Didalam dalam kehidupan ini kita akan melihat penuh dengan orang-orang yang sedang mengantre untuk terlihat mulia. Namun sadarkah kamu bahwa sering kali tiket masuk menuju kemuliaan itu disediakan oleh kesalahan orang lain? Ada sebuah realita pahit yang jarang dibahas, saat dirimu memilih untuk menjadi “antagonis” atau berbuat jahat, dirimu sebenarnya sedang membagikan panggung gratis bagi siapa saja untuk tampil sebagai pahlawan atau orang-orang memiliki panggung nya sendiri yang dibalut dengan kesucian.
Di era di mana citra diri adalah mata uang digital yang berharga, setiap perilaku buruk yang dirimu tunjukkan adalah peluang bagi orang di sekitar kamu untuk membangun narasi kepahlawanan mereka sendiri. Mereka tidak benar-benar peduli pada konfliknya; mereka hanya membutuhkan momentum untuk membuktikan pada banyak orang bahwa mereka berada di sisi yang benar yang mereka balut dengan agama sekalipun. Jadi, jika kamu tidak ingin menjadi alat bagi pencitraan orang lain, jadilah orang baik. Bukan hanya soal moralitas, tapi soal menjaga kendali atas panggung kamu sendiri.
Kenyataan hidup ini tidak lagi hanya digerakkan oleh pertukaran barang dan jasa, melainkan oleh pertukaran citra. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial yang dibarengi oleh media sosial dan kecepatan informasi, “kebaikan” sering kali berubah menjadi komoditas. Namun ada sebuah realita pahit yang jarang dibahas: kebaikan seseorang sering kali baru bisa terlihat mengilap ketika disandingkan dengan keburukan orang lain.
Pernahkah kamu merasa orang lain mendadak jadi pahlawan saat kamu berbuat salah? Simak mengapa menjadi orang baik adalah langkah cerdas agar tidak memberi ‘panggung’ gratis bagi pencitraan orang lain.
Pernyataan “jadilah orang baik, karena jika dirimu jahat maka banyak orang yang berlomba ikut serta menjadi pahlawannya” bukan sekadar nasihat moral usang. Ini adalah sebuah pengamatan sosiologis (empiris) tentang bagaimana manusia hidup di jaman modern ini mencari “panggung” untuk membangun reputasi. Saat kita melakukan kesalahan, kita sebenarnya sedang memberikan bahan bakar bagi mesin pencitraan orang lain.
Dalam psikologi yang dimanai “manusia itu adalah makhluk sosial”, maka dalam kehidupan sosial, terdapat kecenderungan manusia untuk merasa lebih baik ketika mereka bisa mengoreksi atau menghakimi orang lain. Fenomena ini semakin menguat dengan adanya cancel culture. Ketika seseorang terjatuh dalam perilaku “jahat” atau tidak etis, publik seolah mendapatkan izin kolektif untuk menyerang.
Mengapa mereka berlomba menjadi pahlawan? Jawabannya sederhana: Validasi Sosial. Menjadi pahlawan di atas kesalahan orang lain adalah cara tercepat dan termudah untuk mendapatkan pengakuan tanpa harus benar-benar melakukan kerja keras moral. Kamu tidak perlu membangun yayasan amal untuk terlihat baik; kamu cukup menghujat satu orang yang berbuat salah, dan seketika kamu berdiri di posisi moral yang tinggi (moral high ground).
Jika kita melihat kebaikan dari sudut pandang ini, maka menjadi baik bukan lagi sekadar kepatuhan terhadap norma agama atau sosial. Menjadi baik adalah cara kita menjaga Kedaulatan Diri.
Dengan bersikap baik, jujur, dan berintegritas, kamu menutup pintu bagi orang-orang oportunis untuk memanfaatkan kamu sebagai batu pijakan reputasi mereka. Kamu tidak memberi mereka “celah” untuk melakukan virtue signaling (pamer kebajikan) di atas penderitaan atau kejatuhan kamu. Kebaikan, dalam hal ini, adalah benteng pertahanan paling kuat agar hidup kita tidak dijadikan konten atau bahan bakar pencitraan orang lain.
Didalam kehidupan ini mengapa banyak orang begitu lapar akan panggung? Artikel ini ini perlu menelisik akar eksistensialisme individu tersebut. Di tengah masyarakat yang anonim, orang merasa takut tidak dianggap. Menjadi “pahlawan” adalah cara singkat untuk merasa eksis.
Namun, pahlawan yang lahir dari menjatuhkan orang lain adalah pahlawan yang rapuh. Citra diri yang dibangun di atas fondasi kesalahan orang lain tidak akan bertahan lama karena ia bergantung pada adanya “penjahat” baru. Inilah siklus beracun yang terjadi di masyarakat kita saat ini.
Pada akhirnya, nasihat untuk menjadi orang baik kembali pada satu titik, ketenangan batin dan kontrol atas hidup. Saat kita tetap berada di jalur yang benar, kita tidak hanya menyelamatkan moral kita, tetapi juga menyelamatkan panggung hidup kita dari gangguan para “pahlawan palsu”.
Jadilah orang baik, karena jika dirimu jahat maka banyak orang yang berlomba ikut serta menjadi pahlawannya, karena setiap orang akan membutuhkan panggung untuk dapat membangun citra diri.
Jadilah baik, bukan karena kamu takut dihujat, tetapi karena kamu terlalu berharga untuk dijadikan alat branding bagi mereka yang haus akan pengakuan.