You are currently viewing Musibah dan kehancuranmu mendatangkan kebahagiaan; Ketika kemalanganmu dianggap hiburan

Musibah dan kehancuranmu mendatangkan kebahagiaan; Ketika kemalanganmu dianggap hiburan

Bagikan bila kamu menyukainya

Kehancuranmu atau musibah yang menimpamu tidak pernah benar-benar berdiri sendiri sebagai peristiwa netral, ia selalu disertai orang-orang tak kasat mata yang menunggu dari jauh, sebab bagi manusia yang tidak menyukaimu, terutama mereka yang kalah secara batin, penderitaanmu adalah pembenaran terdalam atas ketidakmampuan mereka sendiri, dan di sanalah kebahagiaan paling kotor lahir, bukan sebagai tawa terbuka, melainkan sebagai kelegaan sunyi yang bersembunyi di balik wajah pura-pura empati, karena manusia yang tak mampu melampauimu akan selalu berharap dunia melakukannya untuk mereka; “mereka yang gagal mengalahkanmu dengan usaha akan menunggumu dikalahkan oleh nasib“, dan ketika musibah itu datang, mereka menyebutnya keadilan kosmis, padahal yang sesungguhnya mereka rasakan adalah kenikmatan dendam yang tidak pernah mereka akui bahkan pada diri sendiri. Dalam dunia yang mengaku beradab ini, kebencian jarang muncul sebagai teriakan, ia lebih sering menjelma sebagai doa palsu dan kalimat penghiburan yang diucapkan dengan mulut, namun dibantah oleh getaran batin yang bergembira melihatmu runtuh; “kepedulian adalah topeng paling sopan dari kebencian“, dan manusia memakainya agar tetap merasa bermoral saat menyaksikan kehancuran orang lain. Mereka tidak membencimu karena kau jahat, mereka membencimu karena keberadaanmu adalah cermin yang menyingkap keterbatasan mereka, dan tak ada yang lebih menyakitkan bagi ego selain melihat seseorang hidup lebih jujur, lebih berani, atau sekadar lebih tegak di hadapan dunia yang absurd ini, maka ketika musibah menimpamu, runtuhlah ketegangan lama dalam dada mereka, sebab dunia akhirnya “adil” menurut versi mereka, adil karena kau jatuh ke level yang bisa mereka terima. “Manusia menyebut kejatuhan orang lain sebagai keseimbangan”, agar ketimpangan batin mereka tak terlihat.

Dalam struktur sosial yang dipenuhi kepura-puraan moral, penderitaan bukan hanya pengalaman personal, melainkan komoditas emosional yang dikonsumsi secara diam-diam, “semakin tinggi posisi batin atau simbolik seseorang, semakin ramai penonton yang menunggu kejatuhannya“, sebab keberhasilan orang lain selalu terasa seperti tuduhan implisit terhadap kemalasan, ketakutan, dan ketidakjujuran kita sendiri;“Setiap prestasi adalah dakwaan, dan setiap dakwaan menunggu hukuman“, maka musibahmu menjadi semacam vonis yang ditunggu oleh mereka yang sejak awal merasa terancam oleh keberadaanmu. Jangan keliru mengira mereka hanya iri, iri masih mengandung pengakuan terhadap nilai, sementara kebencian sejati pada diri mereka adalah keinginan untuk meniadakan makna itu sendiri, untuk membuktikan bahwa apa pun yang kau bangun bisa hancur, bahwa integritas hanyalah kebetulan yang rapuh, dan bahwa keberanianmu tidak lebih dari kesalahan takdir; “Mereka tidak ingin menjadi sepertimu, mereka ingin membuktikan bahwa menjadi sepertimu adalah sia-sia”.

Musibah dalam kacamata mereka, bukan tragedi, melainkan narasi orang lemah yang terzholimi, cerita yang menenangkan kegelisahan batin karena dunia akhirnya “mengoreksi” seseorang yang terlalu mencolok, terlalu jujur, terlalu tegak di tengah kumpulan manusia yang memilih membungkuk; sebab masyarakat tidak benar-benar membenci kejahatan, mereka membenci ketidaksamaan, dan orang yang berbeda, baik karena nilai, keberanian, atau keteguhan, selalu dianggap sebagai gangguan yang harus dinetralkan oleh waktu, gosip, atau nasib buruk; “Apa yang tak bisa ditundukkan oleh argumen akan ditunggu untuk dihancurkan oleh keadaan”. Maka ketika kehancuran itu datang, mereka menyebutnya pelajaran hidup, seolah penderitaanmu adalah kurikulum moral bagi kehidupan itu sendiri, padahal yang mereka rayakan hanyalah hilangnya ancaman terhadap rasa aman palsu mereka.

Lebih kejam lagi, kebahagiaan atas musibahmu sering dibungkus dengan bahasa spiritual atau rasional, sebab manusia modern sangat lihai menyucikan kebencian, mereka akan berkata, “ini ujian,” atau “ini peringatan,” atau “ini agar dia lebih rendah hati,” seolah kehancuranmu adalah alat pedagogis yang sah, bukan cerminan hasrat laten untuk melihatmu dipatahkan; “ketika kebencian berpura-pura menjadi kebijaksanaan, ia menjadi tak tersentuh oleh rasa bersalah”. Di titik ini, penderitaanmu bukan lagi milikmu, ia telah dirampas sebagai simbol yang mereka gunakan untuk menenangkan kegagalan hidup mereka sendiri, dan di sanalah kekejaman terdalam manusia beroperasi, bukan dalam pukulan, tetapi dalam tafsir.

Namun yang paling pahit bukanlah kenyataan bahwa orang lain berbahagia atas kejatuhanmu, melainkan kesadaran bahwa kebahagiaan itu sudah lama mereka simpan, menunggu momen yang sah untuk muncul; “musibah hanyalah izin sosial bagi kebencian yang sudah matang”. Mereka menunggumu jatuh bukan karena mereka membencimu hari ini, tetapi karena sejak awal mereka tidak pernah sanggup berdamai dengan kenyataan bahwa kau berdiri tanpa meminta restu mereka. Dalam dunia seperti ini, keteguhan adalah provokasi, dan keberanian adalah ancaman, maka kehancuranmu terasa seperti pemulihan tatanan lama, tatanan di mana tak ada yang terlalu menonjol, tak ada yang terlalu jujur, dan tak ada yang membuat orang lain harus bercermin terlalu dalam.

Jika ada pelajaran yang benar-benar pahit dari semua ini, maka pelajaran itu bukan tentang kesabaran atau ketabahan, melainkan tentang realitas batin manusia, bahwa empati sering kalah oleh hasrat tersembunyi untuk melihat orang lain direndahkan, dan bahwa solidaritas sosial sangat rapuh ketika berhadapan dengan iri yang tak terselesaikan; “manusia lebih mudah memaafkan kejahatan dari pada keunggulan”. Maka jangan heran bila kehancuranmu lebih dirayakan dari pada keberhasilanmu pernah diapresiasi, sebab dunia tidak dibangun untuk melindungi yang kuat secara batin, melainkan untuk menormalkan kelemahan.

Pada akhirnya, artikel ini ini tidak bermaksud menghibur atau menawarkan rekonsiliasi moral, sebab tidak semua luka perlu disembuhkan dengan ilusi; ada luka yang harus dipahami sebagai bukti, sebagai arsip terlarang (Deep Web) tentang siapa manusia sebenarnya ketika topeng kesantunan dilepas; “kehancuranmu mengajarkan lebih banyak tentang mereka dari pada tentang dirimu”. Dan bila ada satu sikap yang tersisa, itu bukan dendam atau kepahitan, melainkan kewaspadaan dingin: kesadaran bahwa di kehidupan ini, tidak semua yang menepuk pundakmu ingin kau berdiri, dan tidak semua yang bersedih atas musibahmu benar-benar kehilangan sesuatu, sebagian dari mereka justru menemukan kebahagiaan yang selama ini mereka cari dalam diam, kebahagiaan yang hanya bisa lahir dari runtuhnya orang lain.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments