Artikel lama (Deep web) yang dipublikasikan ulang.
Ada satu jenis kalimat yang tidak lahir dari pemikiran yang tenang, melainkan dari luka yang lama dipendam: “Jika segala sesuatu melibatkan Tuhan, maka lebih baik menjadi miskin saja.” Kalimat seperti itu bukan sekadar sindiran, ia adalah vonis terhadap sebuah peradaban pada masa kini yang terlalu mudah menyebut nama Tuhan untuk membenarkan ambisi manusia.
Kita hidup di zaman di mana Tuhan sering hadir bukan sebagai entitas yang maha agung, melainkan sebagai stempel legitimasi. Dalam sejarah kita lalui bersama, nama suci dipakai untuk membangun takhta dan membakar gejolak emosi. Pada masa kekuasaan sering kali berjalan beriringan dengan doktrin. Di banyak negara berkembang, Tuhan tetap dihadirkan dalam pidato politik, dalam sumpah jabatan, dalam slogan kampanye, seolah-olah surga memiliki preferensi elektoral.
Tuhan tidak berubah. Tetapi manusia berubah-ubah dalam cara menyebutnya.
Di sinilah ironi dimulai: semakin sering nama Tuhan disebut, semakin kabur wajahnya dalam hati manusia. Tuhan menjadi bahasa resmi bagi kepentingan pribadi. Ia diseret ke meja perundingan kekuasaan, ke podium kemenangan ekonomi dan Sosiopolitik, bahkan ke dalam pembenaran kebencian. Dan setiap kali manusia mengatasnamakan Tuhan untuk menyerang, menghukum, atau mengucilkan, sebenarnya ia sedang memproyeksikan bayangan dirinya sendiri.
Maka lahirlah kesimpulan pahit: mungkin lebih baik menjadi miskin saja.
Kemiskinan di sini bukan sekadar keadaan ekonomi. Ia adalah simbol keterlepasan. Dalam berbagai lintas agama, ajaran Yesus Kristus, kemiskinan roh disebut sebagai pintu kebahagiaan. Dalam kehidupan Nabi Muhammad saw, kesederhanaan menjadi teladan yang berulang-ulang dikisahkan. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa kesederhanaan dapat berubah menjadi simbol kesucian yang dipamerkan.
“Kemiskinan yang dibanggakan adalah kekayaan dalam bentuk lain.”
Seseorang dapat berkata, “Aku miskin, maka aku lebih dekat pada kebenaran atau kepada tuhan itu sendiri.” Tetapi di dalam hatinya, ia menikmati superioritas moral. Ia memandang orang kaya sebagai kotor, serakah, atau jauh dari Tuhan. Ia membenci kejahatan bukan karena mencintai kebaikan, tetapi karena menemukan musuh yang nyaman untuk dibenci.
Di titik inilah tuduhan paling tajam muncul: manusia terlalu munafik jika ia benar-benar membenci kejahatan.
Kita harus berhenti sejenak pada kalimat ini. Apakah membenci kejahatan selalu munafik? Tidak. Tetapi kebencian sering kali menyembunyikan motif yang lebih gelap. Sebagai ressentiment kebencian yang lahir dari ketidakberdayaan, yang kemudian menyamar sebagai moralitas. Kaum lemah, yang tak mampu menguasai, menciptakan sistem nilai yang menyebut kelemahan sebagai kebaikan dan kekuatan sebagai dosa.
Dalam perspektif ini, kebencian terhadap kejahatan bisa menjadi strategi psikologis. Dengan mengutuk, kita merasa suci. Dengan mencela, kita merasa benar. Dengan menyebut orang lain jahat, kita terbebas dari kewajiban menilai diri sendiri.
Ironisnya, banyak orang yang paling keras mengutuk dosa justru paling takut bercermin.
Kemunafikan bukanlah kebohongan terang-terangan, ia adalah ketidaksadaran yang terorganisir. Seseorang benar-benar percaya bahwa ia membela Tuhan, padahal ia sedang membela egonya. Ia yakin sedang membenci kejahatan, padahal ia hanya membenci ancaman terhadap identitasnya. Ia berkata bahwa ia mencintai kebenaran, tetapi yang ia cintai sebenarnya adalah posisi aman dalam struktur sosial.
Agama, dalam bentuknya yang murni, mungkin adalah pencarian. Tetapi agama dalam tangan manusia sering berubah menjadi struktur. Dan struktur selalu membutuhkan musuh agar tetap kokoh.
Maka lahirlah paradoks yang menyakitkan: Tuhan dijadikan alasan untuk membenci, sementara kebencian itu sendiri tidak pernah dipertanyakan.
Kemiskinan pun tidak menyelamatkan manusia dari paradoks ini. Orang miskin dapat membenci orang kaya dengan dalih moral. Orang kaya dapat merendahkan orang miskin dengan dalih rasionalitas. Keduanya dapat menyebut Tuhan sebagai saksi atas posisi masing-masing. Tuhan menjadi arbitrator imajiner dalam konflik kepentingan manusia.
Barangkali masalahnya bukan pada kekayaan atau kemiskinan, melainkan pada hasrat untuk merasa lebih benar 😂.
Ketika cahaya itu akan dapat menjadi merusak atau jahat ketika ia mencoba menyembunyikan kebenaran, maka kegelapan itu begitu indah jika dirimu dapat menemukan makna dibalik kegelapan itu yang telah menyembunyikan cahaya yang sesungguhnya itu darimu.
Hiburan Kita
Kita tidak tahan pada ambiguitas. Kita ingin dunia terbagi jelas, yang suci dan yang najis, yang beriman dan yang sesat, yang bermoral dan yang rusak. Padahal manusia sendiri adalah campuran dari semuanya. Setiap orang membawa potensi kejahatan dalam dirinya. Setiap orang menyimpan motif yang tidak sepenuhnya murni.
Tetapi mengakui itu berarti kehilangan rasa superioritas. Dan superioritas adalah candu yang paling halus.
Lebih mudah menunjuk ke luar dari pada menelusuri ke dalam. Lebih nyaman menyebut orang lain jahat dari pada menyelidiki kedalaman diri sendiri. Kita menciptakan panggung moral di mana kita selalu menjadi tokoh protagonis. Tuhan dijadikan narator yang selalu berpihak.
Namun jika Tuhan benar-benar ada sebagai kebenaran mutlak, maka Ia tidak membutuhkan pembelaan kita yang penuh kebencian. Ia tidak membutuhkan amarah kita untuk menegakkan keadilannya. Ia tidak memerlukan manipulasi retorika agar tampak menang.
Justru ketika manusia terlalu sering menyebut Tuhan dalam konflik, ada kemungkinan ia sedang menyembunyikan ketidakmampuannya menghadapi realitas tanpa sandaran absolut.
Maka mungkin yang lebih jujur bukanlah memilih miskin atau kaya, religius atau sekuler, tetapi memilih kesadaran. Kesadaran bahwa kita mampu munafik bahkan ketika kita yakin sedang tulus. Kesadaran bahwa kebencian terhadap kejahatan bisa berubah menjadi bentuk kejahatan baru.
Karena sejarah yang telah kita lalui bersama ini akan menjadi penuh dengan tragedi yang lahir dari orang-orang yang merasa paling benar dengan merasa suci atau alim.
Dan di situlah kegelapan paling dalam, bukan pada kejahatan terang-terangan, tetapi pada moralitas yang tidak pernah memeriksa dirinya sendiri.
Sebagian paragraf telah disembunyikan !