You are currently viewing Semakin Kamu Diinginkan maka semakin Besar Risiko yang Mengintai

Semakin Kamu Diinginkan maka semakin Besar Risiko yang Mengintai

Bagikan bila kamu menyukainya

Keinginan banyak orang jarang bersifat murni. Ini tampak seperti bukan sekedar hasrat untuk memiliki, melainkan dorongan laten untuk menaklukkan, menguasai, dan jika perlu, menghancurkan. Ketika seseorang menjadi objek dari terlalu banyak keinginan, ia akan berhenti menjadi manusia dan berubah menjadi orang bengis yang hidup di medan pertempuran. Dalam momen itulah cinta, kekaguman, dan ambisi berubah menjadi sesuatu yang lebih busuk, niat untuk menjatuhkan. Tidak semua orang yang menginginkanmu ingin melihatmu hidup bahagia, sebagian hanya ingin memastikan kau tidak hidup bahagia di tangan orang lain.

Orang seperti mereka tidak iri karena kekurangan, tetapi karena perbandingan. Mereka tidak membenci karena dirugikan, melainkan karena disadarkan bahwa mereka kalah. Dan kekalahan, bagi jiwa yang rapuh, adalah hukuman yang tak tertahankan. Maka, seperti anak kecil yang merusak mainan yang tak bisa ia miliki, orang dewasa memilih kehancuran sebagai jalan keluar paling jujur dari rasa tidak berdaya. Jika aku tidak bisa memiliki, maka tak seorang pun boleh.

Di sinilah dirimu menjadi berlian, bukan karena kilau atau nilaimu semata, tetapi karena dirimu memantulkan kegagalan mereka. Berlian selalu mengundang tangan-tangan kotor. Ia dipuji bukan karena dimengerti, tetapi karena bisa dipamerkan. Namun ketika tangan itu sadar bahwa cahaya tersebut tak akan pernah tunduk, mereka menggenggam palu. Bukan untuk membentuk, melainkan untuk meremukkan. Bukan karena berlian itu jahat, tetapi karena keberadaannya terlalu jujur dalam menunjukkan betapa miskinnya batin mereka.

Tragisnya dari mereka, kehancuran ini sering dibungkus dengan moralitas. Mereka tidak berkata, “Aku iri.” Mereka berkata, “Ia terlalu sombong.” Mereka tidak mengaku kalah, mereka menuduh. Fitnah menjadi doa orang-orang yang gagal, dan kebencian adalah ibadah mereka yang paling khusyuk. Dengan bahasa kebajikan, mereka menghalalkan pembantaian karakter. Dengan senyum sosial, mereka menanam pisau di punggung. Dalam kehidupan menyebut ini dinamika berbagai macam bentuk manusia; padahal ia tak lebih dari ritual kanibalisme batin.

Orang-orang seperti ini tidak pernah benar-benar menginginkanmu. Mereka menginginkan posisi yang kau tempati, pengakuan yang kau miliki, dan cermin yang kau pecahkan hanya dengan keberadaanmu. Setiap langkahmu adalah penghinaan bagi mereka yang memilih diam. Setiap pencapaianmu adalah tamparan bagi mereka yang menyamakan nasib dengan takdir. Maka mereka bersekongkol, bukan untuk menjadi lebih baik, tetapi untuk menyeretmu turun agar dunia kembali terasa adil bagi mediokritas mereka.

Tidak ada kejahatan yang lebih banal dari pada kejahatan yang dilakukan atas nama ketidakmampuan. Orang-orang ini tidak berani menyerang terang secara langsung, karena mereka tahu mereka akan terbakar. Maka mereka bekerja dalam gelap dengan terlihat suci: “menyebar bisik, meracik narasi, dan memutarbalikkan kenyataan hingga kebenaran terdengar seperti kejahatan“. Mereka tidak membunuh tubuhmu; “mereka menggerogoti maknamu. Dan bagi mereka, itu sudah cukup”.

Dalam logika yang paling kejam, keberhasilanmu bukanlah prestasi, ia adalah provokasi. Keutuhanmu adalah ancaman. Keteguhanmu adalah arogansi. Dunia yang dibangun oleh jiwa-jiwa rapuh tidak memberi ruang bagi sesuatu yang utuh. Maka segala yang tegak harus dibengkokkan, dan segala yang bercahaya harus dipadamkan. Bukan demi keadilan, melainkan demi kenyamanan kolektif dari mereka yang memilih tidak tumbuh.

Jika dirimu bertanya mengapa orang ingin mencelakakanmu, jawabannya bukan karena kesalahanmu, tetapi karena ketidakmampuan mereka menghadapi cermin yang kau wakili. Dirimu adalah pengingat bahwa pilihan lain itu ada, dan mereka gagal memilihnya. Maka kehancuranmu menjadi upaya terakhir untuk berdamai dengan diri mereka sendiri. Jika berlian itu hancur, setidaknya tak ada lagi yang bisa dibandingkan.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya

Inilah hukum tidak tertulis dari kerumunan, apa pun yang tak bisa mereka miliki akan mereka rusak, dan apa pun yang tak bisa mereka capai akan mereka kutuk. Bukan karena dunia itu kejam, tetapi karena manusia terlalu pengecut untuk mengakui kekalahan tanpa merusak sesuatu. Dan di antara puing-puing itu, mungkin dirimu dapat belajar satu hal yang tak diajarkan moralitas mana pun, bahwa menjadi berharga di dalam kehidupan sosial atau dunia yang sakit ini berarti bersiap untuk dibenci tanpa alasan, diserang tanpa dosa, dan dihancurkan hanya karena kau tidak runtuh seperti mereka.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments