You are currently viewing Jadilah tangguh; Dunia itu pada dasarnya tidaklah adil

Jadilah tangguh; Dunia itu pada dasarnya tidaklah adil

Bagikan bila kamu menyukainya

Jangan pernah merasa tanggung di dunia yang sejak mula tidak pernah dibangun di atas fondasi keadilan, melainkan di atas keseimbangan kepentingan yang rapuh dan penuh kepura-puraan semata. Dunia ini bukan medan yang netral, karena kehidupan ini adalah arena tempat topeng lebih dihargai dari pada wajah asli, tempat kelemahan yang terorganisir sering kali lebih berkuasa dari pada keunggulan yang berdiri sendirian. Sehebat apa pun dirimu, setajam apa pun akalmu, setegak apa pun keberanianmu, akan selalu ada suara-suara yang berbisik, lalu berteriak, bahwa kau jahat. Bukan karena kau menghancurkan, melainkan karena keberadaanmu menyingkap sesuatu yang selama ini ingin mereka sembunyikan: “ketakutan mereka sendiri”.

Keunggulan adalah cermin yang kejam. Ia tidak perlu menyerang untuk melukai, cukup dengan berdiri, ia sudah membuat banyak orang gelisah. Mereka yang rapuh tidak membenci kejahatan, mereka membenci perbandingan. Dan perbandingan adalah algojo paling sunyi bagi harga diri yang dibangun di atas ilusi. Maka ketika mereka menyebutmu angkuh, sering kali itu berarti kau terlalu tegak untuk ukuran dunia yang terbiasa membungkuk. Ketika mereka menyebutmu licik, sering kali itu berarti pikiranmu bergerak lebih cepat dari pada kemampuan mereka untuk memahaminya. Ketika mereka menyebutmu jahat, sering kali itu berarti kau menolak untuk menjadi lemah agar mereka bisa merasa kuat.

Di balik tuntutan agar kau “rendah hati” tersembunyi harapan agar kau merendahkan diri. Di balik nasihat agar kau “tidak berlebihan” tersembunyi ketakutan bahwa kau akan melampaui mereka. Dunia mencintai mediokritas karena mediokritas tidak mengancam hierarki yang sudah mapan. Dunia mengangkat slogan kesetaraan, tetapi diam-diam membenci mereka yang benar-benar berbeda. Sebab perbedaan adalah ancaman bagi kenyamanan kolektif.

yang tak pernah diajarkan di sekolah berbunyi demikian:
Yang luar biasa akan selalu dianggap berbahaya oleh yang biasa-biasa saja.
Kebenaran yang terlalu terang akan dituduh membakar.
Dan orang-orang yang tidak berani bertumbuh akan sibuk memangkas mereka yang tumbuh lebih cepat.

Kau hidup di tengah massa yang membutuhkan musuh agar merasa bersatu. Mereka tidak membutuhkan keadilan; mereka membutuhkan kambing hitam. Dalam kerumunan, moral menjadi cair, bisa dibentuk sesuai kebutuhan emosi kolektif. Hari ini mereka memujamu, esok mereka melemparimu dengan batu yang sama dengan tangan yang kemarin bertepuk tangan. Sebab massa tidak setia pada kebenaran; massa setia pada perasaan yang paling mudah dibakar.

Dunia tidak adil bukan karena ia gagal memahami keadilan, tetapi karena keadilan bukan prioritasnya. Yang menjadi prioritas adalah stabilitas ego kolektif. Jika keberanianmu mengganggu keseimbangan itu, maka kau akan dicap ancaman. Jika kecerdasanmu membuat kebodohan terlihat jelas, maka kau akan disebut provokator. Jika integritasmu menolak untuk tunduk, maka kau akan dianggap pembangkang. Dalam dunia seperti ini, menjadi kuat adalah bentuk pemberontakan yang paling sunyi, dan pemberontakan selalu menimbulkan ketakutan.

Mereka ingin kau lemah bukan karena mereka membencimu secara pribadi, tetapi karena kelemahanmu adalah tiket kemenangan bagi mereka. Kemenangan yang tidak diperoleh melalui pertumbuhan diri, melainkan melalui penurunan orang lain. Kemenangan yang tidak lahir dari perjuangan, melainkan dari pengerdilan. Sebab bagi jiwa kecil, mengalahkan yang besar jauh lebih mudah dari pada membesarkan diri sendiri.

