkian hati yang tidak mampu mereka kelola. Mereka tidak membenci kesalahan orang lain; mereka membenci keunggulan orang lain yang tidak mampu mereka miliki. Akibatnya, setiap tindakan yang mereka klaim sebagai upaya menjaga harga diri hanyalah proyeksi dari rasa iri yang telah membusuk di dalam batin.

Realitas dunia penuh dengan kepalsuan. Terkadang, kekuatan yang kamu miliki justru membuatmu buta terhadap cara kerja dunia yang sebenarnya. Kamu dianggap terlalu tangguh untuk menyadari sisi gelap kehidupan ini yang dimana banyak orang sedang menjadi aktornya atau sebagai orang munafik atas bagaimana takdirimu yang akan menentukan bagaimana mereka ada didalam kisah hidupmu, sehingga tanpa sadar kamu hidup dalam ilusi keharmonisan yang sebenarnya hanyalah sebuah kemunafikan manusia dalam menjaga kedamaian.

Hiburan Kita

Pada akhirnya, martabat yang sebenarnya tidak membutuhkan kebisingan, apalagi perilaku menjilat. Seseorang yang memiliki harga diri yang utuh akan bersikap tenang karena ia tahu di mana ia berdiri. Sebaliknya, mereka yang digerakkan oleh kedengkian akan selalu merasa terancam, sehingga harus terus-menerus memoles topeng kehormatan mereka dengan cara merendahkan orang lain. Dalam kacamata pengamat, saya menganggap perilaku ini bukanlah sebuah ancaman, melainkan sebuah tragedi mental yang menunjukkan betapa jauhnya seseorang bisa jatuh ketika hatinya telah dikuasai oleh rasa dengki. Sungguh menggelikan. Hening yang cukup mengerikan; saat seseorang begitu gigih memoles kehormatan demi menutupi rasa iri. Sayangnya, aroma kebencian dan kedengkian itu jauh lebih tajam dari pada martabat palsu yang sedang dipamerkan. Dan adakalanya jika dirimu memanglah orang baik mulailah untuk berhenti Peduli.

Sebagaian Paragraf disembunyikan (Invisible).

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments