Mana yang Lebih Utama Adab atau Ilmu? Pada suatu titik dalam sejarah yang tidak pernah diumumkan secara resmi, pendidikan berhenti menjadi jalan pembebasan dan berubah menjadi ruang konflik laten. Pendidikan tidak runtuh secara spektakuler seperti orang kaya yang jatuh miskin, melainkan membusuk perlahan, dari dalam, oleh kelelahan jiwa, oleh kebisuan moral, dan oleh amarah yang tidak pernah diajarkan cara mengenalinya, Oleh sebab itu mengapa lebih penting ilmu dari pada adab.
Di permukaan kita melihat sebab dan akibat yang sederhana, kata-kata kasar memicu kemarahan, kemarahan memicu kekerasan, kekerasan memicu tuntutan hukum. Tetapi siapa pun yang puas dengan penjelasan linear seperti itu sesungguhnya sedang menipu dirinya sendiri. Realitas sosial tidak pernah sesederhana kronologi. Ia selalu berlapis, berbelit, dan dipenuhi motif-motif gelap yang saling menyilang.
Perkataan adalah titik retak pertama. Bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi, karena bahasa adalah instrumen kuasa. Satu kalimat dapat menegaskan hierarki, menundukkan, atau menghancurkan harga diri. Dalam ilmu psikologi yang mempelajari kejiwaan, terutama pada usia remaja, penghinaan verbal sering kali tidak diproses sebagai kritik, melainkan sebagai ancaman eksistensial. Ego yang belum matang tidak mengenal jarak antara “aku dikritik” dan “aku disangkal sebagai manusia.
Namun di sinilah tragedi pertama muncul: seorang guru—figur yang seharusnya memahami kerentanan psikologis ini, justru tergelincir ke dalam bahasa yang melukai. Ini bukan sekadar kegagalan profesional, melainkan kelelahan eksistensial. Guru modern sering hidup dalam tekanan yang tidak terlihat: tuntutan administratif, delegitimasi sosial, rendahnya penghargaan, dan kecurigaan publik yang konstan. Dalam kondisi seperti ini, kata kasar bukan selalu tanda kejahatan, tetapi tanda rapuhnya manusia yang kehabisan energi untuk bersabar.
Memahami sebab bukan berarti membenarkan akibat. Di sinilah batas yang sering dilanggar oleh masyarakat sentimental. Bahwa karena seseorang “terluka”, maka segala reaksinya menjadi sah. Ini adalah moralitas budak dalam bentuk paling vulgar dari moralitas yang menjadikan penderitaan sebagai lisensi untuk melukai balik.
Ketika orang yang tersinggung memilih pengeroyokan, yang bekerja bukan lagi kesadaran individual, melainkan psikologi massa. Dalam kerumunan, individu kehilangan wajahnya. Tanggung jawab melebur. Yang tersisa hanyalah dorongan primitif, menyerang bersama agar rasa takut terasa lebih kecil. Pengeroyokan adalah bentuk keberanian palsu, keberanian yang hanya muncul ketika jumlah menutupi rasa pengecut dalam dirinya.
Secara psikologis, tindakan ini bukan semata kemarahan, tetapi juga pembalikan hierarki. Ketika orang tua dimaklumi agar dapat dihormati adalah simbol otoritas yang telah lama dirasakan menekan, menghakimi, atau gagal melindungi. Dalam satu momen kekerasan, simbol itu dihancurkan. Tubuh orang tua menjadi medan simbolik tempat anak muda melampiaskan bukan hanya amarah personal, tetapi frustrasi kolektif terhadap sistem sosial yang mereka tidak pahami namun rasakan menindas, ini bukan hanya tentang budaya senioritas pada kehidupan kampus.
Namun di sinilah garis merah peradaban manusia yang bermartabat itu seharusnya ditegakkan. Kekerasan fisik bukan eskalasi argumen, ia adalah pengakuan kegagalan berpikir. Ketika tinju berbicara, nalar telah bunuh diri. Dan ketika pengeroyokan dinormalisasi, masyarakat sedang melatih generasi yang percaya bahwa kebenaran ditentukan oleh jumlah, bukan oleh alasan.
Secara sosial, kasus ini memperlihatkan krisis otoritas yang akut. Otoritas hari ini berada dalam posisi paradoks: ia dituntut bertanggung jawab, tetapi tidak lagi dihormati. Guru diharapkan sempurna secara moral, tetapi tidak diberi ruang untuk menjadi manusia yang salah. Di sisi lain, siswa didorong untuk “berani bersuara”, namun tidak pernah diajarkan perbedaan antara keberanian dan agresi.
Dalam iklim seperti ini, konflik tidak pernah diselesaikan; ia hanya dipendam. Sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang dialog dan berubah menjadi arena ketegangan laten. Tidak ada mekanisme yang benar-benar dipercaya: guru takut dilaporkan, siswa takut diabaikan, dan manajemen sibuk menjaga citra. Maka konflik, ketika meledak, selalu meledak secara brutal.
Masuknya jalur hukum sering dipandang sebagai kegagalan pendidikan. Namun ini adalah pandangan yang setengah benar dan setengah naif. Hukum bukan antitesis pendidikan; ia adalah batas terakhir ketika pendidikan gagal. Tuntutan hukum dari sang guru bukan sekadar pembelaan diri, melainkan upaya terakhir untuk menyelamatkan makna wibawa. Ia adalah pesan dingin dan tidak sentimental: ada konsekuensi. Ada garis yang tidak boleh dilampaui, bahkan oleh mereka yang mengaku tersakiti.
mungkin orang berpendidikan akan mencibir masyarakat yang terlalu cepat bersimpati tanpa berpikir. Kita akan bertanya, apakah kita benar-benar membela keadilan, atau hanya mencari korban yang paling mudah dicintai? Dalam dunia maya “no viral no justice” yang memuja narasi korban, kebenaran sering kali dikorbankan. Siapa pun yang tampak “lemah” otomatis dianggap benar, dan siapa pun yang berada dalam posisi otoritas otomatis dicurigai. Ini bukan keadilan, melainkan simplifikasi moral yang malas.
Namun kita juga tidak boleh jatuh ke dalam glorifikasi hukum sebagai penyelamat. Hukum hanya menghukum, bukan menyembuhkan. Hukum dapat menegakkan batas, tetapi tidak mengajarkan kebijaksanaan. Tanpa refleksi psikologis dan perubahan sosial, hukum hanya akan menjadi siklus, kekerasan, hukuman, lalu kekerasan baru dengan bentuk yang berbeda.
Lapisan politis dari masalah ini sering diabaikan, padahal justru paling menentukan. Pendidikan hari ini berada dalam cengkeraman politik populis dan logika pasar. Guru diperas sebagai tenaga kerja murah, siswa diperlakukan sebagai angka statistik, dan sekolah dijadikan etalase keberhasilan semu. Dalam sistem seperti ini, manusia direduksi menjadi fungsi. Ketika fungsi itu macet, emosi meledak.
Politik juga berperan dalam membentuk wacana publik, siapa yang layak dikasihani, siapa yang pantas dicurigai. Media sosial mempercepat penghakiman tanpa konteks. Satu potongan video, satu kalimat, satu narasi sepihak cukup untuk menghancurkan reputasi atau membenarkan kekerasan. Dalam kehidupan yang absurd seperti ini, kebenaran tidak lagi dicari, ia diproduksi sesuai selera massa.
Runtuhnya nilai-nilai lama tanpa lahirnya nilai baru yang lebih kuat. Otoritas lama ditumbangkan, tetapi tidak digantikan oleh tanggung jawab baru. Kebebasan dielu-elukan, tetapi disiplin dibenci. Hasilnya adalah manusia yang bebas secara formal, namun liar secara moral.
Dan jika membicarakan orang tua yang dipukul anak muda dari kasus pengeroyokan guru adalah cermin retak dari nihilisme ini. Di satu sisi guru kehilangan aura sakralnya. Di sisi lain siswa belum memiliki struktur batin untuk menanggung kebebasan. Yang terjadi bukan emansipasi, melainkan kekacauan. Bukan kesetaraan, melainkan pembalikan kekuasaan yang brutal.
Pertanyaan paling mengganggu bukanlah “siapa yang salah”, melainkan “manusia macam apa yang sedang kita ciptakan?”. Apakah kita sedang mendidik individu yang mampu menahan dorongan primitifnya, atau sekadar makhluk reaktif yang hidup dari rasa tersinggung? Apakah kita mengajarkan keberanian berpikir, atau hanya keberanian menyerang?
Jika kata kasar guru adalah dosa pertama, maka pengeroyokan adalah dosa kedua yang jauh lebih dalam. Yang satu merusak relasi, yang lain merusak fondasi peradaban. Kata-kata masih bisa ditarik, dijelaskan, dan diperbaiki. Kekerasan meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus, baik pada tubuh, maupun pada memori kolektif.
Dalam tragedi ini, tidak ada pemenang. Guru yang menuntut keadilan membawa luka dan stigma. Siswa yang melakukan kekerasan membawa masa depan yang ternoda oleh catatan hukum dan trauma. Sekolah membawa reputasi rusak. Masyarakat membawa pelajaran yang salah jika ia memilih membenarkan salah satu ekstrem.
Mungkin inilah pelajaran paling pahit dari zaman dalam mendidikan generasi tiktok yang lebih memelih menyembah teknologi sosial media dengan mengagung-agungkan influencer dari pada guru nya, bahwa pendidikan tidak lagi cukup mengajarkan pengetahuan, ia harus berani mendidik watak. Tanpa pengendalian diri, kecerdasan hanyalah alat kekerasan yang lebih canggih. Tanpa disiplin batin, kebebasan hanyalah topeng bagi naluri paling gelap dari diri kita sebagai manusia itu sendiri.
Betapa banyak dari kita yang masih jatuh ke sisi binatang, bereaksi, menyerang, dan mencari pembenaran moral setelahnya. Jalan menuju manusia yang lebih tinggi bukan melalui simpati murahan, tetapi melalui keberanian menegakkan batas, bahkan ketika itu tidak populer.
Jika pendidikan ingin diselamatkan, maka kebenaran pahit harus diterima, tidak semua luka memberi hak untuk melukai, tidak semua kemarahan adalah keadilan, dan tidak semua orang tua sebagai otoritas yang runtuh layak dirayakan. Tanpa pemahaman ini, sekolah akan terus melahirkan generasi yang fasih berbicara tentang hak, namun buta terhadap tanggung jawab.
Kebaikan sering kali sia-sia di mata mereka yang tak memiliki rasa segan. Terkadang, rasa takut adalah satu-satunya bahasa yang mereka pahami untuk mulai menghargai ketulusan yang kau berikan.
Hiburan Kita
Dan pada akhirnya, ketika orang yang lebih tua atau seorang guru dipukuli oleh anaka muda atau muridnya, yang sesungguhnya roboh bukan hanya tubuh manusia, melainkan ilusi besar bahwa kita telah menjadi lebih beradab dari pada masa lalu. Di balik gedung sekolah dan jargon kemajuan, kegelapan itu masih hidup, menunggu satu kata, satu pemicu, untuk kembali berkuasa.
Jangan pernah memarahi orang bodoh. Sebab, kebodohan bagi orang yang berilmu adalah ketika ia memarahi orang bodoh. Mereka tidak akan mengerti alasan di balik kemarahanmu, mereka hanya akan merasa tersinggung atau menganggap kritikanmu sebagai bentuk kebencian sekaligus penghinaan terhadap harga diri mereka (ego). Seperti pepatah ‘dikasih hati minta jantung’, mereka tidak akan mengakui kesalahan kecuali karena rasa takut, bukan karena kesadaran moral. Ketidaktahuan diri dianggap ‘kelebihan’ bagi mereka karena hal itu membebaskan mereka dari beban kebenaran yang dianggap menyakitkan, sehingga yang tersisa hanyalah kesia-siaan.”
Hiburan Kita – Beri ganjaran kepada orang bododh yang tidak tahu diri.
Salah satu ‘kelebihan orang bodoh adalah ketidaktahuan mereka akan batasan diri. Semakin mereka tidak tahu diri, semakin mereka merasa kuat dan berani. Mereka menganggap diri sebagai pahlawan pembela kebenaran yang berapi-api, seolah memimpin pasukan, padahal mereka hanya mengukur kebenaran berdasarkan jumlah emosi massa.
Oleh sebab itu, orang bodoh tidak butuh kebaikanmu, mereka hanya butuh rasa takut untuk bisa menghargainya. Tanpa itu, ketulusanmu sia-sia dan hanya dianggap sepele oleh mereka. Sejatinya, orang yang bebal tidak butuh diperlakukan baik olehmu. Mereka hanya butuh rasa takut untuk bisa menghargai kebaikan tersebut. Tanpa rasa takut, kebaikanmu hanyalah angin lalu yang tidak akan pernah mereka perhitungkan.