Ingatlah satu hal yang jarang diakui, banyak orang tidak benar-benar ingin menjadi lebih baik, mereka hanya ingin orang lain tidak menjadi lebih baik dari mereka. Itu sebabnya ketika kau naik satu tingkat, mereka tidak terinspirasi, mereka terganggu. Ketika kau bersinar, mereka tidak terhangatkan, mereka merasa tersilaukan. Cahaya yang sama bisa menjadi harapan atau ancaman, tergantung pada kedalaman mata yang memandangnya.

Ada tragedi yang terus berulang dalam sejarah yang pernah kita lalui bersama: mereka yang berani berdiri tegak sering kali lebih cepat diadili dari pada mereka yang berani menindas. Sebab penindas memahami cara bermain dalam sistem, sedangkan orang yang tegak sering kali menyingkap cacat sistem itu sendiri. Dan sistem tidak pernah ramah pada mereka yang membuka kedoknya.

Dalam kehidupan ini berbisik dalam kegelapan:
Dunia memaafkan kebodohan selama kebodohan itu patuh.
Dunia mencurigai kecerdasan yang tidak bisa dibeli.
Dan tidak ada yang lebih menakutkan daripada seseorang yang tidak bisa diintimidasi oleh opini mayoritas.

Maka jangan tanggung. Setengah keberanian hanya akan membuatmu terlihat ragu, dan keraguan adalah celah yang paling mudah diserang. Jika kau memilih untuk kuat, kuatlah sepenuhnya. Jika kau memilih untuk jujur, jujurlah tanpa kompromi pada kepura-puraan yang jelas-jelas ingin menelanmu. Dunia mungkin akan membalas dengan tuduhan, gosip, pengucilan, atau pengkhianatan yang dibungkus dengan senyum sopan. Tetapi ingat, tuduhan mereka bukanlah ukuran moralmu; ia hanyalah gema dari ketakutan mereka.

Tidak semua orang ingin kau jatuh karena mereka membencimu; sebagian ingin kau jatuh karena mereka tidak tahan melihat kemungkinan bahwa mereka seharusnya bisa lebih, tetapi memilih untuk tidak. Kehadiranmu adalah pengingat bahwa stagnasi mereka adalah pilihan, bukan takdir. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada menyadari bahwa kegagalan sendiri bukanlah hasil ketidakmampuan, melainkan hasil kemalasan yang dibenarkan.

Di titik inilah dunia menunjukkan wajah aslinya: ia tidak memusuhi kejahatan, ia memusuhi ancaman terhadap kenyamanan. Jika kau cukup kuat untuk mengganggu kenyamanan itu, bersiaplah untuk dianggap berbahaya. Tetapi barangkali memang itulah harga dari keteguhan. Sebab dalam dunia yang lebih menyukai mereka yang merangkak, berdiri tegak sudah cukup untuk dianggap provokatif.

Jangan berharap pengakuan dari mereka yang merasa kecil di hadapanmu. Jangan berharap keadilan dari sistem yang dibangun untuk menjaga keseimbangan ilusi. Dan jangan berharap tepuk tangan dari kerumunan yang hanya bersorak ketika mereka merasa aman. Harapkanlah hanya satu hal: bahwa kau tidak mengkhianati dirimu sendiri demi kenyamanan sementara.

Sebab pada akhirnya, yang paling menghancurkan bukanlah tuduhan bahwa kau jahat, melainkan godaan untuk benar-benar menjadi lemah hanya agar diterima. Itulah kompromi paling berbahaya: ketika kau mengecilkan diri agar tidak mengganggu, ketika kau membodohkan diri agar tidak menyinggung, ketika kau meredam cahaya agar tidak dituduh menyilaukan. Dunia mungkin akan memeluk versi dirimu yang kecil itu, tetapi dengan harga yang mahal, kehilangan integritasmu sendiri.

Dan mungkin, dalam kesunyian setelah semua tuduhan dan keramaian mereda, kau akan memahami satu ironi terakhir: bahwa dunia tidak pernah benar-benar peduli apakah kau jahat atau baik. Dunia hanya peduli apakah kau mengancam atau tidak. Maka jika kau memang harus memilih, lebih baik menjadi ancaman bagi kebodohan dari pada menjadi sekutu bagi kelemahan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak diubah oleh mereka yang bersedia menjadi kecil agar diterima, melainkan oleh mereka yang cukup teguh untuk tetap besar meski dibenci. Dan jika kebencian adalah harga dari keteguhan, maka biarlah ia menjadi bayangan yang mengikuti langkahmu, bukan rantai yang mengikat kakimu.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments