You are currently viewing Orang tua durhaka; memahami orang tua tidak bertanggungjawab

Orang tua durhaka; memahami orang tua tidak bertanggungjawab

Bagikan bila kamu menyukainya

Artikel termasuk Arsip terlarang “Deep Web”

Dalam narasi sosial, istilah “durhaka” hampir selalu disematkan kepada anak yang membangkang. Namun jarang sekali kita menyoroti sebuah realitas yang lebih fundamental: bahwa ada tanggung jawab moral yang sangat besar yang dipikul orang tua sejak sebelum seorang manusia menghela napas pertamanya. Jika tanggung jawab itu dikhianati, bukankah orang tua juga bisa disebut durhaka?

Kelahiran sebagai Paksaan Eksistensial

Ketidakadilan pertama dalam hidup dimulai ketika seorang anak dihadirkan ke dunia tanpa persetujuannya. Tidak ada satu pun manusia yang bisa memilih untuk dilahirkan. Kelahiran adalah keputusan sepihak dari orang tua, sebuah tindakan eksistensial yang memaksa individu baru untuk memikul beban kehidupan, rasa sakit, dan tuntutan dunia. Ketika keputusan besar ini diambil tanpa kesiapan mental dan rasa tanggung jawab yang penuh, di sanalah benih “kedurhakaan” orang tua tertanam.

Luka Psikologis dan Jejak Inner Child

Secara psikologis, pengabaian atau kekerasan yang dilakukan orang tua bukan sekadar kejadian masa lalu yang hilang ditelan waktu. Dampaknya menetap dalam bentuk trauma yang menghantui inner child (sisi kekanakan dalam diri orang dewasa). Seorang anak yang lahir dari orang tua yang tidak bertanggung jawab sering kali tumbuh dengan perasaan bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya dan bahwa keberadaan mereka adalah sebuah kesalahan.

Data dan Realitas Pahit

Fenomena tragis seperti penelantaran hingga pembunuhan anak oleh orang tua kandung sebenarnya adalah puncak gunung es dari masalah yang lebih dalam dari ketidakmampuan manusia bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Data dari Adverse Childhood Experiences (ACEs) Study menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan rumah yang disfungsional atau mengalami kekerasan dari orang tua memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami depresi, penyalahgunaan zat, hingga penyakit fisik kronis di masa dewasa.

Pakar psikologi Alice Miller, dalam bukunya The Drama of the Gifted Child, menyatakan: “Kebenaran tentang masa kecil kita tersimpan di dalam tubuh kita, dan meskipun kita bisa menekannya, kita tidak akan pernah bisa mengubahnya.”

Artinya, ketika orang tua gagal memberikan keamanan emosional, mereka sebenarnya sedang menanamkan “bom waktu” psikologis yang akan merusak kualitas hidup anak tersebut hingga puluhan tahun mendatang.”

Hal ini membuktikan bahwa tindakan orang tua yang tidak bertanggung jawab adalah bentuk pelanggaran hak asasi yang paling dasar: hak untuk tumbuh dengan aman. Banyak orang tua yang memandang anak bukan sebagai subjek yang berdaulat, melainkan sebagai beban atau sekadar konsekuensi biologis yang tidak diinginkan. Ketika ego manusia lebih besar dari pada kesadaran akan konsekuensi, mereka cenderung menghancurkan apa yang mereka mulai sendiri.

Beban Eksistensi: Ketika Orang Tua Menjadi “Durhaka”

Sejatinya, menjadi orang tua bukan sekadar status biologis, melainkan sebuah hutang moral. Orang tua berhutang kehidupan yang layak, keamanan, dan kasih sayang kepada anak yang mereka “panggil” ke dunia ini. Saat orang tua gagal menyediakan pondasi tersebut karena egoisme atau ketidaksiapan, mereka sebenarnya sedang melakukan pengkhianatan terhadap kemanusiaan itu sendiri.

dr. Gabor Maté, seorang ahli trauma: “Kebutuhan utama seorang anak adalah keterikatan (attachment). Jika kebutuhan ini terancam oleh ketidakhadiran atau perilaku buruk orang tua, anak akan mengorbankan jati dirinya demi bertahan hidup.”

Pada akhirnya, kita perlu mendefinisikan ulang makna tanggung jawab. Kita sebagai manusia tidak boleh hanya mahir menciptakan awal, tetapi harus berani memikul akhir. Sebelum menghakimi anak atas bakti mereka, dunia harus terlebih dahulu bertanya: sudahkah orang tua menjalankan kewajiban mereka untuk tidak menjadi “durhaka” kepada nyawa yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan?

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments