Daftar Isi
Di dalam kehidupan kita yang ditandai dengan beragam sudut pandang, memerangi ekstremisme telah menjadi upaya penting untuk menciptakan perdamaian, harmoni, dan keamanan bersama. Artikel ini kita akan memahami eksremisme dan strategi efektif untuk mencegah nya dengan menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, pendidikan, dan kohesi sosial.
Mendefinisikan Ekstremisme
Sebelum mendalami strategi pencegahan, penting untuk memahami apa saja yang dimaksud dengan ekstremisme. Ekstremisme sering kali melibatkan advokasi atau dukungan terhadap ideologi politik, agama, atau sosial yang ekstrem, yang sering kali mengarah pada perilaku radikal seperti terkait-mait dengan asal-usulnya, sumber berupa “akar” yaitu dasar-dasar esensial, prinsip-prinsip fundamental, inti permasalahan, dan esensi dari berbagai gejala, atau mungkin juga memiliki arti yang tidak lazim, seperti sentimen SARA, upaya pencarian pencerahan dalam ranah keilmuan sosial/masyarakat sipil semata, atau telah beralih menuju arena politik dan kekuasaan massa. Secara politis, keberadaan seseorang yang radikal diartikan sebagai individu yang mendambakan pembaharuan sosial dan politik yang berguna untuk transformasi perubahan secara ekstrem, aliran radikal dalam politik, entah itu terbatas pada aspek tertentu atau merambah pada keseluruhan struktur tatanan sosial (politik gerakan sosial yang bertujuan untuk perubahan sosial secara menyeluruh). Dengan memahami ini kita mengenali tanda-tanda dan akar penyebabnya adalah langkah pertama menuju pencegahan yang efektif dalam memahami radikal bisa bermakna baik maupun buruk.
Mengatasi Akar Penyebab
Faktor Sosial Ekonomi
Kesenjangan sosial ekonomi berdampak serius terhadap munculnya ekstremisme. Mengatasi permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran, dan kurangnya kesempatan pendidikan dapat menciptakan lingkungan yang membuat individu terlalu rentan terhadap radikalisasi.
Ketegangan Politik dan Agama
Ketegangan politik dan agama sering kali memicu ideologi ekstremis. Mempromosikan dialog terbuka, toleransi, dan pemahaman di antara beragam komunitas dapat membantu meringankan ketegangan ini dan menciptakan landasan bagi hidup berdampingan secara damai dengan jangan bawa-bawa agama ke dalam politik, atau jangan pernah ungkapan bahwa agama harus ada di politik, atau politisasi agama menjadikan agama sebagai media, sarana, instrumen untuk mencapai tujuan politik pragmatis. Sedangkan politik agama adalah menjadikan agama sebagai pijakan utama dalam berpolitik, bahkan menjadi jiwa semangat atau spirit untuk landasan dalam aktivitas politik. Misalnya dalam berpolitik jangan sampai menciptakan berpecah belah karena pandangan sinisme dan kebencian karena agama mengajarkan kedaiman dan menjaga persatuan dalam toleransi. Misalnya politik pada lingkup kecil terdapat contoh yang pernah terjadi di dalam lingkungan masyarakat yang terdapat tokoh agama yang tidak sehat yang mempunyai penyakit hati/jiwa atau mentalitasnya yang sakit menggunakan agama sebagai kedok untuk melancarkan aksi dogma keislaman maupun dogma kekeristenan yang dibalut politik syariat islam maupun dibalut keimanan kekeristenan yang jelas ini bisa menjadi perbuatan yang tidak benar karena bertujuan yang tidak baik bisa mengarah pada pencemaran nama baik seseorang secara halus yang secara perlahan-lahan menggorogoti citra baiknya, mencelakai dengan cara mencemooh agar menyudutkan seseorang maupun kelompok tertentu. Metode politik berkedok agama yang umum ditemui yaitu aksi sarkas/satire untuk tujuan sosial politik dalam masyarakat dan metode ghibah dalam lingkup efek ruang gaung (ruang mimbar). Dan agama bisa saja digunakan sebagai senjata dalam urusan politik, seperti politik gerakan sosial politik yang secara tak langsung merugikan individu/kelompok tertentu, serta merta mengatur berbagai aspek kesejahteraan individu/kelompok yang terdapat di dalam masyarakat tersebut (ketentraman psikis). Yang berbahaya itu adalah agama bisa saja digunakan untuk tindakan yang bisa dikatakan jahat tetapi berkedok kebenaran.
Penjelasan persoalan masalah
Hakikat kebenaran dapat dipahami oleh setiap individu, namun apa yang dianggap baik belum benar dan apa yang dianggap benar belum tentu baik. Pandangan mengenai kebenaran bervariasi di antara individu, kelompok, dan subkelompok. Tidak ada yang berhak menopang atau menopoli kebeneran (injustice), dan bila ada orang menopang atau menopoli kebenaran itu adalah orang yang angkuh dan sombong karena dia tidak menghiraukan keberagaman (kebhinekaan) latar belakang setiap orang berbeda dengan mengabaikan multikulturalisme karena mereka menganggap individu, kelompok atau golongan tertentu adalah kafir dan sesat yang mengakibatkan kita vs mereka dapat mengakibatkan ketidakadilan. Masyarakat beragama pun perlu berhati-hati agar tidak menjadi angkuh dan sombong dengan menganggap dirinya lebih beriman atau memiliki kualitas keilmuan dan keimanan yang lebih tinggi dari orang lain.
Dan bila terdapat seseorang merasa bahwa dia adalah memegang kebenaran maka ia adalah musuh dari keberagaman itu sendiri, karena sifat/hakikat kebenaran berpengaruh terhadap kedamian atau bertabrakan dengan ketentaraman atas kesejahteraan hidup orang lain. Misal kamu merasa diri kamu adalah orang baik atau kamu dikenal masyarakat dilingkungan kamu sebagai orang baik dan dinilai orang alim, tetapi untuk orang lain atau kelompok bangsa lain belum tentu menganggap perbuatan dari sifat kebaikan kamu itu dipandang sebagai orang baik, atau benar bagi mereka (belum tentu) melainkan kamu dianggap sebagai orang jahat atau lawan bagi mereka karena setiap orang mempunyai sisi latar belakang dan induk bangsa yang berbeda, dan berbeda pula dalam menilai kebaikan. Apa yang terlihat baik belum tentu benar, apa yang dianggap benar belum tentu baik, dan inilah asal muasal ceritanya orang baik vs orang jahat, karena mereka saling memperjuangkan kebaikan dan apa yang dianggap kebenaran bagi kedua belah pihak tersebut.
Maka tidak ada orang yang lebih baik dan lebih benar didalam kehidupan ini karena alasan “agama” bila mereka itu hidup di dalam keberagaman itu sendiri (multikultulrasime). Karena umat beragama yang sombong itu adalah umat beragama yang tidak menghiraukan keberagaman (intorance). Dan sesuka hati mereka dengan menunjuk dan menunduh orang lain itu “berlabel orang tidak baik” karena berbeda takaran level keimana dari mereka dengan menyebutkan mereka itu tidak beriman atau kafir dengan sekehendak hati mencemooh sesama muslim dengan memboikot citra diri maupun usaha dari individu karena mereka tidak berpihak kepada kubu mana pun (golput). Dan bahwa mereka itu telah menyebar kebencian dan percahan itu sendiri. Jika demikian, ada baik nya orang-orang seperti mereka membuat negara sendiri dengan 100% umat mayoritas dengan mencapainya dengan ideologi khilafah bila itu tujuan maksud sebenarnya bila keadilan sosial rakyat Indonesia itu sendiri didominasi oleh mereka yang menjunjung tinggi nila-nilai agama dengan cara begitu fanatik dan anarkis (tidak demokratis).
Dengan menganggap orang lain (individu) atau kelompok tertentu adalah orang jahat dengan memusuhi mereka karena menganggap mereka adalah orang orang jahat, itu artinya individu maupun kelompok (provokator ekstremis) yang mengira dirinya adalah orang baik itu merupakan orang jahat itu sendiri (radikal), seperti itulah hakikat keberanan tersebut. Karena kebenaran itu pada dasarnya tidak memihak dan dapat dipegang oleh siapa saja yang memperjuangan kebenaran tersebut, walaupun apa yang dianggap kebenaran itu belum tentu benar, mereka akan saling bermusuhan siapa yang baik dan siapa pula yang jahat yang mereka saling berperang entah mereka saling membenci dengan saling memusuhi karena seiman tapi beda aliran pada islam, atau biasa disebut seiman tapi tak seamin pada umat lain.
Strategi menanggulangi dengan membangun hubungan
Keterlibatan Komunitas
Membangun Ikatan Komunitas yang Kuat
Komunitas memainkan peran penting dalam mencegah ekstremisme. Menumbuhkan rasa memiliki dan inklusivitas dapat mengurangi kerentanan individu terhadap ideologi ekstremis. Tokoh masyarakat, pendidik, dan pemberi pengaruh dapat berkolaborasi untuk menciptakan program yang mengedepankan persatuan dan kerja sama.
Melawan Narasi Ekstremis
Masyarakat harus secara aktif melawan narasi ekstremis dengan mengedepankan sudut pandang alternatif. Hal ini melibatkan keterlibatan dalam percakapan yang menantang ideologi radikal dan menyediakan sumber daya yang mendidik individu tentang bahaya ekstremisme.
Pendidikan sebagai Pilar Utama
Berpikir Kritis
Pendidikan adalah metode yang ampuh dalam mencegah ekstremisme. Dengan memupuk keterampilan berpikir kritis, individu akan lebih siap untuk mengevaluasi informasi secara kritis dan melawan pengaruh ideologi ekstremis. Memasukkan program yang mendorong toleransi dan keberagaman dalam kurikulum pendidikan sangatlah penting.
Literasi Media
Di era yang didominasi oleh informasi, literasi media sangatlah penting. Mengajari individu bagaimana menganalisis secara kritis konten media membantu mereka membedakan antara informasi yang kredibel dan propaganda, sehingga mengurangi kerentanan terhadap pengaruh ekstremis.
Diplomasi dan Resolusi Konflik
Mengatasi akar penyebab ekstremisme sering kali melibatkan upaya diplomasi. Menyelesaikan konflik secara damai dan mendorong solusi diplomatik dapat berkontribusi terhadap stabilitas jangka panjang, mengurangi kondisi yang menimbulkan ideologi ekstremis.
Akhir kata
Orang yang kurang berpengetahuan maupun kurang cerdas seringkali lebih berpotensi menjadi ancaman dibandingkan dengan orang yang berniat jahat. Mereka dapat menunjukkan perilaku yang lebih merugikan daripada orang yang sebenarnya berniat jahat, sehingga keberadaan mereka dapat menjadi sama berbahayanya. Hal ini mungkin karena kurangnya pemahaman atau pengetahuan yang memadai.
Konten di bawah ini adalah iklan dari platform lain. Media kami tidak terkait dengan konten ini.